"You can cry on my shoulder. Everything's alright I got you. All the pain is finally over. You can close your eyes."
-You Can Cry by Marshmello, Juicy J, James Arthur
(Pas sedih coba denger lagu itu, pasti makin sedih😂)
🌻
Gadis cantik dengan gaya pakaian casual itu menatap dirinya di depan cermin dengan senyum mengembang. Sore ini, ia dan Riani akan dijemput Angkasa untuk makan malam bersama. Sejak tadi Luna sudah mengacak-acak isi lemari, pilihannya jatuh pada kemeja lengan panjang berwarna dark grey serta rok berwarna pink soft yang menutup kaki jenjangnya sampai batas betis.
Dari kamarnya, Luna dapat mendengar suara Riani yang sedang berbicara dengan seseorang, saat ia melihat ke bawah dari jendela kamarnya, ia melihat sebuah mobil berwarna silver sudah terparkir disana.
Luna segera mengenakan flat shoes kesayangannya lalu turun ke ruang tamu dan menemukan Angkasa yang sudah menunggu bersama Riani. Mereka kemudian menuju rumah Angkasa menggunakan mobil Angkasa. Angkasa duduk sendirian di kursi depan.
Udah kaya supir nih gue.
Meski berkali-kali menggerutu, tapi Angkasa terus mengendarai mobilnya dengan baik hingga sampai di rumahnya yang memiliki pagar besi setinggi dua meter di depannya. Halaman depan rumahnya dihiasi dengan bunga-bunga cantik mulai dari mawar, krisan hingga matahari. Sangat cantik. Tidak sia-sia Miranda rajin merawat tanaman-tanaman itu.
Setelah membuka pintu rumahnya, Angkasa segera mempersilahkan Luna dan Riani untuk duduk di ruang tamu lalu memanggil Miranda yang sedang membantu asisten rumah tangganya menyiapkan makan malam.
Titania yang sedang menuruni tangga sambil memakan coklat segera berlari menghampiri Luna dan bersalaman dengan Luna serta Riani.
“Tante, ini Titan adiknya Angkasa.”
Titan adalah panggilan kesyangan Angkasa untuk Tania yang bahkan sangat tidak gadis itu sukai.
“Tania aja manggilnya, Tante. Kak Angkasa suka rese emang," ucap Tania sepelan mungkin sambil melirik sebal ke arah Angkasa.
“Kak Lunar, makan malamnya belum siap kayaknya. Ke kamar aku dulu yuk!”
Melihat antusiasme Tania, Luna ikut tersenyum. Ia mengikuti Tania ke kamarnya sementara Riani ke dapur untuk menyapa Miranda.
Tania adalah gadis ceria yang ketika ia tersenyum maka orang terdekatnya bisa ikut tersenyum. Dan sejak berkenalan dengan Luna, gadis itu selalu saja memanggilnya Lunar. Biar lebih manis, katanya. Luna hanya terkekeh saat melihat Tania yang memasuki kamarnya sambil bernyanyi riang seperti balita.
Kamar Tania didominasi warna merah muda dengan tokoh strawberry shortcake yang menjadi tokoh utama dalam desain kamar Tania. Mulai dari bed cover, wallpaper dinding, hingga lusinan boneka strawberry shortcake yang mendiami sebuah etalase khusus dan tempat tidur Tania. Dan yang membuat Luna menggelengkan kepala adalah, puluhan poster member salah satu boy band terkenal negeri ginseng, Bangtan Boys.
“Kak Lunar mau cokelat?”
Luna yang sedang sibuk mengamati desain kamar itu menoleh pada Tania yang sudah mengulurkan satu batang cokelat.
“Oleh-oleh Tanteku dari Paris.” Cengiran lebar cewek itu tercipta, Luna yang melihatnya pun ikut menarik sudut bibirnya ke atas.
Luna menerima cokelat berlogo brand ternama itu dengan senang hati lalu memakannya sambil duduk di tepi tempat tidur Tania, di samping gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNARIA [SUDAH TERBIT]
Teen Fiction[COMPLETED] "Kita adalah dua bintang dari rasi berbeda yang sayangnya memiliki luka yang sama." -Lunaria Kisah tentang Luna yang diam-diam memiliki ketakutan terhadap hujan, sejak kehilangan menyakitkan yang me...
![LUNARIA [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/177400962-64-k50325.jpg)