Bab 9 - Beginning, study in IU

15 3 0
                                        

Aku menyadari bahwa untuk menjadi perempuan berkelas, aku tak bisa hanya mengandalkan cantik fisik belaka. Tetapi juga good personality and good thinking.

🌸💫💗🤪🌸💫💗🤪🌸💫💗🤪🌸

Hari ini, hari pertama Rai masuk kuliah setelah setahun menganggur. Perasaan campur aduk jadi satu, entah dia harus senang, sedih, ataupun bangga pada diri nya karena perjuangan ia tak sia-sia untuk mendapatkan beasiswa disini.

Seperti kampus pada umum nya, sebelum resmi menjadi mahasisiwa/i, memang sudah ada aturan untuk mengikuti OSPEK. Masa-masa OSPEK yang berbeda dari kampus biasanya.

Kalau kampus kebanyakan OSPEK dilakukan oleh senior, di Istanbul University tersebut, masa OSPEK di bimbing langsung oleh guru ekstrakurikuler. Di mana semua jenis ekskul di sana di ajarkan kepada calon mahasiswa/i pada masa OSPEK tersebut.

Namun ada satu ekskul yang benar-benar menarik perhatian Rai. Ekskul yang sedari dulu sangat ingin Rai tekuni.

Memanah dan berkuda. Iya.. Ekskul memanah dan berkuda menjadi pusat perhatian Rai.

Setelah melalui beberapa hari masa Ospek, kini saat nya masa peresmian Mahasiswa/i baru.

Saat calon mahasiswa/i sedang melaksanakan apel penutupan, ada seorang cowok yang terlalu fokus memperhatikan Rai, dia adalah Alif.

Rai menyadari bahwa dirinya sedang di perhatikan oleh sosok laki-laki yang menyebalkan itu, yang bukan lain adalah pacar dari sepupu nya sekaligus mentor di kelompok OSPEK Rai itu.

Terlebih Alif juga seorang ketua dewan pengurusan kampus.

Siapa yang tidak suka dengan diri nya, wanita-wanita di sana menggilai sosok Alif, menganggap Zhafi sangat beruntung bisa mendapatkan Alif.

Tapi berbeda dengan Rai yang tidak menyukai cowok sombong tersebut.

"Cowok sombong macam dia saja di sukai ? Apa lebih nya ? Hanya karna dia ketua dewan pengurus kampus ? Apa karna dia anak orang kaya ? Apa karna dia tampan ? Cewek-cewek di sini sudah pada rabun rupa nya.

Penilaiannya hanya sebatas fisik dan materialistis." Gerutu Rai saat apel itu masih berlangsung.

Baiklah, Rai tidak peduli dengan apel itu lagi. Ia ingin segera apel tersebut berakhir dan menghampiri cowok menyebalkan itu yang sedari tadi terus memperhatikan nya.

Ingin sekali rasanya Rai berteriak "berhenti memperhatikan ku!"

🙄🙄🙄

Hal yang ditunggu-tunggu Rai pun tiba, apel di tutup dengan sambutan dari ketua dewan kampus itu.

Ingin rasanya Rai pergi dari sana. Mendengar dia bicara bagai merasakan terpaan angin panas.

Namun Rai tidak bisa berkutik, barisan tersebut di jaga ketat oleh dewan pengurus kampus yang lain nya. Mereka ikut berbaris di samping, di depan, maupun di belakang barisan MABA.

"Baiklah, calon Mahasiswa/i kita dengarkan sambutan dari ketua dewan pengurus kampus, Alif.. (begitu namanya disebut) " ucap Sella sebagai protokol sekaligus sekretaris Alif

Paruh Waktu (saat kita bertemu)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang