Day 4

417 68 24
                                    

Huhu, sorri banget ngaret ceritanya :(

Bisa vote dulu biarku tambah semangat ngetiknya hehe
So yaa, happy reading 😊

📝📝📝

Temaramnya matahari senja sudah menghilang sejak beberapa jam yang lalu. Rona jingganya langit telah berganti dengan gelapnya malam.

Charisa bergelung di kamarnya sembari memainkan handphonenya—nge-stalk—seperti biasanya. Tidak berniat memposting apapun atau pula mengupdate kegiatannya saat itu, karena memang tidak ada yang ia kerjakan. PR dari beberapa mata pelajaran telah diselesaikannya sejak pulang sekolah tadi, Charisa benar-benar menikmati masa SMA-nya dengan sangat membosankan bagi sebagian anak-anak di sekolahnya. Dunia gemerlap malam bukan lah kehidupannya, sudah jelas ia akan mendapat bencana kalau sampai berani menginjakkan kakinya di salah satu tempat tersebut.

“Mendem di kamar doang?” Charisa mendongak sesaat, lalu menganggukkan kepalanya dan kembali dengan rutinitasnya.

Seseorang yang baru membuka pintu kamarnya tadi langsung masuk dan duduk di ujung kasur, “Gimana sekolahnya?”

Gadis dengan rambut yang dibiarkannya terurai itu lantas meletakan handphonenya ke samping, kemudian memeluk orang itu.

Not too bad, dan nggak ada yang berubah dari saat SMP dulu. Masih nyelesein PR, punya temen cewek cuma dikit, masih suka makan banyak di kantin, mama nambah makin hobi ngomel, dan aku nggak pernah telat ke sekolah, ak—“

No, dear. Bukan itu maksud papa,” papanya langsung menyela,

Charisa mengerutkan keningnya tanpa mengendurkan pelukannya, “Maksud papa itu, gimana sudah ada cowok yang terang-terangan nyatain suka ke gadis cantiknya papa ini?”

“Ih papa apaan sih!” Charisa terkekeh sembari menguraikan pelan pelukan papanya,

“Ya kan papa kepengen tahu. Papa nebak deh, pasti kamu nggak bakalan berani cerita ke mama karna pasti bakalan kena omel.”

Papanya benar-benar mengerti, Charisa tentu mengangguk dengan semangat. “Kemarin aja mama bilangnya kalau ada cowok yang deketin aku harus dibawa ke mama dulu sebelum dia nembak aku. Lah gimana coba taunya, kalau dia cuma ngedeketin tanpa ada niatan mau nembak kan bisa marah-marah nanti mama.”

“Lagian papa ngapain sih nanya beginian?” Lanjutnya lagi,

Pria paruh baya di sampingnya itu sempat terdiam beberapa sebelum ia tersenyum dengan guratan di bawah matanya. “berbulan-bulan ninggalin anak gadis papa ternyata dia makin cantik, papa sampe pangling kemarin liatnya pas kamu bawa buket bunga. You grown up so fast, sweetheart. Papa sangat percaya mama ngejaga kamu dengan baik, tapi semuanya kembali lagi ke kamu. Ego remaja emang tinggi banget, papa takut suatu saat nanti papa nggak bisa nanganin ego putri papa sendiri karna terlalu sibuk dengan kerjaan papa.”

Charisa terdiam di tempatnya, tanpa berkata-kata lagi ia langsung memeluk erat kembali tubuh agak berisi papanya itu. “No, pap. You’re always be my hero, my first love. Charisa tetap jadi gadis kecilnya papa. Its okay, pa.”

Hendra menganggukkan kepalanya sembari menyeka air mata yang sempat menetes, ia bahkan mengecup berkali-kali puncak kepala putri kesayangannya itu.

The RevealedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang