aku mencoba melihat dengan sengsara.
rokok-rokok yang memainkan musik-musik lama. bagai soneta tua dan botol-botol bir kosong yang beku.
orang-orang di jalanan kota seolah orang asing yang aku temui secara tiba-tiba. tubuh ini membakar habis kepalaku di barisan manusia-manusia kesepian.
Pak Kondektur memanggil-manggil namaku yang biasa orang asing ejek. ia tak pernah berhasil mengeja namaku. ia hanya bisa mengeja namaku yang itu dan bertanya tentangku yang dulu.
orang-orang memberikan tanda tanya di bangku-bangku kosong, di meja tua yang kutulisi puisi-puisi tentang aku.
di kedai-kedai sepi itu pengunjungnya hanya aku. duduk diam di sana dengan sepasang kaki yang kelewat sepi. suatu hari aku akan mengajak diriku ke amfiteater tua. suatu hari aku akan membacakan tulisan Roald Dahl keras-keras di kamarku. aku akan kembali ke masa kecil di teras depan.
aku akan menemukan diriku yang dulu; di baris-baris perut jalan, di ruas-ruas persimpangan, di dalam stanza-stanza kesengsaraan. aku akan berkarat menua di kursi taman bersama tubuhku yang renta.
mereka tidak pernah berhenti menyebut namaku sebagai orang yang tak pernah selesai dengan ceritanya.
aku selalu mengeja namaku agar benar. barangkali aku salah menemukan poto tua yang menjelma wajahku. aku mati di kepalaku dengan sebaris puisi-puisi lama yang diterjemahkan dalam bahasa jauh yang telah kulupa namanya.
Lemahabang, 2019
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Laung
Puisila·ung [k.s] suara yang kuat (nyaring) yang diteriakkan (untuk memanggil atau menyeru) cover illustration by Kevin Lucbert
