Chapter 3

433 46 44
                                        

Hujan sore turun deras, membasahi halaman sekolah yang mulai kosong. Genangan air dari atap menetes pelan ke tanah, menciptakan gema ritmis yang terdengar jelas saat keramaian memudar. Lorong sekolah yang tadi dipenuhi langkah siswa kini tinggal sisa genangan air dan suara rintik hujan.

Arash berjalan perlahan di lorong sepi itu. Tas di pundaknya terasa lebih berat dari biasanya—atau mungkin, itu hanya beban dari semua hal yang terjadi di kantin tadi: bayangan di luar jendela, suara berbisik yang hanya ia dengar, dan kalimat samar dari Bagas.

Sekolah ini, yang beberapa jam lalu riuh oleh tawa dan teriakan, kini seperti bangunan tua yang berdiri sendirian di tengah hujan. Bayangan ranting pohon menari di dinding tembok, seperti tangan-tangan tipis yang mencoba meraih siapa pun yang lewat.

"Ayo pulang," suara Bagas terdengar pelan di belakangnya. Suara itu nyaris menyatu dengan rintik hujan yang menabrak genting.

Arash hanya mengangguk. Kata-kata Bagas sebelumnya—"Aku sama sepertimu"—masih bergema dalam kepalanya. Sesuatu dari cara Bagas mengucapkannya membuat dada Arash terasa berat, seakan ia baru saja melangkah masuk ke dalam rahasia besar yang tak pernah ia minta.

Arash berdiri, menggunakan jaket, meraih tasnya. Bagas ikut bangkit tanpa bicara. Mereka berjalan keluar bersama, menyusuri lorong panjang yang basah dan redup. Bayangan ranting dari jendela bergerak pelan disapu hujan, dan setiap langkah terasa menggema terlalu lama, seolah waktu ikut melambat bersama sore itu.

Begitu mereka tiba di gerbang, hujan tak juga reda. Jalanan di luar sekolah tampak kosong, hanya ada suara gemericik air dan dengung kabel listrik yang basah. Halte kecil di seberang jalan tampak kumuh—catnya mengelupas, bangkunya lembap oleh air. Tapi jaraknya tidak dekat. Mereka harus berjalan beberapa meter menembus hujan untuk sampai ke sana.

Bagas berdiri diam sejenak di bawah atap gerbang, menatap ke arah halte.

"Jaraknya nggak jauh," katanya pelan.

"Tetep basah juga nanti," jawab Arash, menatap hujan yang jatuh rapat seperti tirai abu.

Mereka tidak membawa payung. Tidak ada jas hujan. Hanya jaket tipis dan seragam sekolah yang sudah dingin sejak siang. Hujan mengguyur deras, mengaburkan pandangan ke jalan depan. Arash menggigit bibirnya, lalu menarik napas pendek.

"Lari aja," ucap Bagas datar. "Daripada nunggu reda, malah makin dingin."

"Lari?" Arash melirik ragu. 

"Makin malam, makin bahaya," jawab Bagas singkat.

Sejenak Arash paham dengan kalimat itu, tapi Bagas sudah melangkah lebih dulu. Hujan langsung menyergap tubuh mereka berdua, menampar wajah dan rambut. Dalam beberapa detik saja, jaket dan seragam mereka basah kuyup. Suara air dari genangan memercik di sekitar kaki mereka. Jalanan yang hanya beberapa meter terasa lebih panjang dari seharusnya.

Saat berlari menuju halte, Arash sesekali menoleh ke belakang. Sekolah tampak seperti siluet bangunan kelabu di balik hujan lebat—sepi dan asing.

Mereka tiba di halte dalam keadaan setengah basah kuyup. Nafas Arash memburu. Rambutnya menempel di kening, jaketnya berat oleh air. Sementara Bagas berdiri tanpa banyak bicara, matanya lurus menatap jalan sepi di depan mereka.

Hujan semakin deras, memukul atap halte hingga menimbulkan suara bergemuruh seperti ribuan jari mengetuk seng. Udara dingin menyusup dari sela-sela samping, membuat kulit Arash menggigil. Ia melirik Bagas dari sudut mata: anak itu tetap tenang, bahkan terlalu tenang, seolah hujan lebat ini bukan apa-apa.

"Arash."

Suara itu datar, tapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Arash berdiri.

"Hm?"

LOKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang