Chapter 2 - Sekolah

495 57 97
                                        

Keesokan paginya, cahaya matahari terasa seperti tamu asing yang memaksa masuk ke ruang yang tak menginginkannya. Tubuh Arash terasa berat, setiap otot enggan menuruti perintah, seolah semalam seluruh tenaganya disedot oleh sesuatu yang tak sempat ia sadari. Dari balik tirai, cahaya lembut hanya menyentuh sebagian wajahnya, seperti ragu untuk membangunkannya sepenuhnya.

Napas pertamanya pendek dan berat, seolah paru-parunya menolak menerima udara. Ia tidak langsung bangun. Hanya berbaring, menatap langit-langit kamar, membiarkan pikirannya terseret kembali pada sisa-sisa malam yang belum selesai.

Kilatan petir.

Sosok itu.

Bisikan "lapar" yang masih menggema di kepalanya.

Namun di antara kepingan ingatan itu, ada sesuatu yang lebih samar—seperti potongan mimpi yang menolak diingat.

Sebelum semuanya gelap, ia sempat merasakan sesuatu di tangannya. Dingin, tapi bukan dingin biasa. Dingin yang menembus kulit, berubah menjadi nyeri menusuk. Seolah ada yang menekan... menggigit... lalu mengisap perlahan—hingga semuanya lenyap.

Setelah itu, hanya hening.

Kosong.

Gelap.

Ia tak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Arash memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak tidak wajar. Tubuhnya terasa ringan sekaligus lemah, seperti kehilangan sesuatu yang penting tanpa tahu apa. Perlahan, ia menatap telapak tangannya—kulitnya utuh, bersih, tak ada luka, tak ada darah.

Namun ada sesuatu yang ganjil. Nyeri samar berdenyut di pergelangan, seperti sisa sentuhan yang tidak seharusnya ada. Ia membalikkan tangannya, mencari tanda, tapi tidak menemukan apa pun—tidak bekas gigitan, tidak jejak apa pun. Hanya sensasi aneh yang bergetar di antara nadi dan pikirannya, seolah tubuhnya menyembunyikan rahasia yang belum siap diungkapkan.

Ia mengusap wajahnya pelan, berusaha mengusir kantuk. Namun jari-jarinya bersentuhan dengan sesuatu yang hangat. Ia menatapnya. Setetes darah mengalir dari hidung, menuruni bibir, lalu jatuh ke punggung tangannya.

Noda merah itu tampak mencolok di kulit pucatnya.

Dan di saat itu, hawa dingin yang sempat hilang terasa kembali—menyusup dari tengkuk, merayap pelan ke seluruh tubuhnya.

"Rash! Turun, sarapan dulu!"
Suara Mama terdengar dari lantai bawah, hangat tapi jauh.

Arash tidak menjawab. Ia menatap lantai kamar, mengumpulkan sisa tenaga. Semua benda di ruangan itu tampak biasa: rak buku kecil, kursi putar, seragam sekolah tergantung rapi. Tapi udara kamar terasa berbeda. Lebih dingin dari biasanya, seperti menyembunyikan sesuatu yang belum pergi.

Dengan enggan, Arash bangkit. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap hidungnya, lalu menoleh ke arah lemari. Celah pintunya terbuka sedikit. Ia ingat jelas tadi malam, dari arah situ suara ketukan datang. Ia mengulurkan tangan, menutupnya perlahan. Bunyi "klik" kecil terdengar, tapi entah kenapa bunyi itu justru membuat udara kamar semakin berat.

Ia masuk ke kamar mandi. Wajahnya di cermin terlihat pucat, lingkar matanya menggelap. Di bawah hidungnya, noda merah tampak mengering—bekas darah yang belum sepenuhnya hilang.

Mimisan. Sesuatu yang sering terjadi. Namun, hal itu menjadi sebuah rahasia yang ia tutup rapat-rapat dari kedua orang tuanya. Jangan sampai hanya karena itu, Ayahnya memberikan batas yang lebih sempit lagi untuk dirinya. 

Ia menyalakan keran. Suara air mengalir memenuhi ruang kecil itu, tapi tak cukup menutupi degup jantungnya yang masih tak beraturan. Air dingin ia tampung di telapak tangan, lalu diusapkan ke wajah perlahan. Tetesannya jatuh ke wastafel, membawa serta sisa darah, membentuk aliran tipis yang memudar seiring waktu.

LOKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang