The ACE Rules | Part 15 - Don't Hang Up

24.8K 1.9K 263
                                        

Selamat tahun baru✨🎉

Vote dulu yaa komen yang banyak!

Partnya panjang banget ini, udah kayak triple update

Happy Reading

🍀🍀🍀

Suara guntur merambat di langit ketika Irene turun dari kereta. Sore itu hujan deras mengguyur Paris yang diselimuti awan gelap. Orang-orang berlarian, mencari tempat untuk berteduh.

Irene tertahan di stasiun Gare de l'Est. Tidak ada taksi. Ia juga tidak membawa payung.

Sebenarnya, bukan tidak ada taksi sama sekali. Beberapa taksi sempat melintas di depan Irene. Hanya saja, Irene yang tidak menghentikan taksi-taksi itu karena melamun.

Dari tadi ponselnya juga terus berbunyi. Namun Irene sengaja mengabaikan. Itu pasti Jane atau Jerome, ingin menjemput. Irene tahu mereka cemas dan menunggu kabar darinya, tapi selain tidak mau merepotkan, Irene tidak mau mereka melihatnya dalam kondisi kacau seperti ini.

Irene butuh waktu untuk sendiri. Ia sedang tidak mengharapkan penghiburan dan tidak ingin ditemani siapapun.

Dengan sorot mata kosong menghadap jalan raya, Irene memikirkan hidupnya yang menyedihkan. Jika diingat-ingat, Irene tidak punya satupun kenangan indah bersama orang tuanya. Jadi kenapa? Kenapa hatinya sakit saat memutuskan hubungan keluarga dengan mereka?

Aneh. Ia biasa ditinggalkan sejak kecil. Bukankah tidak ada bedanya?

Seharusnya Irene tidak sesedih ini.

Bahkan setelah semua perlakuan buruk yang ia dapatkan hari ini, Irene malah benci pada dirinya sendiri karena tidak bisa membenci ayah dan ibunya. Seperti orang bodoh, Irene tetap menggenggam mawar yang penuh dengan duri. Tak peduli meski duri-duri itu membuatnya terluka.

Irene pikir ia akan baik-baik saja, namun salah. Pertahanannya runtuh. Ternyata ia tidak sekuat yang ia pikir. Air matanya belum mengering. Irene kembali menangis.

Dan ketika isakannya makin keras, Irene nekat menerobos hujan. Siapa tahu di antara orang-orang di stasiun itu, ada yang mengenalinya. Irene tidak suka ditatap dengan iba. Jadi sebelum mereka mengasihaninya, Irene memilih pergi.

Baru beberapa langkah. Udara dingin yang terbawa tetesan hujan memeluk Irene. Semua pakaiannya langsung basah dan saraf-sarafnya seolah membeku. Irene terhenti, tubuhnya menggigil. Tapi di bawah hujan, ia bisa menumpahkan tangisnya dengan puas.

Irene menunduk, tangannya memegang dada. Ia ingin berteriak, sulit bernapas hingga terbatuk-batuk. Bebannya terlalu berat sedangkan Irene tidak punya tempat untuk bersandar. Aturan ketat ayahnya membuatnya tercekik selama ini. Namun Irene tidak pernah mengeluh. Ia bagaikan porselen yang tidak boleh tergores dan memiliki cacat sedikitpun. Rasanya sesak.

Irene masih larut dengan kesedihannya, menangis sesenggukan ketika tiba-tiba bayangan sesuatu di atas kepala menaunginya dari hujan. Tidak hanya itu, sebuah sentuhan hangat lalu memaksa tangannya untuk menggenggam payung.

***

Sepuluh menit tepat, seseorang mengakhiri laporannya. Menyerahkan beberapa dokumen bersampul les Victoires de la Musique kepada Ace, berjabat tangan, menunduk hormat dan meeting selesai.

The ACE RulesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang