Chapter 1 - Umbra

233 29 122
                                        

Di suatu tempat, ada seekor burung yang lahir bukan untuk terembus angin, melainkan untuk belajar menahan sayapnya. Setiap kali ia mencoba menyentuh langit, seseorang menutup pintu sangkar dan berkata, "Belum saatnya." 

Lama-kelamaan, burung itu lupa rasanya menembus udara—hingga yang tersisa hanyalah tatapan kosong pada langit yang tak lagi bisa dijangkaunya.

Arash membuka jendela kamarnya. Angin petang menyusup perlahan, membawa aroma tanah basah dari halaman belakang. Hujan belum turun, tapi langit telah kehilangan warnanya—abu kehitaman, berat, dan penuh isyarat akan datangnya badai.

Dari ruang tamu, samar-samar terdengar suara televisi yang dibiarkan menyala—berita cuaca yang dibacakan dengan nada datar. Di sela suara itu, ada gema langkah kaki berat yang menghentak lantai. Langkah yang terlalu dikenalnya.

Arash menutup matanya sesaat. Satu tarikan napas dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan. Hening menggantung, seolah menunggu sesuatu yang siap kembali terungkit.

Saat pintu kamarnya terbuka, yang pertama masuk bukanlah suara, melainkan aroma sabun cuci dan kain bersih. Seorang wanita berusia sekitar 30-an, mungkin mendekati paruh baya, muncul di ambang pintu sambil membawa keranjang penuh pakaian yang terlipat rapi. Gerak-geriknya lembut, seolah ia berhati-hati agar tidak melakukan satu pun kesalahan yang bisa membuat Arash merasa tersinggung atau diabaikan.

"Rash," panggilnya pelan. "Masih marah, ya?"

Arash tidak menjawab. Tubuhnya tetap menghadap ke luar jendela, seolah pemandangan di sana lebih layak mendapat perhatian daripada suara mamanya sendiri.

Mama Arash meletakkan keranjang di atas kursi, lalu mendekat.
"Wajar kalau kamu kecewa. Mama tahu kamu sudah siapin semuanya buat daftar ke sana. Nilaimu juga bagus, kan?"

Nada suaranya lembut, tetapi terdengar berat—seperti seseorang yang terlalu sering menengahi pertengkaran dan tahu bahwa tak ada yang benar-benar menang. Tangan Mama menyentuh lengan Arash perlahan. Sentuhannya hangat, tapi tak mampu menembus dingin yang berlapis di dalam diri putranya.

"Mama juga tahu, banyak teman kamu masuk ke sekolah itu. Pasti berat, ya, kalau harus mulai di tempat baru, di mana nggak ada yang kamu kenal."

Namun, teman bukan alasan Arash ingin bersekolah di sana. Dari sekolah sebelumnya, ia mendapatkan sebuah beasiswa. Dan ketika ia bertanya apakah ia boleh melanjutkan pendidikannya di tempat itu, bentakan langsung meluncur dari mulut ayahnya—bahkan sebelum ia sempat menunjukkan surat beasiswa yang ada di tangannya.

Arash tetap diam. Hanya jemarinya yang bergerak, mengetuk kusen jendela dengan irama pelan—satu-satunya tanda bahwa ia masih mendengar.

Ujung mata Arash bergeser sedikit, menatap sesuatu di seberang hujan yang mulai turun. Butir-butir air menabrak kaca satu per satu, seperti mengetuk dunia dari luar. Mama berbalik, hendak menutup jendela.

"Udah, ya. Nanti kamu masuk angin."

Namun baru saja tangannya terulur, Arash menahan. Tatapannya tetap pada halaman.

"Ma," ucapnya pelan, datar. "Sepatu Ayah... belum Mama angkat."

Mama menoleh cepat, panik. Pandangannya mengikuti arah jari Arash—ke sepasang sepatu hitam di dekat pagar, kini mulai basah oleh hujan yang baru turun.

"Astagaaa... Ayaaah! Maafin Mama!" serunya terburu-buru, lalu berlari keluar kamar sambil membawa payung yang terlipat setengah.

Arash hanya menatap. Bukan senyum, bukan tawa, tapi ada sesuatu di matanya yang hampir menyerupai keduanya.

Dari jendela, ia menyaksikan mamanya berlari di tengah hujan yang makin deras, menunduk-nunduk mengambil sepatu sambil menjaga agar payung tak terbalik. Langkahnya tergesa, kikuk, dan entah kenapa pemandangan itu justru terasa menenangkan bagi Arash—semacam keseharian yang ia tahu pasti ujungnya.

LOKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang