Part 23

69 6 0
                                        



Dari sebrang sana masih hening. Ngga lama kemudian, Galang bersuara lagi.

"Pah."

"Hm?"

"Si tante mana?"

"Dia lagi pergi keluar. Katanya mau makan siang sama temennya. Tumben kamu nanyain dia. Ada apa?"

"Papa udah makan siang?"

"Kamu mau makan? Pesen fastfood aja ya?"

"Galang tanya papa udah makan belum?" Gue yakin Galang lagi nahan diri supaya ngga naikin suaranya sekarang. Soalnya kayak ada penekanan gitu di setiap kata-kata yang dia ucapin.

"Belum sempet. Kenapa?"

"Mama ngundang kita makan siang di rumahnya."

Gue denger papa ketawa. Seketika gue jadi kangen papa. Kangen ketawa bareng lagi sama dia sama Galang.

"Kamu jangan becanda! Mana mungkin?"

"Barusan Maureen sendiri yang ngasih tau Galang."

"Papa ngga yakin dia yang ngundang. Kamu doang kali yang diundang."

Gue langsung bersuara. "Engga kok. Saya ngundang anda sama Galang. Eh, bukan deh, mama saya yang ngundang anda sama Galang."

"Itu suara Maureen?"

"Iya. Galang lagi telponan sama dia."

"Maaf dan terima kasih sebelumnya ya Reen. Tapi kamu ngga perlu repot-repot ngundang saya. Saya akan ngizinin Galang ke rumah kamu kok."

"Saya serius. Mama saya juga ngundang anda. Iya kan mam?" Gue nyenggol mama yang ada di sebelah gue.

"Eh? I-iya, iya."

"Makasih banyak, tapi saya sudah makan."

"Tadi saya denger anda belum sempet makan."

"Mm,, maksudnya,, saya sudah makan,, tadi pagi."

"Pffttt Reen pengen ketawa tapi takut dosa." Gue bisik-bisik ke mama. Gue yakin papa lagi salting di tempatnya.

"Hush jangan sekarang ketawanya! Tahan dulu tahan!" Mama ikutan bisik-bisik. "Jadi gimana? Anda nerima tawaran saya?"

"Terima aja ya? Kali ini aja kok. Tapi kalo ketagihan ya besok-besok kita makan bareng lagi."

"Ikut aja pah. Papa pernah bilang rezeki ngga boleh ditolak kan?"

"Nahh bener banget." Gue menyetujui kata-kata Galang.

"Tapi ini serius mama kamu yang ngundang saya Reen?"

"Sebenernya Maureen yang ngundang anda. Soalnya saya pikir anda ngga akan mau."

"Saya ngga enak kalo anda keberatan."

"Saya ngga bawa beban apa-apa. Jadi saya ngga ngerasa keberatan."

"Memangnya anda nggak mikul beban hidup?"

"Ekhemm!" Galang menginterupsi. "Pah, ini modus ngobrol sama mantan istri apa gimana?"

"Hush Galang!"

"Kalo papa mau ngobrol tuh ya telpon sendiri dong! Nanti pulsa Galang abis."

Gue mengerutkan dahi. "Abis darimana Lang? Tadi kan Reen yang nelpon Galang."

"Masa sih?"

"Iya! Tadi kan pas Reen nelpon Galang baru bangun tidur!"

"O iya ya. Ya udah maap ya. Nanti Reen beli pulsa lagi aja."

"Beliin lah!"

"Ogah! Udah ah Galang sama papa mau berangkat nih. Reen bantuin mama masak aja yang bener!"

"Kok sama papa sih? Emang papa bilang mau?" Papa melayangkan protesnya.

"Enggak sih. Tapi Galang tau kok papa mau. Yuk! Galang atau papa nih yang nyetir?"

"Galang lah!" Gue menyahut karna telponnya masih kesambung.

"Brisik!" Terus Galang matiin telponnya.

"Ayok mam kita masak!"

"Ya ayolah. Tuh pilihin kangkung, yang daunnya layu buang, terus dibelah dua terus dipotong-potong, terus dicuci!"

Gue ngelakuin yang mama suruh sambil waspada gitu. Takut ada uletnya. Tapi ternyata ngga ada.

Sekitar setengah jam berlalu. Masakannya udah mateng, tapi papa sama Galang belum dateng.

"Kok papa sama Galang lama ya?"

"Mereka ngga jadi kesini kali."

"Mama so tau deh!"

"Feeling mama aja sih."

"Tapi feeling Reen sih mereka bentar lagi dateng."

Tepat setelah itu, papa sama Galang dateng.

"Waw feeling Reen yang tepat kali ini." Gue bisik-bisik ke mama.

"Sut ah!"

"Hai Galang!"

"Hai!"

"Silahkan masuk! Pas banget makanannya baru mateng."

"Wahh pas banget Galang udah laper."

"Ayo duduk!"

Gue ambil tempat duduk di sebelah Galang. Entah disengaja atau enggak, posisi makan kita selalu sama sejak sepuluh tahun yang lalu. Gue di sebelah Galang, mama di depan gue, dan papa di depan Galang.

"Karna hari ini saya ngundang tamu, biar saya aja yang ambilin nasinya. Galang mau seberapa?"

"Seperti biasa, satu setengah centong."

Galang ngasihin piringnya ke mama. Terus mama naro nasi ke piring Galang. Terus piringnya di kasihin ke Galang lagi.

"Tengkyu mam."

Mama senyum terus beralih ke papa. Gue nyenggol Galang terus ngode dia supaya liatin mereka berdua.

"Mau seberapa?" Kata mama sambil ngambil piring papa.

"Biasa lah."

Mama naro nasi di piring papa, terus mama balikin piring papa ke tempat semula.

"Oke. Makasih ya-" Papa menggantungkan kalimatnya. Terus dia berdehem. "Khem, makasih."

"Yahh padahal Reen nunggu kelanjutan kata-kata papa yang barusan." Gue bisik-bisik ke Galang.

"Makasih ya sayang." Galang niruin gaya papa tapi bisik-bisik.

"Pffft. Galang kocak parah." Gue masih bisik-bisik.

"Galang! Maureen! Kalo mau makan tuh berdoa jangan bisik-bisik!"

"Bisik-bisik temennya setan loh."

Gue sama Galang yang tadinya cekikikan langsung berenti seketika. Terus gue tatap-tatapan sama Galang.

"De javu." Kata gue sama Galang barengan.

Sepuluh tahun yang lalu, makan bersama terakhir kita juga diawali dengan gue sama Galang yang lagi bisik-bisik. Terus papa persis ngomong kaya gitu. Dan mama persis nambahin kayak gitu.

"Udah, baca doa terus makan!"

"I-iya."

Terus kita berempat mulai makan. Dengan gue yang masih mikirin de javu itu.

Mantan Rasa Pacar(Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang