Arash melangkah keluar dari gerbang sekolah. Suara pagar sekolah yang mulai ditutup kembali oleh satpam menggema samar di telinganya, tapi pikirannya sudah melayang ke tempat lain.
Halte di samping sekolah—menjadi salah satu bagian dari trauma Arash dengan kejadian yang sebelumnya dia alami di tempat itu.
Ia berhenti sejenak di depan pagar besi yang kini sudah menutup sempurna, menarik napas panjang. Dalam kepalanya, bayangan kejadian itu sempat muncul, membuat dadanya menegang. Tapi kali ini halte itu ramai. Ada beberapa siswa berseragam lain menunggu di sana, juga beberapa pegawai kantoran yang baru pulang kerja. Suara obrolan dan deru kendaraan membuatnya sedikit tenang.
"Tenang, Rash. Tempat itu ramai sekarang."
Ia membatin, lalu melangkah pelan ke bawah atap halte yang sedikit berdebu itu.
Ia berdiri di pojok, menatap jalan raya yang sibuk. Angin sore berembus pelan, membawa aroma aspal panas yang bercampur bau gorengan dari warung di seberang.
Beberapa menit kemudian, bus kota datang dengan suara rem berdecit. Arash naik bersama dua orang pekerja muda. Bus tidak penuh, hanya setengah terisi. Ia memilih duduk di dekat jendela, menatap ke luar, membiarkan angin dari celah kaca menerpa wajahnya.
Perjalanan berjalan tenang. Ia bahkan sempat memejamkan mata sejenak, mencoba melupakan hal-hal yang masih menghantui pikirannya. Tentang Bagas, tentang pertemuan aneh yang terasa seperti mimpi—dan perbedaan mencolok antara Bagas yang dulu dan Bagas yang sekarang.
Semuanya masih belum bisa ia pahami.
Bus berhenti di halte dekat rumah. Arash turun perlahan, mengucap terima kasih kecil kepada sopir. Langkahnya terasa ringan, tapi ada semacam kekosongan yang mengikutinya. Rumahnya terlihat dari kejauhan—pagar putih, tanaman rambat di dinding, dan suara sapu yang digesekkan di teras.
Seperti biasa, mamanya sudah berdiri di depan rumah sambil membawa sapu.
Namun kali ini, ekspresinya agak kaku.
"Sudah pulang?" tanyanya datar, tanpa senyum seperti biasanya.
Nada suaranya membuat Arash sedikit menunduk. Ia tahu penyebabnya.
"Iya, Ma..." Arash menatap ke bawah, lalu mendekat perlahan. "Arash minta maaf soal kemarin, Ma."
Mamanya diam beberapa detik. Lalu tanpa banyak bicara, beliau menurunkan sapu dan menarik anaknya ke dalam pelukan.
"Sudah ya, Rash. Jangan pernah merasa seperti itu." katanya lembut, mengusap punggung Arash. "Mama dan Ayah cuma khawatir. Kami berdua sayang kamu, Rash. Sama seperti kami sayang Naren. Tidak ada pembeda diantara kalian."
Arash terdiam. Pelukan itu menenangkan, tapi kata Naren membuat dadanya sedikit bergetar. Ia hanya mengangguk kecil.
Mamanya melanjutkan dengan nada hangat, "Kalau Ayah kadang terlalu berlebihan membatasi kamu, itu karena dia takut kamu kenapa-kenapa. Bukan karena nggak sayang. Paham kamu?"
Arash tidak menjawab, hanya memeluk lebih erat. Hening beberapa saat sebelum mamanya melepaskan pelukan itu dan tersenyum kecil.
"Sudah, masuk sana. Bebersih dulu gih."
(...)
Kamar Arash selalu jadi tempat paling tenang di dunia kecilnya. Begitu masuk, ia langsung melempar tas ke kursi dan menjatuhkan diri di ranjang. Seragamnya masih melekat, rambut depannya menutupi sebagian wajah. Ia membiarkan tubuhnya lemas, menatap langit-langit yang dihiasi bayangan dedaunan dari jendela.
Di sebelahnya, ponsel bergetar pelan. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul lagi—nomor yang kemarin ia abaikan. Kali ini, ia tak ingin berpura-pura tidak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOKA
FantasiSatu kepingan fragmen tersingkap, memicu pilar yang sekian lama terlelap. Barisan aksara dalam prasasti kembali terulang. Membuka jejak fana yang telah lama menghilang. - Loka. (...) Namaku Arash. Seorang remaja biasa yang cuma ingin hidup normal-se...
