Chapter 4

460 52 39
                                        

Gemuruh hujan mulai terdengar semakin jelas. Dinginnya merayap pelan ke tulang. Kelopak mata Arash bergetar sebelum akhirnya terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat bukan kabut, bukan sosok hitam, melainkan jalan basah dengan genangan air yang berkilau memantulkan lampu jalan. Nafasnya berat, dada sesak. 

Ia tergeletak di trotoar, jaket dan seragamnya basah kuyup, tapi dunia di sekitarnya—normal. Tak ada kabut, tak ada keheningan aneh, hanya suara mesin kendaraan dan gemericik hujan.

Satu suara klakson terdengar dari kejauhan. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Lampu depannya menyilaukan matanya sesaat. Dan dari balik pintu yang terbuka, sosok pria keluar dengan tergesa—wajahnya cemas, napasnya memburu.

"Arash?!" Suara itu... ayahnya.

Arash terpaku. Hatinya ingin percaya, tapi pikirannya masih tertinggal di antara kabut dan mimpi buruk yang baru saja menelannya. Rasa curiga menyelinap, bagaimana jika ini jebakan seperti sebelumnya?

Ayahnya berlutut di hadapannya, menggenggam bahunya. "Kamu kenapa, Rash? Kamu luka?" Suara itu nyata, berat, hangat.

Mobil itu, suara hujan, kilatan lampu jalan—semuanya terasa benar. Arash bangkit perlahan, membiarkan tubuhnya dipapah ke dalam mobil. Saat roda mobil berputar, ia menatap keluar jendela. Jalanan basah, beberapa pengendara motor berjas hujan menyalip, lampu kendaraan memantul di genangan. Tidak ada kabut. Tidak ada makhluk hitam.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku jaket. Ponselnya menyala—layar menunjukkan 21.09. Waktu berjalan lagi.

Napas panjang lolos dari bibirnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tahu... semuanya sudah kembali.

Sesampainya di rumah, lampu teras menyambutnya seperti biasa. Pintu terbuka, dan sosok Mamanya berdiri di sana dengan wajah panik. "Astaga, Arash! Akhirnya kamu pulang. Eh, kamu kenapa?"

Arash hanya terdiam. Perempuan itu mendekat, jemarinya menyentuh pelipis Arash. "Kamu berdarah!" serunya kaget. Namun sesaat setelah menyeka darah itu—bekas luka itu... hilang. Kulitnya bersih, seperti tidak pernah ada luka sama sekali.

Mama menatapnya bingung. Arash juga. Tapi ayahnya cepat menyela, "Sudahlah. Arash pasti lelah. Suruh dia istirahat saja." Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang ingin mengakhiri pembicaraan, bukan memahaminya.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Arash turun ke ruang makan. Dari tangga, samar ia mendengar suara kedua orang tuanya berbicara cepat—pelan, nyaris seperti bisikan. Namun begitu ia mendekat, suara itu berhenti mendadak. Mama menoleh, tersenyum kaku, lalu menyuruhnya makan.

Sendok pertama belum sempat menyentuh mulutnya ketika bayangan wajah Naren muncul dalam benaknya—senyum tipis, berdiri di seberang jalan sebelum semua gelap. "Naren..." gumamnya lirih.

"Ma, sebenarnya Naren dimana?" tanya Arash akhirnya. Mama dan Ayah saling berpandangan. Tak ada jawaban.

"Ayolah, kenapa kalian selalu diam?!" suaranya meninggi tanpa ia sadari.

Mama menunduk. Ayahnya menarik napas panjang lalu berkata datar, "Naren baik-baik aja. Kalau waktunya tiba, kalian pasti bertemu lagi."

Kalimat itu seperti tembok yang membentur dadanya. Emosi yang lama terpendam pecah.

"Kalian selalu begini!" teriak Arash. "Padahal tinggal jawab Naren dimana. Kenapa sih hal sepele kayak gini juga dibatasi. Memang sih, kalian selalu peduli dengan Naren. Tapi Arash juga berhak tau. Arash muak selalu nurut sama Ayah. Selalu berkorban demi hal yang Arash nggak inginkan. Kalian anggap Arash apa sih? Seolah Arash cuma bayangan di rumah ini!"

Mama terdiam. Ayahnya membalas dengan nada tegas, mencoba menahan situasi, tapi malah memercikkan api. Kata-kata saling bertubrukan di udara, tajam, panas. Arash terlalu muak untuk mendengar lebih lama.

LOKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang