#2 ARCHER SERIES
Tentang kisah cinta seorang bintang musik klasik terkenal dan seorang mantan atlet panjat tebing dari latar belakang keluarga konglomerat.
♠
Irene Jasmine adalah harpist elite yang sangat dikagumi dunia, namun penuh rahasia. Sementa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Je te Veux menjadi lagu yang dipilih Irene untuk menutup pertunjukan malam ini.
Ace bukan hanya tahu lirik aslinya dan siapa komponis yang menciptakannya. Ia juga tahu jika lagu itu sebenarnya adalah musik Waltz, karya Erik Satie, yang awalnya ditulis hanya untuk voice dan piano. Jadi Irene mengaransemennya sendiri ke dalam versi harpa solo.
Berkali-kali Ace menguatkan diri agar tidak tertidur dengan terus mengingat tujuannya. Ia kemari untuk mengamati Irene, menyaksikan langsung seberapa besar daya tariknya, yang selama ini membuat seluruh dunia memujanya. Ia tidak perlu menonton lama-lama di dalam teater. Cukup sampai beberapa nada pertama. Setelah itu, ia akan langsung pergi.
Irene tampak bersiap meletakkan jemarinya di sisi-sisi harpa dan duduk anggun di atas kursinya dengan aura yang terlihat berbeda. Irene yang berada di atas panggung, tidak seperti Irene yang ditemuinya di rumah sakit. Dan itu membuat Ace tertegun.
Untuk sejenak Irene menatap ke arah penonton, lalu menghirup napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Seolah gadis itu sedang berusaha mengatasi kegugupannya meski tidak terlalu kentara.
Bayang-bayang gelap menyamarkan seisi teater. Namun sorot lampu yang terpusat pada Irene menyerap semua perhatian. Termasuk perhatian Ace. Irene bersinar di tengah panggung, cahaya meneranginya. Dan ketika senar-senar itu mulai dipetik, getaran aneh berdebar dalam dada Ace.
Tidak mungkin. Bagaimana bisa seseorang menumbuhkan harapan sekaligus memberi penghiburan tanpa kata di waktu yang bersamaan?
Benak Ace seketika menghangat. Melodi itu terdengar jernih. Sangat jernih dan menghanyutkan.
Setiap gerakan yang Irene lakukan, caranya berayun mengatur ritme, bagaimana tangan gadis itu menari dengan lentik di atas alat musiknya, mengendalikan Ace dari jauh.
Ace tidak yakin apa yang sedang ia kagumi. Permainan harpa Irene atau kecantikannya dalam balutan gaun merah yang merekah seperti mawar musim panas.
Pandangan Ace sepenuhnya terkunci. Begitu lagu berhenti, keterikatannya dengan mantra itu baru lepas.
Kesadaran Ace pun kembali dan semua orang langsung berdiri. Tepuk tangan meriah menggema di akhir pertunjukan. Ketika Irene membungkuk, Ace segera bangkit dan meninggalkan kursinya. Pergi dari ruangan sebelum pintu keluar ramai diserbu.