Johnny tetap memaksa mau mengantarku pulang, ia sampai memintaku memotret wajahnya lalu dikirim ke nomor orang tuaku. Katanya agar aku percaya bahwa dia bukanlah orang jahat
Tidak seperti kemarin, hari ini Johnny pergi dengan mobilnya. Ia bilang, ia takut jika hal seperti di halte kemarin terulang, jadi ia berkendara sendiri dengan mobilnya yang ia parkirkan di hotel
Mau tak mau aku pun diantar pulang oleh Johnny, dan sekarang kita sedang berjalan menuju tempat mobil Johnny di parkirkan
"Apakah kau bekerja besok?" Tanya Johnny
"Tidak, besok aku libur"
"Apa kau bisa menemaniku berkeliling Kota Bandung? Ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi, terlalu menyedihkan jika aku pergi sendiri" Johnny menertawakan dirinya "Aku ke Bandung sendiri, aku menginap di hotel jalan Tamansari. Aku tak memiliki teman disini" Lanjut Johnny
"Lalu kenapa kau memilih Bandung untuk berlibur?"
Johnny masih belum menjawab pertanyaanku karena kami sudah sampai disamping mobil Johnny
"Entahlah, aku sedang pusing karena skripsi dan ingin pergi berlibur selama satu minggu. Aku memilih Bandung karena jaraknya yang tidak terlalu jauh" ucap Johnny ketika sudah menyalakan mesin mobil
"Oh, kau mahasiswa akhir? Haruskah aku memangilmu dengan sebutan 'kak'?" Johnny malah tertawa kencang "tak perlu seperti itu. Santai saja, aku tidak menerapkan pandangan senioritas orang lain padaku. Lagipula kau temanku, bukan adik tingkatku" aku mengangguk
"Kau sendiri semester berapa?"
"Aku semester tiga—oh tidak, aku baru saja mengisi krs minggu lalu, sekarang aku semester empat" lagi-lagi Johnny menanggapinya dengan tertawa
"Kau lucu" ucap Johnny yang melirik ke arahku sejenak
Sempat sunyi selama lima menit di dalam mobil yang sedang melaju pelan di jalanan macet. Bandung tidak semenyenangkan yang orang bilang. Bandung juga sama saja seperti Jakarta, sering macet dan bahkan sekarang Bandung memiliki julukan baru sebagai kota termacet di Indonesia.
Ketika siang hari, Bandung akan sangat panas dan ketika musim hujan, beberapa jalanan akan terendam banjir
"Lalu, apakah kau bisa menemaniku besok?"
"Entahlah, aku harus meminta izin pada ibu terlebih dahulu"
"Baiklah, kalau begitu boleh aku me—" Ucap Johnny tak sempat meneruskan kalimatnya "nanti bisa kau meminta izin pada ibuku? Agar ia tahu dengan siapa aku pergi"
"Baiklah, aku akan bicara pada ibumu"
Aku tahu Johnny mau meminta nomor ponselku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau memberikan kontakku pada sembarang orang, apalagi Johnny baru saja ku kenal
Hampir satu jam akhirnya sampai juga di rumah. Padahal jika tidak macet, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai
Ini malam minggu, jadi tidak aneh jika jalanan di Kota Bandung akan sangat macet
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil ibu" ucapku setelah membiarkan Johnny duduk di ruang tamu
Di rumah hanya ada ibu dan Doni, adikku. Saat sampai di rumah, ibu dan Doni sedang menonton tv di ruang tv selagi menunggu aku pulang untuk makan malam bersama
"Ibu, ada temanku. Yang kemarin ku ceritakan" aku duduk disamping ibu yang sedang menonton acara tv
"Yang kemarin hampir saja kecopetan? Apakah dia sudah menjadi temanmu?" Aku mengangguk
Ibu langsung berdiri dari duduknya "ibu akan membuat teh terlebih dahulu. Sebaiknya kau kembali ke ruang tamu" ucap ibu lalu pergi ke dapur dan aku kembali ke ruang tamu
"Ibu sedang membuat teh, tunggu sebentar" ucapku pada Johnny
"Kenapa aku gugup? Aku seperti seorang lelaki yang akan meminta izin membawa kekasihnya pergi berlibur" ujar Johnny sambil tertawa ringan
"Maaf. Aku hanya tidak mau membuat ibu khawatir. Apakah aku terlalu berlebihan?" Tanyaku
"Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku hanya gugup"
"Apakah ini Johnny?" Ibu datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh
"Ah, selamat malam tante. Maaf mengganggu waktunya" Johnny berdiri lalu menyodorkan telapak tangannya
"Panggil Ibu saja. Semua teman Lia memanggilku Ibu"
"Baiklah, Bu"
"Terima kasih sudah mengantar Lia pulang. Apakah ia merepotkanmu?" Tanya Ibu
"Tidak. Aku harus berterima kasih pada Lia karena sudah membantuku tempo hari" ujar Johnny "aku kemari mau meminta izin pada Ibu. Ah—bukan sesuatu yang serius, aku hanya ingin mengajak Amelia berkeliling besok" Johnny benar-benar terlihat gugup
"Ibu tak masalah, asal kau membawa kembali Lia ke rumah" Ibu tertawa ringan
"Bu, ayo makan" bukan aku, itu Doni yang berbicara
"Doni kemarilah" panggil ibu pada Doni yang mengintip dari balik tembok "ada teman Kak Lia"
Doni berlari kecil menghampiri Ibu lalu bersalaman dengan Johnny. Doni masih kelas 5 SD, jarak antara aku dan Doni memang cukup jauh
Setelah percakapan singkat, Johnny langsung pamit ketika Ibu menagajaknya untuk makan malam. Ia menolak dengan alasan takut terkena macet yang lebih parah
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 7, Johnny sudah berada di depan rumah saat aku masih sibuk menjemur pakaian
"Apa aku datang terlalu pagi?" Tanya Johnny yang sekarang sudah duduk di teras depan rumah
"Mungkin iya, mungkin tidak" jawabku yang masih sibuk menjemur dengan menggunakan baju tidur pendek. Aku juga tidak memoles wajahku, bahkan aku belum mandi
Johnny bukan kekasihku atau semacamnya, jadi aku tak perlu repot menjaga image didepannya. Kalaupun Johnny merasa ilfeel, aku tak peduli. Itu urusannya. Kalau ia jadi tak mau pergi denganku pun tak masalah bagiku
"Aku tak memiliki kontakmu dan aku bingung harus menjemputmu jam berapa. Jadi aku datang pagi, tapi ternyata ini terlalu pagi" Johnny menertawakan dirinya
To be continued....
KAMU SEDANG MEMBACA
Bandung [✓]
Short Story"Jika doa bukan sebuah permintaan, setidaknya itu adalah pengakuan atas kelemahan diri manusia di hadapan Tuhannya" -Pidi Baiq ☆short story, don't expect too much☆ Kalau suka, boleh vote atau follow. Kalau tidak suka, ya tak apa, skip saja😊
![Bandung [✓]](https://img.wattpad.com/cover/198039646-64-k505710.jpg)