THE DORM (Count Down)

137 7 0
                                        

3

2

1

Hampir sebulan sudah Ririn keluar dari rumah sakit, dan dia tidak memberitahu penyakitnya. Walaupun ia sudah masuk rumah sakit saat itu, anehnya para member tidak tahu apapun tentang penyakitnya yang semakin liar dan ganas bersarang di tubuhnya.
.
.
.

"Jin hyung, kenapa kau mengajak kita berkumpul disini? Oh iya, dimana Ririn?" Tanya J-Hope bertubi-tubi. Senyum J-Hope memudar saat melihat Jin menatap mereka semua dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ada apa?" Tanya Taehyung yang menyadari keadaan.

"Ayo, duduk." Kata Jin tanpa mengindahkan pertanyaan Taehyung. Jin menarik nafas dalam-dalam sambil melihat kursi kosong yang biasa Ririn duduki.

"Teman-teman.." isak Jin. Otomatis semuanya panik. Bagaimana mungkin seorang 'eomma' mereka menangis tiba-tiba. Tangan Jin bergetar hebat saat memberikan sebuah map kepada RM.

"Apa ini?" Tanya RM.

"Baca saja hiks..."

Itu adalah laporan kesehatan Ririn sejak awal ia memeriksakan dirinya yang ia dapatkan dari dokter yang merawat dan memberi pengobatan untuk Ririn.

"Kanker... Otak?" Sekarang giliran tangan sang leader yang bergetar hebat. Jimin membulatkan matanya dan menoleh pada Suga. Suga meresponnya dengan menggeleng kepalanya tak percaya.

"Eomma... Kau dapat dimana?" Tanya J-Hope.

"Di kamar Ririn, setelah hiks aku tak sengaja melihat banyak obat di kasurnya.." Jawab Jin.
.
.
.

Ririn POV

Ah, dimana catatan kesehatanku. Aku bahkan lupa dosisku berapa hari ini. Dimana, ya..
Sssshhh.. Appo... Sakit kepala ini benar-benar.. Brengsek! Aku lelah, sialan!
Aku merebahkan diriku di kasur empuk ini. Menatap langit-lamgit yang siap melayangkan ucapan selamat tinggal padaku beberapa waktu lagi. Ya, ya, selamat tinggal!

Dipikir-pikir.. Aku beruntung sekali bertemu dengan mereka. Sekarang aku tahu bagaimana mereka jika tidak di depan publik. Mereka selalu membuatku terkekeh, dan juga sedih. Sebentar lagi, Tuhan. Aku tahu, sebentar lagi Kau akan menjeputku tanpa eomma tahu, kan..

Eomma.. Eomma dimana, sih? Kenapa tidak menjawab telfonku sama sekali. Tidak biasanya eomma seperti ini, jangan buat aku membencimu, eomma!

Drrt drrrt

Handphoneku! Siapa yang- eomma! Baru saja aku memikirkanmu, eomma! Kau tidak ingin aku membencimu, kan??

"Yeobseo?" Jawabku girang.

"..... Ririnie.. Kukira kau sudah tiada, rumah besar itu hangus, dan syukurlah kau masih hidup!" Ternyata namja.

"Eomma?" Rasa senangku hilang karena itu bukan eomma, malah ada suara isakan appa. Wae yo?

"Appa? Dimana eomma? Kenapa kau menangis?"

"Maafkan aku, Ririnie sayang... Hiks.. Maafkan appamu ini. Appa memang bodoh!"

"Wae yo, appa? Aku ingin bicara pada eomma!"

"Eommamu sudah meninggal.. Hiks.."

Entahlah. Rasanya seluruh tubuhku rapuh seperti kayu tua. Eomma? Apakah mimpi itu suatu pertanda bahwa eomma akan pergi?

The Dorm ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang