Side 5

1.9K 305 1
                                    

Cute Side: Dia tidak peduli apapun selain kucing.

Samatoki hanya menatap datar (Name) yang sedang memasang sepatunya, dengan dirinya bersandar di pintu masuk apartemen. (Name) yang menyadari tatapan Samatoki hanya tersenyum dan fokus memasang sepatunya—mengingat mereka berdua akan pergi. Namun (Name) hanya bisa memiringkan kepalanya saat melihat Samatoki tidak bergerak dari posisinya.

"Ada apa, Samatoki?" tanya (Name).

"Tidak ada apa-apa," jawab Samatoki, tak bergerak dari posisinya.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" tanya (Name) berusaha mendorong Samatoki keluar dari apartemen—namun gagal total, "kafenya akan segera penuh jika kita tidak berangkat sekarang."

Seperti yang (Name) ucapkan, mereka akan pergi ke kafe—kafe kucing, seperti biasa. Samatoki hanya bisa mengerutkan alisnya saat melihat (Name) berusaha mendorongnya keluar.

"Apa kau pikir aku bodoh?"

"Eh?"

(Name) mengangkat kepalanya untuk menatap Samatoki, namun dikejutkan oleh punggung tangan Samatoki yang menyentuh kening (Name). Sensasi dingin dapat (Name) rasakan dari punggung tangan Samatoki, namun hal yang sebaliknya justru Samatoki rasakan.

"Kau mau pergi ke kafe berbulu itu dengan keadaanmu yang seperti ini?"

"Eh, aku tidak apa-apa kok—"

Ucapan (Name) terpotong oleh suara decakan lidah Samatoki, dan laki-laki itu langsung mengangkat (Name) dengan gaya tuan putri—mengagetkan perempuan itu.

"Tarik ucapanku tadi, kupikir kau menganggapku bodoh, ternyata kaulah yang bodoh," komentar Samatoki berjalan menuju kamar (Name).

Sesampainya mereka disana, Samatoki langsung meletakkan (Name) diatas kasur dan melepas sepatu yang (Name) pakai. Tidak sampai disana, Samatoki langsung menyelimuti (Name).

"Samatoki—"

"Istirahat, hari ini kita tidak akan kemana-mana."

(Name) mengerutkan alisnya.

"Bagaimana dengan promo hari ini di kafe itu? Promo itu hanya ada hari ini," ucap (Name) berusaha bangkit dari kasur.

"Jika kau benar-benar menginginkan promo itu, istirahat," titah Samatoki, "akan kuancam pemilik kafe itu mengadakan promo itu lagi saat kau sudah sembuh."

Wajah (Name) memucat.

"Kau tidak perlu sampai sejauh itu, Samatoki—"

"Lalu apa yang harus kulakukan agar kau mau beristirahat dan mendengarkanku!?" sambar Samatoki memotong ucapan (Name), "kenapa kau begitu keras kepala!?"

(Name) berkedip beberapa kali, ekspresi terkejutnya perlahan melembut—dan dia hanya bisa tersenyum di balik selimut yang menutupi dirinya hingga setengah wajahnya.

"Maaf, Samatoki."

Samatoki terdiam, kemudian dia membuang pandangannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Tidak—maafkan aku, (Name). Aku yang keterlaluan, sampai menaikkan suaraku."

"Aku akan beristirahat," ucap (Name) menutup matanya, "dan aku tidak akan berulah sampai benar-benar sembuh."

"Bagus, kalau begitu. Akan kusiapkan obat dan makanan untukmu."

"Terima kasih, Samatoki—ah, dan jangan mengancam kafe kucing, ya?"

"...."

Problem Side: Termasuk kesehatannya sendiri.

Her Obsession (Aohitsugi Samatoki)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang