05: dream tree

1.1K 210 19
                                    

"ayo, cepat!" serunya untuk yang ke sekian kalinya, dengan tangan yang menggenggam tangan mungilku erat-erat, menyeretku ke sebuah tempat.

"ada apa sih, mingyu..." ujarku malas-malasan, sama sekali tak berniat melangkah.

angin menerpa wajahku, dan surai rambutku mengenai setengah wajahku. aku kesulitan menahan rambutku yang terkena angin dengan tanganku, namun gerakanku terhenti saat tiba-tiba mingyu melepaskan genggaman tangannya dan beralih menyentuh rambutku.

"ah, anginnya kencang sekali."

ia menyisirnya pelan, dan mengikatnya dengan ikat rambut yang ia ambil dari pergelangan tanganku.

mingyu mengikat rambutku dengan perlahan, sangat hati-hati, seperti menganggap rambutku adalah kaca yang mudah pecah. "maaf ya, kalau tidak rapi."

tanpa aku sadari, aku membeku dan menatap kosong ke depan, belum yakin apakah aku sudah bangun atau masih tertidur di kasurku.

tap.

tapi sepertinya aku sudah bangun, saat aku bisa merasakan tangan mingyu menyentuh pipiku. tangannya dingin sekali. mungkin karena hawa dingin hari ini.

"hei. kenapa?"

aku mengerjap mataku, buru-buru menggeleng. mingyu malah tertawa, membuat pipiku rasanya memanas. manis sekali, sialan.

"itu, lihat." dia menunjuk ke arah jam dua belas, antusiasmenya sangat terlihat.

"apa—"

aku menengok dan pupil mataku melebar saat aku memandang sebuah pohon di depanku. pohonnya cukup besar, dan digantung banyak kertas di tiap ranting-rantingnya. rindang, indah, nampaknya sangat kokoh.

"apa itu?"

"pohon impian." balas mingyu disusul senyumnya. "tulis apa impianmu, keinginanmu, harapan- ah maaf itu sinonim. pokoknya, tulis di kertas dan gantung di ranting pohon itu."

aku bergeming, pandanganku masih melekat pada pohon itu.

"banyak murid yang sudah melakukannnya, ayo kita tulis permohonan kita juga!" ajak mingyu dengan penuh semangat.

"untuk apa? tidak penting." aku menggeleng, "tidak usah, mingyu. ayo pulang."

"seoyun, sekali saja." bibir mingyu membentuk bulan sabit yang terbalik, menunjukkan jari telunjuknya di udara, menatapku dengan pandangan memohon.

aku menghela nafasku, menutup mataku sejenak. dasar, anak ini tahu cara membujukku. "baiklah."


"apa yang kamu tulis?" mingyu bertanya. ia berhenti dari aktivitas menulisnya dan menopang dagunya, menghadap ke arahku.

"aku?" aku membaca ulang tulisanku, lalu menjawabnya, "ingin punya teman."

"loh, lalu aku siapa?!"

"kamu? kamu kim mingyu." jawabku datar.

"bukan, maksudnya, aku! aku, aku bukan temanmu?" matanya menunjukkan sorot kecewa.

"memangnya sejak kapan kamu temanku?"

"sejak kita pertama bertemu!"

"bahasamu... kok kayak lirik lagu, sih?!"

"seoyun, kamu tidak pernah menganggapku?"

aku terdiam. jadi mingyu juga menganggapku teman? sebentar dipikir-pikir... benar. kita dekat sekali. sangat dekat.

"kejam..." lirihnya.

"memangnya kita teman?"

"aku berharap lebih!" ia berseru, merespon pertanyaanku secepat kilat.

"sahabat?" aku sedikit memiringkan kepalaku.

"lebih... sedikit..." ia menggaruk kepalanya, mengalihkan tatapannya dariku.

"ayo, mau?"

"APA?" ekspresinya berubah menjadi terkejut. ia melongo, kedua pupil matanya membesar, menatapku.

"ya? jadi... teman?" aku mengangkat kedua pundakku.

"oh..." ia ber-oh-ria, manggut-manggut. memangnya ada yang salah dalam omonganku?

"yah, sebenarnya aku sudah menganggapmu teman dari lama, gyunie." ujarku.

"wah. terima kasih. ngomong-ngomong, panggilan itu lucu juga." ucap mingyu, mengembangkan senyumnya.
"kamu tidak bercanda, kan?"

"tentu saja. ya sudah, akan kuganti tulisannya. apa, ya? ah. ranking tinggi dan bisa membanggakan orang tua." aku langsung menghapus tulisan di kertas itu, berniat menulis hal lain.

mingyu melipat kertas yang ada di tangannya, "baiklah."

"kalau kamu?"

mingyu mengangkat kedua alisnya, "iya?"

"apa keinginanmu? apa yang kamu tulis?"

butuh beberapa waktu baginya untuk terdiam sebelum ia menghela nafas kemudian berbisik pelan, "sehat."

Untold  ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang