Sudah ada banyak hari yang aku lewati tanpa Niar. Terselip banyak tanya di dalam kepalaku. Niar apa kabar. Bahagiankah dia dengan lelaki itu?
Tanpa di sadari, aku masih kerap mengingatnya.
Terlalu sering di tugaskan mengingat, barangkali itulah alasan sederhana mengapa kita sulit untuk melupakan sesuatu.
Mereka bilang ini hanya perkara waktu. Akan ada saatnya aku akan melupakan segalanya. Termasuk nyeri dan rasa sakit ini.
Mereka lupa, Bahwa waktu tidak bisa menyembuhkan luka batin. Waktu hanya membuat kita jadi lupa akan luka.
Ya memang terkadang kita butuh orang lain untuk menyembuhkan. karena orang lain bisa membuat kita pelan-pelan melupakan kebiasaan dengan orang di masalalu kita.
Di sadari atau tidak, orang yang gampang move on itu karena dia menemukan orang yang tepat untuk berbagi cerita dan berbagi keluh kesah. membuat kebiasaan baru untuk pelan-pelan meninggalkan kebiasaan yang lama. Dan tentunya juga memaafkan siapa saja yang sudah menyakiti.
Dalam pelajaran hidup, di lukai dan melukai itu biasa , ya kembali ke diri sendiri lagi. Kalau kita berani mencintai, kita harus siap di lukai.
Kita berani mendekat,kita harus siap jika suatu saat berjauhan. Kalau kita sudah tahu bahwa resiko jatuh itu sakit, kita juga harus berani untuk bangkit.
Dan sadari pikiran juga kalau yang namanya luka bukan hanya dalam hubungan pendekatan.
Bahkan dalam pernikahan juga ada masalah yang bikin sakit hati. kita sebagai manusia harus siap dan bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam hidup kita sendiri.
Aku tak bisa pergi menjauh dari luka, karena sejauh apapun aku berjalan, secepat apapun aku berlari, luka tetap saja ada di dalam diriku.
kita tidak bisa 'lari' dari luka, itu sudah jadi bagian dari kita, tugas kita adalah berdamai dengan diri sendiri lewat kesadaran.
Kesadaran bahwa ini sudah semestinya terjadi. Aku tidak membenci hal ini. Aku tidak berlebihan menyalahkan diriku Sendiri. Aku juga tidak membenci niar.
Bahkan ketika terakhir kali aku melihat foto kebersamaannya di sosial media, aku tersenyum melihatnya. Yang ada di hatiku hanya kalimat "semoga kamu selalu bahagia bersamanya".
Karena tak jauh berbeda dengan inginku, bersama Niar, aku juga ingin membahagiakannya. Bukan untuk merampas segala yang ada pada dirinya.
Dari sini aku tahu satu hal lagi.
Bahwa balas dendam terbaik kepada orang yang telah menyakiti kita adalah memaafkan kesalahannya dan mendo'akan segala kebaikannya.
Entah apa yang lebih tulus dari hal ini.
Memang ada waktunya mengaku kalah sama hidup, menyerah sebentar lalu bangkit lagi, bukan dikit-dikit lari dari kenyataan, seseorang yang jiwanya sudah bertumbuh dewasa akan memilih belajar untuk berani menghadapi kenyataan.
Tidak ada yang namanya hidup selalu sesuai dengan yang kita mau. Selalu ada waktunya untuk belajar menerima dan ikhlas.
Setiap saat adalah kesempatan untuk merelakan kepergian dan kepahitan hidup dengan ikhlas.
KAMU SEDANG MEMBACA
merelakan
RomanceAwalnya semua yang aku lalui terasa begitu berat. Karena aku sedang sendirian. Seolah tak bisa menghadapi segala hal, hingga akhirnya datang seseorang yang bersedia menemaniku berjalan. Bersedia menguatkan saat aku kelelahan, menemani saat kesepian...
