Suara jam di dinding UKS berdetak pelan, seirama dengan napas Arash yang masih belum sepenuhnya stabil. Ruangan itu sunyi, nyaris terlalu tenang. Hanya ada dia, suster penjaga, dan Bagas yang masih terbaring di ranjang periksa, pucat tapi tenang seperti seseorang yang sedang tertidur setelah hari yang panjang.
Cahaya lampu putih di langit-langit menyorot lembut wajah Bagas, memantulkan sedikit kilau di pelipisnya yang tertutup perban. Aroma antiseptik bercampur wangi obat-obatan ringan memenuhi udara, menciptakan sensasi aneh di dada Arash—antara lega dan cemas.
Ia duduk di kursi tunggu, menatap ponselnya yang dari tadi tak juga ia buka. Layarnya hanya menyala sesekali karena notifikasi yang tak ia pedulikan. Pikirannya masih terjebak pada apa yang baru saja terjadi—pada kata-kata aneh yang keluar dari mulut Bagas beberapa menit sebelum pingsan.
Suster penjaga, perempuan paruh baya dengan wajah teduh, meletakkan stetoskop di atas meja. "Keadaannya baik," ujarnya lembut. "Cuma benturan kecil di pelipis, tidak ada tanda cedera serius. Mungkin hanya butuh istirahat."
Arash mengangguk pelan. Napasnya terhela panjang, seolah beban yang menekan dadanya sedikit terangkat. "Syukurlah..." gumamnya.
Beberapa menit berlalu. Suara jarum jam terdengar lagi, menandai keheningan yang nyaris ganjil. Sampai akhirnya, kelopak mata Bagas bergerak. Napasnya berubah berat, lalu perlahan matanya terbuka. Pandangannya sempat kosong beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit ruangan.
"Gas," panggil Arash cepat, nada suaranya hampir gugup. "Kamu nggak apa-apa?"
Bagas berkedip pelan. "Aman kok, Rash." Suaranya serak, seperti baru bangun dari tidur panjang. "Bisa tolong ambilin kacamataku?"
Arash segera mengeluarkan kacamata itu dari saku jaketnya. Namun saat Bagas mencoba bangun, gerakannya langsung terhenti karena rasa nyeri yang tajam di pelipis.
"Hss..." desisnya lirih, tangannya refleks menyentuh perban di sisi kepala.
Arash cepat-cepat berdiri dan mencondongkan tubuh. "Maaf, Gas. Tadi waktu kamu jatuh, kepalamu sempat kena kerikil kecil di parkiran. Tapi suster langsung bersihin lukanya, jadi nggak terlalu parah."
Bagas mengambil kacamatanya dan memakainya perlahan. Tatapannya mulai lebih jernih, tapi alisnya mengerut heran. "Rash, kamu bilang tadi aku jatuh di parkiran? Bukannya terakhir kita ngobrol di kelas?"
Arash terdiam. Matanya menatap Bagas dengan cermat, mencari tanda-tanda kalau temannya itu bercanda. Tapi wajah Bagas serius, polos—tidak ada sisa ekspresi dingin dan misterius seperti tadi.
Dalam kepala Arash, potongan kejadian itu kembali berputar, tatapan tajam Bagas, suara berat yang bukan suaranya, dan kalimat yang sampai sekarang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Aku titip dia, ya. Dia salah satu aset agar aku bisa bersembunyi."
Arash menelan ludah. "Gas... jujur aku juga bingung jelasin. Tadi waktu kamu sempat bangun, kamu—" ia ragu sejenak, "dirimu berubah, seolah kamu jadi orang lain."
Bagas hanya diam. Tatapannya kosong, seolah mencoba menelusuri ruang kosong di pikirannya. Ia menatap dinding, menatap Arash, lalu menunduk lagi. "Tapi rasanya, aku nggak inget apapun, Rash."
Sebelum keheningan itu menebal, suster kembali masuk, membawa segelas air putih. "Oh, kamu sudah sadar ya?" katanya lembut. "Kalau begitu, sebaiknya kamu pulang saja. Istirahat di rumah lebih baik daripada di sini."
Bagas mengangguk sopan. Arash berdiri, membantu Bagas bangkit dari ranjang. Gerakannya masih pelan, seperti orang yang baru saja kembali ke tubuhnya sendiri.
Mereka keluar dari UKS. Koridor sekolah tampak sepi, hanya cahaya senja yang menembus lewat jendela panjang di sisi kanan. Suara langkah mereka bergema pelan di lantai ubin.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOKA
FantasiSatu kepingan fragmen tersingkap, memicu pilar yang sekian lama terlelap. Barisan aksara dalam prasasti kembali terulang. Membuka jejak fana yang telah lama menghilang. - Loka. (...) Namaku Arash. Seorang remaja biasa yang cuma ingin hidup normal-se...
