Gerentang pagi di kamar membangunkan Dipa. Baru juga satu jam dia bisa memejamkan mata, sudah harus terjaga oleh si teledor Aru. Kaki dan tangannya yang panjang mungkin susah dikendalikan, menyenggol apa pun di sekitar dan menimbulkan keributan.
Dipa mendesah kesal. Hari ini mereka kelas siang. Apa yang dilakukan Aru pagi-pagi buta begini? Biasanya dia juga masih tergeletak tidak bernyawa. Tumben pagi ini berbeda.
"Ru, kamu mau kemana? Ini masih pagi ...."
Pandangan Aru hanya sekilas melihat ke arah Dipa, dia tersenyum sedikit, kemudian kembali berdendang. Dasar aneh.
Dipa tidak tahu saja, sejak semalam Aru sudah merencanakan banyak hal yang ingin dia lakukan hari ini. Dulu, banyak hal yang tidak bisa Aru lakukan karena harus selalu bersama dengan Dipa.
Seperti lari pagi, Dipa tidak suka, membuatnya berkeringat, dan waktunya? Tidak cocok untuk Dipa.
Menonton film di bioskop? Dipa tidak bisa, terlalu ramai. Kepalanya bisa pusing nanti.
Atau, jalan-jalan? Mendatangi satu persatu restoran yang masuk dalam direktori restoran di kota mereka. Ah, tidak juga. Hanya Aru yang suka makan, sedangkan Dipa? Dia butuh makan, jadi dia hanya akan makan jika sudah merasa lapar.
Dan banyak lagi lainnya.
Wajah Aru cerah, dia sangat bahagia. Dipa bisa melihatnya, tapi entah kenapa hatinya sakit. Seolah Aru adalah burung yang baru bebas dari sangkarnya, dari Dipa.
Apakah selama ini Aru merasa begitu terkekang oleh keberadaan Dipa? Pada keadaan mereka yang saling bergantung satu sama lain.
Mulai muncul sebuah lubang besar, hitam, dalam hati Dipa. Rasanya sakit, hampa karena sebagian hilang dari sana. Menyebabkan sesak tanpa alasan. Hampir saja air mata Dipa menetes, jika tidak dia alihkan dengan candaan ringannya tentang Mega.
"Pergi dengan Mega?"
Dipa berusaha tidak menampakan rasa gelisahnya, dia tidak ingin merusak suasana hati Aru. Dia bangun dari tidurnya dengan kepala berat. Duduk lesu, dengan kaki bersila di atas ranjang. Menanti jawaban Aru dengan senyum yang dipaksakan.
"Ehmm, begitulah. Kita janji bertemu di taman setelah lari pagi Dip. Ikut?"
"Dan melihat adegan menggelikan kalian? Tidak, terima kasih."
Kenapa rasanya begitu berat Tuhan? Kenapa Dipa tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan yang Aru rasakan? Seandainya dia bisa berbagi dengan Aru seperti sebelumnya, pasti rasanya tidak akan sesesak ini.
"Ok, kalau begitu tetaplah di kamar Dip! Sampai papi dan mami berangkat kerja."
"Kok gitu?"
Kabar baik ini memang belum ingin Aru bagi dengan kedua orang tuanya. Dia ingin menunggu saat yang tepat. Saat dia benar-benar yakin jika semuanya telah berubah, baik Dipa juga dirinya telah dalam kondisi sehat betul.
Tidak ada sedikit pun prasangka buruk yang terlintas dalam otak Aru. Tidak seperti Dipa yang sempat meragukan ketulusan ayah dan ibu Aru yang telah menganggapnya sebagai putra kandung mereka sendiri.
Aru yakin, kedua orang tuanya akan ikut bahagia jika mendengar kabar baik ini. Mereka tidak sepicik itu, dengan mudahnya mengusir Dipa karena putra mereka tidak lagi membutuhkan kehadirannya.
Ayah dan ibunya tidak serendah itu, Aru yakin.
Namun, Dipa ragu. Dia bukan siapa pun di rumah itu. Tidak ada setetes darah pun yang menghubungkan mereka. Tidak ada.
"Nanti kita kasih tahu barengan, Dip. Mereka pasti kaget saat tahu kita berdua sudah benar-benar sembuh."
Dipa makin merasa bersalah. Dia bahkan meragukan ketulusan ayah dan ibu Aru. Dipa semakin merasa tidak pantas untuk tetap tinggal di rumah mereka, untuk tetap menikmati kasih sayang yang mereka berikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
CHEMISE (Complete)
Short Story"Bangunlah Andaru Jaya! Aku sudah di sini sekarang." "Si ... siapa kamu?" "Dipa, Dipa Estu Jatmika, kamu butuh otakku, dan aku membutuhkan detak jantungmu. Kita saling membutuhkan sekarang." A big love to @ramviari for create this beautiful cover 😍...