Planning

4 5 0
                                    

"Jadi mau bicara apa? Sejak tadi kau hanya sibuk dengan ponselmu. Park Jimin kau menghabiskan waktuku!"

Jimin mengukir senyum lebarnya, "Maaf, Mi. Aku harus memberikan point yg harus dibahas wakilku di dalam rapat nanti."

"Jika sibuk, lebih baik kau pergi."

Jimin mengibaskan tangannya, "Sudah selesai. Ini yg lebih penting menurutku."

"Ahrin."

"Santai saja, tidak perlu setegang itu." ujar Taehyung menepuk nepuk pelan bahu Ahrin.

Gadis itu sepertinya sama sekali tidak merasa nyaman berada diantara ketiga sunbaenya.

"Yyya, Sunbae."

"Kau sudah tak lagi memberinya kuemu?"

Ahrin menggeleng.

"Kenapa?" lanjut Jimin.

"Tak apa. Hanya belum sempat lagi saja." ujar Ahrin memaksa senyumnya.

"Tak sempat atau tak ingin?"

"Eonni..."

"Jawab saja pertanyaanku. Tak sempat atau memang tidak mau?" Aemi mengulang pertanyaannya.

"Tidak mau."

Hanya Taehyung yg mampu mendengar, karena posisinya berada di samping Ahrin. Ia terkikik kecil.

"Apa Tae? Dia bicara apa?"

"Tidak aw! Mau. Sakiittt, Rin!"

Taehyung tetap melanjutkan kalimatnya saat sebuah cubitan mendarat di pinggangnya.

"Tidak mau? Kau takut jika Lui mengklaim cupcakemu lagi?"

Ahrin masih diam.

"Ahrin, sekarang kau pahamkan maksudku waktu itu?"

Plak.

Satu pukulan mendarat di punggungnya.

"Park Jimin. Kau sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya?!" omel Aemi.

Jimin meringis, perih menjalar di punggungnya yg ia rasa pasti memerah.

"Mi, sakit. Kenapa kau selalu kejam padaku." keluhnya.

"Itu karena Aemi dan Jimin belum menyelesaikan urusannya di masa lalu. Itu saja tidak paham, payah." ejek Taehyung.

"Urusan? Urusan apa Sunbae? Memang mereka pernah dekat dulu?"

Yg sejak tadi diam, kini mulai bertanya dengan mengeluarkan semua rasa penasarannya.

Taehyung tersenyum, itu tandanya Ahrin sudah mulai tenang. Karena ia sudah mampu berbicara panjang seperti itu.

" Sangat dekat. " bisik Taehyung.

" Seperti apa? "

" Rin, Close your mouth! Kita lagi bahas kamu, bukan aku!"

Ahrin mengatupkan kedua belah bibirnya.

"Jadi bagaimana solusinya?"

Aemi yg bertanya, ia ingin sekali cepat keluar dari suasana yg mulai canggung ini.

"Tanyakan pada juniormu, bukan aku kan yg dirugikan si wanita albino itu." ujar Jimin saat ia merasa Aemi menyudutkannya.

Tentu saja Jimin merasa begitu, Aemi bertanya hanya padanya saja. Menatapnya tajam, padahal yg berperan kan Ahrin, bukan dia.

"Santailah kalian. Ahrin, bagaimana maumu sekarang?"

Taehyung ikut mengulang pertanyaan Aemi, ia juga tidak mau masuk ke suasana awkward milik mereka berdua.

"Tidak ada. Biarkan saja, Namjoon sunbae juga selalu tersenyum saat bersama Lui."

"Ck, jangan sok berlapang dada saat hatimu sakit, Rin. Kau harus memperjuangkan usahamu selama ini."

Jimin sepertinya sedang menahan dirinya agar tak lagi lepas seperti kemarin dan berakhir membuat Ahrin kembali menangis. Terlebih ada Taehyung dan Aemi.

"Apa? Maaf Sunbae. Tapi sejak awal memang aku tidak mengharap apapun, aku memberikannya karena ingin saja. Tidak yg lain, apalagi pengakuan. Tentu sangat jauh dari itu." tutur Ahrin.

"Kau itu manusia, bukan robot. Tentu mau direpotkan dengan hal itu pasti ada alasannya, bukan sekedar ingin. Astaga! Jung Ahrin! Aku kesal padamu." omel Aemi, ia menyentil kening Ahrin karena gemas.

Ringisan kecil terdengar dari si korban penyentilan.

"Kau yakin membiarkan Sunbaemu itu di bodohi oleh Lui?"

Ahrin menggeleng.

"Lalu, yg kau mau bagaimana? Kami membantumu. Kau tak perlu takut pada Lui, aku tau jika kalian sering mendapat kelas yg sama." sambung Taehyung.

"Aku tidak tau harus apa." lirih Ahrin.

"Lakukan seperti biasa, tapi tanpa sembunyi. Aku yakin Sunbaemu itu tau mana cupcakemu mana yg bukan." usul Aemi yg diangguki Taehyung.

"Aku bantu eksekusinya." timpal Jimin.

"Sudah, iya saja. Hasilnya nanti, jangan terlalu dipikirkan. Terpenting itu dia tak lagi dibodohi, walau memang bodoh." ujar Taehyung yg tau jika Ahrin masih sangat ragu akan rencana ini.

"Kenapa kau memilih jadi secret admirer sih? Padahal Taehyung sangat memahamimu." celetuk Jimin.

Bagus Jim, Ahrin tersedak es teh manisnya saat ini. Taehyung tertawa hambar, dan Aemi mengulang pukulannya lagi di punggung si pemuda mini itu.

Mini untuk Taehyung, sebaya bagi Aemi, dan tinggi jika bersebelahan dengan Ahrin.




































JungRin

JungRin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

▪️▫️

▫️▪️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

▫️▪️

JungRin Memang yg terlihat belum tentu itu faktanya. Adakalanya juga kita harus mampu meneliti secara rinci kebenerannya dengan hampir sedikit mencurigai orang lain. Seperti kalian...

Kalian tuh keliataannya gak pernah akur. Selalu sinis satu sama lain juga, tapi sebenernya bisa kompak! Kek punya 3 kakak jadinya, Terima kasih Sunbae VTae  JimsPark AemKim. Semoga Tuhan selalu membahagiakan kalian dan semoga juga urusan yg dulu selesai dengan baik.

P. S untuk slide kedua, aku cuma di suruh post itu oleh VTae sunbae. 😢 Jangan apa apakan aku... 😭

CupcakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang