Bel istirahat kedua berdentang nyaring, bergema di seluruh penjuru sekolah. Suaranya memantul dari dinding kelas ke lorong-lorong, memicu gerombolan siswa berhamburan keluar. Ada yang berlari menuju kantin, ada yang menuju taman belakang, dan ada pula yang hanya duduk santai di tangga koridor sambil membuka bekal.
Namun, di tengah hiruk pikuk itu, satu meja di pojok ruangan tetap tenang.
Bagas masih duduk di kursinya. Tangan kanannya bertumpu di meja, kepala sedikit menunduk, menatap kosong buku catatan yang belum sempat tertutup. Cahaya matahari sore menembus kaca jendela, memantul lembut di lensa kacamatanya, menutupi mata yang tampak lelah.
Arash, yang semula hendak melangkah keluar, tiba-tiba terhenti. Pandangannya tertuju pada Bagas, ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah Bagas saat itu—bukan ekspresi pendiam seperti biasanya, melainkan guratan lelah seolah ia tengah memikul beban yang berat.
"Gas," panggil Arash pelan.
Bagas sedikit tersentak, lalu menoleh. Tangannya refleks membenarkan posisi kacamata, sementara senyum kecil perlahan terbit di bibirnya.
"Eh, Rash... kenapa?" ucapnya lirih.
Arash menatapnya lekat-lekat, seolah berusaha menembus tembok sunyi yang Bagas bangun di sekeliling dirinya. Ia menarik napas pelan sebelum berbicara lagi.
"Aku enggak minta kamu langsung cerita," ujarnya lembut, "tapi kalau ada yang kamu pikirin, kamu enggak perlu nanggung sendiri. Aku di sini, Gas."
Bagas menunduk lagi, menatap ujung sepatunya. Sejenak ia hanya diam, seakan sedang menimbang. Lalu, dengan napas panjang yang terdengar berat, ia mulai bicara.
"Aku capek, Rash."
Bagas menarik napas berat. "Katanya, rumah adalah salah satu tempat yang paling nyaman untuk pulang. Tapi kenapa, yang aku dapatkan justru sebaliknya. Ayah, Ibuku. Aku muak dengan mereka."
"Mereka mungkin masih tinggal serumah cuma karena aku. Tapi aku tahu, di antara mereka udah nggak ada yang tersisa selain amarah."
Suaranya bergetar, seolah setiap katanya menyeret luka yang lama tersembunyi.
"Di sekolah, biasanya aku hidup dalam topeng. Mereka nggak pernah benar-benar melihat aku. Yang mereka lihat cuma anak orang kaya yang bisa dimanfaatkan. Senyum mereka cuma berlaku sampai keinginan mereka terpenuhi. Setelahnya, aku cuma jadi lelucon—sekadar bayangan di antara keramaian."
Arash mendengarkan dalam diam. Tatapannya tenang, tapi di baliknya ada rasa iba yang perlahan tumbuh. Ini menjadi kali pertama ia mendengar Bagas berbicara seterang ini.
Bagas melanjutkan, kali ini lebih pelan.
"Sebelumnya, aku pernah mencoba mengakhiri semuanya."
"Tapi sepertinya, semesta menolak."
"Waktu itu aku ngerasa hidupku nggak tak punya jalan lagi untuk pulang. Tapi... entah kenapa, aku masih dikasih kesempatan buat hidup. Kadang aku bersyukur, tapi kadang juga bingung... buat apa."
Suasana kelas seketika hening. Hanya terdengar suara dedaunan bergesekan di luar, terbawa angin sore yang masuk lewat jendela.
Arash melangkah pelan, berdiri di sisi jendela yang terbuka. Ia menatap langit yang separuh tertutup awan. Angin sore menerpa rambutnya lembut, membawa aroma debu dan matahari.
"Gas," ucap Arash lirih tanpa menoleh, "Aku nggak tahu seberapa berat badai yang kamu hadapi. Tapi... mengakhiri hidup bukan salah satu jalan terbaik untuk pulang. Manusia lahir ke dunia punya tugasnya masing-masing."
Ia menoleh sebentar, matanya tenang tapi tajam. "Kamu masih disini, Gas. Semesta masih menyiapkan sesuatu yang harus kamu jalani. Kamu terlalu sempit memandangnya. Jadi yang kamu lihat hanya sisi buruknya saja. Padahal masih ada bagian luas yang tidak kamu sadari."
KAMU SEDANG MEMBACA
LOKA
FantasiSatu kepingan fragmen tersingkap, memicu pilar yang sekian lama terlelap. Barisan aksara dalam prasasti kembali terulang. Membuka jejak fana yang telah lama menghilang. - Loka. (...) Namaku Arash. Seorang remaja biasa yang cuma ingin hidup normal-se...
