Kenyataannya

503 60 22
                                        

Windy duduk seorang diri di perpustakaan kota dengan setumpuk buku di depannya. Gadis itu sedang mencari pencerahan untuk judul skripsi barunya. Seharusnya ada Alesha yang menemani tapi sahabatnya itu lebih memilih pergi dengan pacarnya. Padahal beberapa hari yang lalu mereka sempat bertengkar hebat. Sementara Yuna pulang ke Majalengka karena ada acara keluarga.

Braak~

Windy tidak sengaja menyenggol tumpukan buku di mejanya hingga jatuh berserak di lantai.
"Ya ampun gimana sih lo Win" gerutunya

Gadis berhoodie kuning itu membungkuk mengambil satu persatu bukunya.

Tap tap tap

Sepasang kaki berbalut sneakers putih berhenti di depan Windy. Pemilik kaki yang diyakini laki-laki itu berjongkok membantu mengambil buku Windy dan menaruhnya langsung di meja.

"Makasih-eh Pak Wira"

Windy terkejut bukan main menatap orang yang kini berdiri di hadapannya adalah Kenzo.

"Panggil aja kaya dulu kamu manggil aku. Kita nggak lagi di kampus" Ucapnya lalu mengambil tempat di kursi seberang meja Windy dan mulai membaca buku tebal yang entah apa isinya.

Hei siapa yang menyuruhnya duduk di situ- pikir Windy

"Pak em maksutku Kak Kenzo ngapain disini?"

Dengan ekspresi datarnya Kenzo mengalihkan pandangan dari buku ke gadis yang duduk di hadapannya.
"Menurutmu perpustakaan untuk apa, berburu gajah?" Jawabnya lalu kembali membaca

Windy tertawa getir, ia menyesal bertanya.

Kan bisa di kursi lain kenapa harus disitu - Windy

Windy mengalah saja, ia memilih untuk fokus ke setumpuk buku di depannya. Lebih baik mencari inspirasi judul skripsi baru daripada mengurusi hatinya yang berantakan.

Fighting Win lo udah move on

15 menit belalu dengan hening. Sesekali Windy melirik Kenzo yang berkutat dengan buku tebal begitu pun sebaliknya

"Kamu belum buka blokan kontaku ya?" Tanya Kenzo tiba-tiba

Ah iya

Windy lupa

Tanpa mengalihkan pandangannya dari rentetan huruf di buku Windy menjawab "Lupa"

Singkat padat jelas

Kenzo menghela nafas berat lalu menutup buku tebalnya "Masih lama disini?"

"Entahlah. Sampai nemu judul baru"

"Cuma sampai nemu judul baru kan?"

Windy meniup poninya sebal. "Yakali aku nginep disini Kak"

"Oh" Kenzo membuka bukunya kembali dan membacanya meskipun tak ingin membacanya.
.
.
.
.
.
.
.

Tiga jam berlalu

Windy sudah menyiapkan 4 judul baru. 3 judul untuk cadangan jika di tolak lagi. Tapi berharap judulnya diterima tanpa harus ditolak lagi.

Kenzo ?

Lelaki itu sudah pergi dua jam yang lalu setelah menerima telepon. Entah dari siapa Windy tidak kepo.

Windy memberesi buku-buku yang ia baca kemudian ia letakan di rak khusus buku yang sudah selesai dibaca pengunjung.

"Udah jam 4 sore. Kalau Gocar pasti macet banget barengan pulang kerja tarifnya mesti naik nih. Duit tipis belum di kirim. Kalau bus trans lama sampainya. Kalau suruh jemput Alesha, pasti masih sama Galih. Gue balik naik apa dong" Windy menimang-nimang opsi bagaimana ia pulang ke Kos

Try Again || Kim DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang