7. Dimana?

55 5 2
                                        

Tujuh hari berlalu. Selama itu pula Steffi tidak menemui Iqbaal seperti biasanya dan hal itu membuat Iqbaal uring-uringan. Biasanya,Steffi akan menyapanya dan mengajaknya ngobrol hanya untuk mendekati Iqbaal. Namu sekarang,entah kemana gadis itu sehingga dia tidak datang lagi ke kafe ini. Pernah sekali Iqbaal berniat ingin menghubungi Steffi menanyakan dimana keberadaan gadis itu. Tapi niatnya diurungkannya kembali lantaran gengsinya yang terlalu besar.
Seperti saat ini,Iqbaal memposisikan kepalanya di meja yang sering Steffi tempati sambil melihat ke arah pintu. Dia tidak ingin bertugas hari ini,toh kafe ini juga miliknya. Jadi terserahnya mau bertugas atau bersantai seperti sekarang ini.

Sedangkan Steffi,dia baru saja selesai mengerjakan soal-soal simulasi ujiannya. Yap! Selama tujuh hari ini Steffi disibukkan dengan simulasi untuk UN nya yang akan dilaksanakan pada bulan April mendatang. Salsha,yang melihat Steffi tersenyum senang setelah keluar dari ruangan ujian pun menatapnya aneh.

"Tep? Lo gak kesambet kan?" Tanyanya to the point.

"Eh ha? Maksud nya Ca?" Tanya Steffi bingung dengan apa yang dikatakan Salsha.

Salsha mendengus dan menyentil dahi sahabatnya itu. "Dasar bego! Gue nanya lo kenapa?"

Steffi mendelik kesal ke arah Salsha dan mendengus setelahnya. "Elu yang bego! Tadi kan lu nanyanya gue kesambet apaan,bukannya gue kenapa." Ujarnya kesal.

Salsha menatap jengah ke arah sahabatnya ini. Terus,kalau dia sudah tau apa yang ditanyakan Salsha kepadanya,kenapa dia kembali bertanya? Karena tidak ingin berdebat,Salsha memilih diam dan menoyor kepala Steffi sebelum akhirnya berlari meninggalkan Steffi.

"Woy Ca! Tungguin guee!" Steffi berteriak dan mengejar Salsha yang tertawa mendengar teriakan Steffi. Seenggaknya,gue masih bisa ketawa bareng sama lo,Tep. Salsha berucap dalam hati dan berlari meninggalkan Steffi.

Di parkiran,Alex menunggu Steffi selesai simulasi untuk menjemputnya pulang. Saat akan menghubungi Steffi,dia mendengar teriakan Steffi dan tawa dari Salsha yang sepertinya akan menuju parkiran. Dan perkiraan Alex benar,Steffi dan Salsha berlari ke arah parkiran dengan tawa dan teriakan yang masih dipertahankan mereka walaupun Alex sudah menatap tajam keduanya.

"Mora! Caca! Udah! Buruan masuk mobil,jangan lari-larian lagi." Ucap Alex memperingati keduanya.

Namun,bukan Steffi dan Salsha namanya kalau mereka langsung menurut dengan perintah Alex. Mereka tetap berlari layaknya anak kecil. Tak berselang lama,Steffi terdiam di tempat dan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Alex yang melihatnya langsung berlari mengejar Steffi dan menangkap tubuh Steffi yang sudah pingsan tepat saat Alex sudah berada di dekatnya. Salsha yang tidak mendengar teriakan Steffi lagi pun menoleh ke belakang dan terkejut saat Steffi sudah pingsan. Alex mengangkat tubuh Steffi dan memasukkannya ke dalam mobil diikuti oleh Salsha.

"Tepi kenapa bang?" Tanya Salsha saat kepala Steffi sudah berada dipangkuannya.

"Abang gak tau,Ca. Sekarang kita ke rumah sakit dulu." Alex langsung menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan pekarangan sekolah.

Salsha teringat tentang penyakit Steffi,seketika dia menangis kencang dan memeluk tubuh Steffi. Alex mengerti mengapa Salsha menangis histeris seperti ini.

"Abang kan udah bilang,Ca. Jangan lari,tapi kamu sama Steffi gak dengerin omongan abang." Lirih Alex yang masih bisa di dengar oleh Alex.

Salsha semakin terisak mendengar ucapan Alex. "Maafin Caca,bang. Ca--Caca gak tau kalau Steffi gak boleh capek. Ini semua salah Caca. Iyaa! Ini salah Caca! Caca ngebunuh sahabat Caca sen--diri,Caca pembunuh bang,pembunuh!" Teriaknya dengan tangisnya yang semakin pecah. Dia merutuki kebodohannya dan memeluk tubuh Steffi dengan erat.

About LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang