Hari ini terasa berbeda. Arash terbangun lebih lambat dari biasanya, meski sinar matahari sudah menembus tirai jendela kamarnya. Begitu matanya benar-benar terbuka, hal pertama yang ia sadari adalah pakaiannya—masih sama seperti semalam, hoodie abu-abu dan celana pendek yang sempat ia pakai saat pergi bersama Mamanya. Tubuhnya terasa sedikit lemas, seolah sebagian tenaganya hilang walaupun setelah tidur.
Ia mengusap wajahnya perlahan, lalu menghela napas panjang. Di kepalanya, samar-samar masih terngiang suara telepon dari Bagas—ucapan singkat tapi menempel kuat di pikirannya.
"Rash, jangan naik bus itu besok."
Suara itu terdengar datar, tapi juga jelas. Arash bahkan masih ingat nada dinginnya. Ia sempat berpikir mungkin itu cuma lelucon, atau Bagas sedang ngigau. Tapi entah kenapa, firasatnya tidak tenang.
Ia beranjak dari ranjang, menuju kamar mandi. Air dingin yang menyentuh wajahnya sedikit menghapus sisa kantuk, tapi tidak mampu menyingkirkan pikiran yang berputar-putar di kepalanya. Beberapa menit kemudian, ia sudah mengenakan seragam sekolah lengkap—kemeja putih, celana abu-abu, dengan jas almamater yang masih tampak baru.
Rambutnya disisir seadanya menggunakan tangan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh, Rash. Hari ini harus normal." Ia berkata pelan, seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.
Turun ke bawah, aroma roti panggang dan telur dadar langsung menyambut. Di meja makan, Mama dan Ayahnya sudah duduk seperti biasa. Mama sibuk menata bekal di wadah kecil, sementara Ayah tampak membaca berita dari tablet, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung.
"Pagi, Rash," sapa Mama tanpa menoleh, namun suaranya hangat seperti biasa.
"Pagi, Mah," jawab Arash sambil menarik kursi.
Mama menatapnya sekilas, lalu mengernyit kecil. "Kamu kelihatan pucat. Masih lemes?"
"Udah aman kok, Mah," sahutnya cepat. "Mungkin memang kurang rehat aja, kayaknya."
Mama mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, jelas masih ada kekhawatiran. Arash tahu, sejak semalam Mamanya terus memastikan keadaannya.
Ayah menutup tabletnya, bersiap berangkat. "Papa duluan ya. Ada rapat pagi-pagi."
Mama mengangguk, mengingatkan agar Ayah hati-hati di jalan. Setelah pamit, suara mobil Ayah menghilang perlahan di depan rumah.
Suasana meja makan kembali tenang. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu. Arash melirik jam dinding, sudah hampir pukul enam lewat lima belas. Ia berdiri, membawa tasnya yang tergantung di kursi.
"Mah, aku berangkat dulu."
Mama menatapnya sekilas, lalu berhenti saat melihat helm di tangan Arash. "Tumben bawa motor, Rash? Biasanya kamu kan naik bus akhir-akhir ini."
Arash hanya tersenyum kecil. "Nggak papa, Ma. Lagi pengen bawa motor aja." Tapi dalam kepalanya, kata-kata Bagas semalam kembali terputar jelas.
"Rash, jangan naik bus itu besok."
Seketika bulu kuduknya meremang. Ia tidak tahu apa maksudnya, tapi untuk alasan yang tidak jelas, ia merasa lebih aman memilih motor hari ini.
Mama mengikuti Arash ke garasi. "Kalau gitu hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut."
"Iya, Mah," balas Arash sambil mencium tangan Mamanya.
Ia mengenakan helm, menstarter motor, memanaskan mesinnya sebentar sebelum dia gunakan. Arash menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menarik gas, perlahan keluar dari halaman rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOKA
FantasiSatu kepingan fragmen tersingkap, memicu pilar yang sekian lama terlelap. Barisan aksara dalam prasasti kembali terulang. Membuka jejak fana yang telah lama menghilang. - Loka. (...) Namaku Arash. Seorang remaja biasa yang cuma ingin hidup normal-se...
