01: pangeran sekolah

1.7K 251 16
                                    

pangeran sekolah.

itu nama panggilannya. aku tidak akan sok menolak atau merasa jijik dan anti dengan nama panggilan itu, karena menurutku sebutan itu memang pantas diberikan kepada orang itu.

kim mingyu.

siapa yang tidak kenal dia?

siswa yang selalu ranking tiga besar paralel, siswa yang parasnya rupawan seperti idola yang suka kulihat di televisi. siswa yang selalu memakai jaket ke sekolah, siswa yang ketampanannya tidak realistis itu, aku tidak yakin sebenarnya ia benar-benar nyata apa tidak.

dia pintar, iya. sudah bukan anggota osis karena suatu alasan yang tidak aku ketahui, tapi seorang ketua kelas yang cerdas. petugas tata tertib favorit sekolah, dimana para siswi rela datang terlambat demi melihat sang pangeran sekolah menegur mereka.

nekat.

aku terlalu sering mendengar namanya disebut-sebut oleh orang-orang di sekolah, sampai rasanya telingaku bosan mendengar namanya terus menerus. lagi dan lagi, hari demi hari, mingyu dan mingyu.

tapi maklum, mingyu adalah topik yang murid-murid anggap keren dan patut dibahas. ia selalu membuat para orang-orang terpukau oleh hasil karyanya di mading atau penampilan dadakannya di tengah kantin serta saat di pensi sekolah.

laki-laki itu sekelas denganku, namun aku tidak menyangka ia mengetahui tentang eksistensiku di sekolah ini.

tadi ia memanggilku, kan? aku tidak salah dengar?

baiklah mungkin itu terlalu berlebihan, maksudku... jarang sekali... hampir tidak pernah ada murid yang memanggil namaku untuk sekedar meminta tolong atau berbincang bersama.

tak ada yang menganggapku.

"hei, sini!" serunya lagi, namun aku masih ragu apa dia benar-benar berbicara padaku. padaku? si pangeran sekolah? yang benar saja?

mungkin dia ingin menjadikan aku babu atau semacamnya?

ah, tidak apa-apa. setidaknya ada yang membutuhkanku.

aku mengambil langkah demi langkah ke arah mejanya tanpa mengatakan apa pun secara batin mau pun lisan. ia sedang duduk sendirian, sepertinya ia sudah selesai makan, melihat piringnya yang sudah bersih.

"kok diam saja?"

aku mengernyit untuk kedua kalinya saat aku menghentikan langkahku tepat di sebelah mejanya. dia ingin aku bicara? yang benar saja? lagi pula, untuk apa?

"ayo, duduk disini. tidak ada tempat lagi kan?"

dan senyumannya setelah ia selesai dengan kata-katanya itu, membuat aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam diriku.

aku tidak sadar, bahwa aku sebenarnya bukan hanya sekedar mengagumi kim mingyu lagi, tapi jatuh cinta padanya.

dengan si pangeran sekolah.

Untold  ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang