IV.istanah

18 1 0
                                    

Hanya menempuh jarak kurang lebih tiga kilo meter terlihat sebuah mension megah dengan desain ala eropa yang benar-benar memanjakan mata,dengan warna putih serta gold yang mendominasi sangat mencerminkan sebuah kemewahan serta keindahan

"Udah sampe sini aja ki"minta langit kepada oki untuk berhenti di depan gerbang rumahnya saja

"Loh kok cuman di depan gerbang biasanya juga masuk " tanya oki dengan bingungnya

Karena memang biasanya mereka akan mengantarkan langit ke dalam tidak hanya di depan gerbang

"Udah ga pa pa lo kan juga harus pergi, dah sana pergi makasih ya dah mau anterin gue pulang " alibi langit agar oki tak bertemu kakak nya

"Ok ok kalau gitu, gue langsung balik ya"

"Iya hati-hati"

Suara deru motor yang meninggal kan mension mewah yang malah meninggalkan kesunyian untuk seseorang yang hendak memasuki bangunan megah ini

Dipertengahan jalan tepatnya di dekat tangga terlihat seseorang yang bahkan tak pernah mau menatapnya bahkan menyapa pun hampir tak pernah

Kecuali jika untuk menyuruh atau pun memarahi, terlepas dari itu semua dia yang di sebut abang oleh langit tak akan pernah memandangnya dengan semestinya melainkan selalu memandangnya rendah seolah dia merupakan sesuatu yang tak layak untuk di pandang

Saat telah sampai di dekat tangga langit menyapa abangnya hanya untuk memastikan bahawa tak ada masalah yang terjadi "bang alex ga pa pa kan" sambil memegang pergelangan tangan alex

"Singkirin tangan lo dari gue j*l*ng" ditepisnya tangan langit dengan sekuat tenaga "minggir lo"

Didorong dengan kuat nya tubuh ringkih itu hingga menghantam pinggiran tangga yang menimbulkan warna biru yang ketara dengan segaris darah yang keluar

Dan bukannya membantunya untuk berdiri alex malah meninggalkan nya begitu saja seolah tak pernah terjadi apa-apa yang malah kembali menambah luka yang ada pada dirinya, walau pun tak terlihat tetapi begitu menyakitkan dan akan sulit untuk di sembuhkan

"Maaf bang"lirihnya sambil memukul -mukul dadanya untuk mengurangi sesak yang ada pada dadanya akibat kata-kata yang diucapkan abangnya dengan santai bagaikan itu merupakan sebuah kata yang pantas untuk dikatakan kepada seseorang

Dengan langkah pelan menaiki anak tangga itu sambil terus meremas dadanya serta menatap nanar tangga yang iya naiki seolah tangga itu pun tak dapat menaikan derajat dirinya di mata abang nya

Saat sampai pada pintu berwarna biru toska yang digradasi oleh warna navy dengan tulisan langit di depan pintu, warna yang menurut sebagian orang akan sangat mewarnai semua yang melihatnya, tetapi itu tak berlaku bagi sang pemilik kamar

Langit memasuki kamar yang luasnya lima kali lima meter itu dengan keadaan kacau, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirya luruh semua membuat anak-anak sungai pada wajah ayu nya

Dia yang selalu ceria nyatanya memiliki banyak luka. Langit dia seseorang yang tak pernah menunjukan kesedihannya sekarang hanyalah seorang anak yang rapuh yang hanya bisa menangis dalam kesendiriannya

Tangis yang mungkin bagi sebagian orang amat sangat menyakitkan, tangis yang tak memiliki suara seperti itu lah tangisan langit

"Kenapa harus aku yang disalahkan, kenapa bukan dia. Kenapa harus aku yang tersakiti tapi dia tidak, bahkan kita dulu sama-sama tau apa yang terjadi sebenarnya " keluh langit dengan pandangan kosong yang menatap hamparan taman bunga beraneka warna itu

"Aku cape, apa boleh aku meninggalkan mereka sekarang. Apa mereka akan senang jika aku mati?" Ucapnya sambil memegang sebuah cuter yang selalu menemani nya saat penyakit itu kambuh

Langit Dirgantara Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang