Past (masa lampau/lalu)
Setelah mendengar penjelasan kakak, aku mulai mengerti masalah kedua orang tua ku, menderngarnya saja membuatku merasakan apa yang dirasakan ibuku selama ini.
"LIYAH, KAMALIYAHHH. BUKA PINTUNYA LIYAH." saat sedang bersantai dikamar karna hari ini adalah hari minggu tiba tiba aku mendengar suara tak asing yang berteriak di depan rumah sambil menggendor gedor pintu, suara itu suara yang amat aku rindukan yaitu suara ayah, ingin rasanya aku berlari membukakan pintu dan memeluk ayah, tapi mengingat penderitaan ibu aku mengurungkan niatku.
"Shira, Shira kamu harus bersembunyi nak, ayo nak sembunyi." ibuku berlari masuk terburu buru kekamarku, menarik ku dan menyuruhku bersembunyi, tapi aku tidak tau apa tujuanya, ku menuruti ibu dan bersembunyi di gudang rumah yang terletak didekat ruang tamu dan seberang dapur.
"Shira kamu jangan keluar sebelum mama suruh ya." kepanikan itu, air mata itu, apa maksudnya, ibu menyuruhku dengan memegang kedua tanganku, melihatnya menangis lagi lagi membuatku menangis juga. Setelah itu ibu keluar dan terdengar ibu membukakan pintu untuk ayah.
"Ada apa kamu kesini mas?"
"Apa maksud kamu pergi dari rumah, kamu itu istri aku, kamu tuh becus nggak si jadi istri, suami kerja keluar kota malah pergi dari rumah."
"Mas aku tau kamu keluar kota nggak buat kerja, kamu kesana buat ketemu selingkuhan kamu iyakan?, aku tau kamu udah pulang dari luar kota seminggu yang lalu tapi kamu kesini baru hari ini karna selingkuhan kamu udah pulang dari rumah kita iyakan mas, iya?, jawab mas." penjelasan ibu dengan suara bergetar dan tangisan membuatku sedikit ingin tau tentang keadaan mereka sehingga membuatku membuka pintu sedikit agar aku bisa mengintip mereka. Tapi aku juga melihat mbah dan kak nara mengintip bersama di balik dinding dapur.
"Kenapa kamu diem? Owh jadi omongan aku benar, dasar kamu laki laki brengsek mas, sekali lagi aku minta cerai mas ceraikan aku, aku nggak mau hidup sama kamu lagi aku mau bebasin kamu, anak anak biar aku yang rawat."
"Nggak anak anak nggak boleh kamu bawa, aku akan ceraikan kamu asal anak anak aku bawa." jawab ayahku dengan nada tegas.
"Nggak mas, itu anak aku, kamu nggak bisa rawat mereka dengan baik."
"Shira, dimana Shira aku akan bawa Shira hari ini." ayah mulai masuk ke ruang ruang yang ada di rumah, ibu mengikutinya untuk mencegah ayah mencari ku, melihat hal itu membuatku mencari tempat perembunyiaan di dalam gudang, menemukan kardus berukuran besar segera ku masuk yang beruntugnya cukup menampung badanku.
"Shira nggak ada mas."
"Jangan bohong kamu."
"Nara? nara jawab ayah dinama adik kamu?." meskipun aku ada di dalam kardus suara keras pertengkaran mereka terdengar di telingaku.
"Aaaa adik nggak ada yah, adik lagi kerumah temanya."
"Yaudah sekarang kamu ikut ayah."
"Nggak mau yah Nara nggak mau ikut ayah."
"Udah Nara iku ayah aja mama kamu nggak becus rawat kalian."
"Yah lepasin yah." teriak kak Nara yang perkiraan ku ia sedang dipaksa ayah untuk ikut denganya ,ingin rasanya aku keluar tapi aku tidak ingin melanggar perintah ibu.
"Mas lepasin Nara mas."
"SABIR!!" dan sosok yang sedari tadi tak menimbulkan suara kini ia mengeluarkan suaranya yaitu mbah.

KAMU SEDANG MEMBACA
INT (I'am Not Them)
RomanceKeyna Ashira Sabiyah Pacaran? Menikah? Oh tidak hal itu sebisa mungkin aku jauhin dari hidup ini kalau bisa untuk selamanya, semua cowok itu sama aja, semua cowok itu brengsek, bisanya nyakitin dan hancurin hidup perempuan, setelah itu mereka pergi...