Hidup memang tak selalu sesuai dengan harapan kita. Tak selalu bisa di kendalikan. Selalu berubah, tak akan statis dan tak bisa selalu teratur.
Terkadang di temukan pada kesenangan, terkadang juga di hadapkan dengan ujian yang menguras batin.
Pernah ada beberapa orang yang saling berjuang keras melawan arus takdir, sama-sama begitu menyayangi namun nyatanya keadaan tak bisa mengabulkan permintaan masing-masing.
Yang dulu berfikir bagaimana caranya mendapatkan untuk saling membahagiakan, akhirnya berfikir keras bagaimana caranya saling melepaskan, namun yang tak begitu menyakitkan.
Seperti aku dengan Niar. Dulu Kita selalu mencari cara bagaimana agar kita lekas bersatu, mewujudkan segala impian. Hidup bersama, dalam keluarga kecil yang beratapkan bahagia.
Namun kini terasa terbalik, bagaimana caranya melepaskan. Sementara ada hatiku dan hatinya masih rapat berpelukan. Memaksa lepas namun sangat menyakitkan, perlahan-lahanpun tentu tidak mudah untuk di lakukan.
Dan pada akhirnya hanya berusaha melepaskan dengan perasaan yang masih melekat di hati masing-masing.
Tentu menyakitkan, mimpi yang telah di bangun dengan banyak perasaan, namun di hancurkan seketika dengan perpisahan.
Atau mungkin cara seperti inilah yang membuat kita mengerti, bahwa sejauh ini kita memang benar-benar tulus mencintai seseorang. Bukan hanya sekedar mengaku mencintai. Barangkali dengan rasa sakit itu kita di buat percaya bahwa cinta kita itu ada.
Ya meski pada akhirnya, ada cinta baru yang telah mengisi hidupnya. Dan mungkin aku hanya sesuatu yang di ingat ketika kesepiannya.
Seperti itulah hidup. Aku yakin, sebentar atau lama, kita pasti pernah hidup di lamunan dan Do'a seseorang. Sebelum akhirnya berganti, menjadi orang asing yang hanya di ingat sesekali.
Di dalam keadaan ini, aku tak pernah sedikitpun membenci Niar. Aku hanya benci dengan diriku sendiri. Karena sejauh ini telah berlebihan dalam berekspektasi. Merasakan cinta membawa anganku terbang tinggi. Hingga tak menyadari, bahwa resiko terjatuh itu akan selalu ada di hidup ini.
Masih pada cerita yang sama dengan kesalahan yang sama. Beberapa orang akhirnya menyadari, penyebab kecewa sejauh ini karena terlalu beranggapan berhasil Melengkapi, padahal sebenarnya sejauh ini hanya di minta untuk menemani. Merasa tergantikan, padahal sebenarnya tidak benar-benar mengisi kekosongan.
Ini bukan suatu kesalahan. Aku yakin ini sudah di rencanakan. Selalu ada alasannya mengapa aku dan Niar di pertemukan.
Barangkali untuk mendewasakan sikap ku yang kekanakan. Atau barangkali memberikan ku pengertian bahwa cinta tak hanya butuh keyakinan dan ketulusan. Tapi juga butuh keberanian. Keberanian mendekati, juga keberanian untuk lebih dulu meminta. Dalam artian lebih dulu meminta kepada orang tuanya.
Kita tidak bertemu di waktu yang salah, begitu juga tidak memiliki perasaan cinta yang salah.
Karena pertemuan dan perpisahan juga tak selalu bisa di rencanakan.
Kesalahan kita terlalu beranggapan kita bisa mengendalikan keadaan menjadi seperti apa yang kita inginkan.
Lupa bahwa tugas kita hanya sebatas berusaha, bukan menentukan. Karena hasil dari segala usaha, tetap semesta yang menentukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
merelakan
RomanceAwalnya semua yang aku lalui terasa begitu berat. Karena aku sedang sendirian. Seolah tak bisa menghadapi segala hal, hingga akhirnya datang seseorang yang bersedia menemaniku berjalan. Bersedia menguatkan saat aku kelelahan, menemani saat kesepian...
