Pagi ini, udara masih terasa lembap sisa hujan semalam. Embun menggantung di ujung dedaunan, menetes pelan saat sinar matahari pertama berhasil menyusup dari balik awan kelabu. Angin pagi berhembus ringan, membawa aroma tanah basah dan udara yang sedikit menusuk hidung.
Di kamar itu, Arash terbangun lebih cepat dari alarm. Kelopak matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamarnya yang masih temaram. Tidur malamnya sama sekali tidak tenang. Bayangan Naren dan kata-kata misteriusnya semalam seperti rekaman rusak yang terus berputar di kepalanya. Ia memejamkan mata sebentar, berharap semua itu hanya mimpi buruk. Tapi rasa berat di dadanya terlalu nyata.
Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Pandangannya jatuh ke seragam putih abu-abu yang tergantung rapi di kursi. Ketika ia berdiri di depan cermin, sejenak ia melihat sosok bayangannya sendiri—tapi ada sesuatu yang terasa berbeda. Seolah orang di dalam cermin itu bukan dirinya. Seolah beban yang ia bawa jauh lebih berat dari yang tampak.
"Kau harus terlihat normal hari ini, Rash," gumamnya pelan, memaksa dirinya tersenyum kaku.
Setelah berpakaian, ia turun ke dapur. Ibunya sudah bangun lebih dulu, menyiapkan teh panas dan sarapan sederhana. Namun seperti biasa, hanya ada senyum singkat dan tidak banyak kata-kata. Rumah mereka sudah lama terbiasa dengan keheningan.
Arash mengambil roti, memasukkannya ke dalam mulut tanpa banyak bicara, lalu bergegas keluar rumah. Udara pagi menempel pada kulitnya—dingin, tapi menenangkan. Genangan air hujan masih tersisa di sepanjang jalan, memantulkan langit pucat seperti cermin kusam. Suara langkah kakinya tercampur dengan kicau burung dan desiran angin.
Ia menarik napas panjang. Hari ini hari kedua MOS. Seharusnya ini hanya hari biasa. Tapi sejak pertemuan dengan Bagas kemarin dan bayangan Naren yang muncul seperti mimpi buruk, Arash tahu—tidak ada yang benar-benar biasa lagi.
(...)
Begitu ia tiba di sekolah, halaman sudah ramai. Siswa-siswa baru berkumpul di aula besar, sebagian bercanda keras, sebagian gugup saling melirik. Bau tanah basah bercampur dengan aroma parfum murid-murid baru, menciptakan atmosfer yang riuh dan asing. Spanduk besar bertuliskan "Selamat Datang, Siswa Baru!" membentang di panggung kecil di ujung ruangan.
Arash berdiri di pinggir, mencoba mengamati dari jauh. Keramaian seperti ini bukan tempat favoritnya. Tapi langkahnya tiba-tiba berhenti ketika matanya menangkap sosok yang tak asing.
Bagas.
Ia berdiri di tengah kerumunan dengan map biru di dada, memakai kacamata bulat, rambut sedikit berantakan. Wajahnya kikuk—tidak seperti kemarin sore. Sosok misterius dengan tatapan tajam itu seolah menguap begitu saja, digantikan anak baru pemalu yang menunduk saat orang lain lewat.
Arash mengerjap, seolah tak percaya. Jarak antara "Bagas" yang ia lihat kemarin dan Bagas yang sekarang terlalu jauh. Terlalu berbeda. Seakan ia berhadapan dengan dua orang yang sama tapi bukan orang yang sama.
"Baik, acara akan segera dimulai," suara salah satu guru menggema melalui pengeras suara. "Semua siswa baru harap berkumpul sesuai pembagian kelas masing-masing."
Arash mendekat ke papan mading. Kelas X-1. Ia menarik napas pelan saat melihat nama yang tercetak di bawah kelas yang sama dengannya.
"Bagaskara Elraka Alverio."
Satu kelas. Tentu saja.
Sambil berjalan menuju gedung timur, Arash sempat melirik ke arah Bagas lagi. Anak itu sibuk menggeser kacamatanya, tampak gugup seperti murid baru pada umumnya. Tapi di kepala Arash, bayangan wajah Bagas kemarin—dingin, tenang, dan misterius—masih terlalu jelas untuk dilupakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOKA
FantasySatu kepingan fragmen tersingkap, memicu pilar yang sekian lama terlelap. Barisan aksara dalam prasasti kembali terulang. Membuka jejak fana yang telah lama menghilang. - Loka. (...) Namaku Arash. Seorang remaja biasa yang cuma ingin hidup normal-se...
