Bab 6 – "Tidak bisa sekarang"
Membayangkan bahwa malam ini akan menjadi malam pertamaku dengan Devano membuat jantungku tak berhenti berdebar kencang. Perutku terasa mulas, dan entah perasaan apa lagi yang sedang kurasakan saat ini. Aku bingung, bagaimana kami akan memulainya.
Ya Tuhan, sejak kapan pikiranku jadi sejorok ini?
Saat ini aku sedang berada di sebuah rumah kecantikan. Melakukan spa dan sejenisnya. Tentunya bersama dengan Rayya. Aku sudah bercerita semuanya padanya, dan dia mendukung sepenuhnya hubungan baruku dengan Devano. Dia bahkan yang mengajakku ke tempat seperti ini.
"Dia akan menyentuh kamu untuk pertama kalinya, maka jangan buat dia kecewa."
Perkataan Rayya itu terputar berkali-kali dalam benakku. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa memuaskan dia? Apa dia akan selingkuh dengan perempuan lain?
Aku menggeleng cepat hingga kudengar Rayya terkikik.
"Kenapa?" tanyaku padanya.
"Kamu lucu. Astaga! Rileks saja. Pasti kamu lagi bayangin yang enggak-enggak."
"Aku enggak bayangin apa-apa." Aku mengelak.
"Ya ampun. Kalau aku malah bayanginnya, gimana, ya ... apa Devano panas banget? Kaku? Atau ...."
"Cukup, Ra!" seruku. "Kamu kan punya suami, bayangin saja suami kamu sendiri," gerutuku. Kurasakan pipiku memanas ketika membayangkan apa yang dikatakan Rayya.
Ya, aku juga sejak tadi membayangkan, apa yang akan kami lakukan nanti? Bagaimana dia memulainya? Apa dia akan panas dan menggoda? Atau kaku dan datar-datar saja?
Ya Tuhan, aku bisa gila!
"Tess, kamu juga harus mikirin, bagaimana gaya yang pas untuk memuaskan dia nantiya," bisik Rayya sembari terkikik geli.
"Rayya!" Aku berseru keras. Tak menyangka bahwa Rayya akan mengucapkan hal itu. Membayangkannya saja membuatku berdebar tak keruan.
Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan aneka gaya yang cocok untuk kami nanti?
Ya Tuhan!
***
Sore akhirnya datang dan Devano telah pulang. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, seakan tak menghiraukan aku yang sudah duduk menantinya di pinggiran ranjang.
Apa dia tidak suka aroma tubuhku dari spa? Atau ... apa dia memang sengaja mengabaikan keberadaanku dan melupakan percakapan kami tadi pagi, bahwa kami akan memulainya malam ini?
Aku mendengkus sebal. Meski begitu, aku masih setia menunggunya. Cukup lama dan sangat lama malah. Hingga kemudian, keluarlah dia dari dalam kamar mandi sudah mengenakan T-shirt santainya dan celana piyamannya.
"Sudah makan?" tanyanya yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Makan? Ayolah, perutku sudah mulas sejak tadi siang. Aku tidak bisa menelan sesuap nasi pun karena memikirkan malam ini.
"Belum," jawabku pendek.
"Kalau begitu kita makan dulu," ucapnya melenggang menuju ke meja rias, menata rambutnya sedikit, hingga tampakklah wajah tampan terkutuknya.
Sialan.
Devano melangkah meninggalkan kamar, tapi kemudian menoleh kepadaku yang tidak bergerak sedikit pun. "Kamu mau saya bawakan makan malam ke dalam kamar ini?"
"Aku bingung. Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin kamu masih memikirkan makan malam?"
"Keadaan seperti apa?"
"Ya Tuhan! Aku bahkan enggak bisa berpikir jernih sepanjang hari karena memikirkan malam ini. Tapi kamu ... kamu malah santai seperti enggak akan terjadi apa pun."
Devano berjalan mendekat, bahkan berjongkok di hadapanku. "Jangan khawatir. Kita akan baik-baik saja."
"Baik-baik saja? Mungkin kamu bisa begitu, tapi aku enggak."
"Lalu, apa yang kamu inginkan dari saya? Membatalkan semuanya? Jangan mimpi."
"Pertama, aku enggak suka sama sikap kaku, datar dan formal kamu ini. Ini kelewatan."
"Saya sudah seperti ini adanya. Saya juga kurang suka dengan sikap kamu yang cerewet. Tapi saya tidak menuntut lebih."
"Tapi kita akan bercinta. Astaga," lirihku. "Seenggaknya buat aku agar nyaman melakukan hal ini," sambungku.
"Jadi kamu merasa tidak nyaman?"
"Bukan begitu," jawabku cepat. "Aiishh, lupakan!" Aku bangkit dan bersiap meninggalkan Devano. Tapi secepat kilat dia ikut bangkit meraih tubuhku dan menggulingkan tubuh kami jatuh di atas ranjang. "Apa yang kamu lakukan?" pekikku terkejut.
"Kamu ingin saya memulainya sekarang?" tanyanya.
Seketika aku semakin panik dibuatnya. "Apa? Aku ... aku enggak—"
Dan aku tak sanggup melanjutkan kalimatku ketika tiba-tiba Devano mendaratkan bibirnya ke bibirku, mencumbuku dengan panas. Sementara jemarinya membawa kedua lenganku dan memenjarakannya di atas kepala. Membuatku tenggelam dalam keterkejutanku, larut dalam lumatan lembut bibirnya.
Ya Tuhan, dia sangat pandai berciuman. Bibirnya terasa menggodaku. Membuatku kewalahan dengan kenikmatan yang dia berikan.
Aku mengerang pasrah mengikuti alur permainannya. Lalu membalas cumbuannya begitu saja. Karena jujur saja, dia begitu menggoda hingga aku tak sanggup untuk menolaknya.
Kami berciuman, bercumbu mesra satu sama lain dengan posisi Devano menindih tubuhku, memenjarakan kedua lenganku dengan begitu berkuasa. Hingga kemudian, dia menghentikan aksinya.
Devano menatapku dengan intens dan napas memburu. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Kemudian, dalam sekejap mata, dia bangkit meninggalkanku yang masih berantakan di atas ranjangnya. "Tidak bisa sekarang. Tidak bisa seperti ini," gumamnya pergi meninggalkan kamar kami.
Hei, apa dia benar-benar memiliki kelainan?
Ya Tuhan, aku bisa gila!
-TBC-
KAMU SEDANG MEMBACA
Tessa
Roman d'amourTessa tidak menyangka dirinya mendapatkan lamaran secara tiba-tiba dari teman mamanya, tapi dia lebih tidak menyangka bahwa pria yang dijodohkan dengannya akan memberinya kontrak untuk pernikahan mereka. Namun, walaupun harus menghadapi sikap membin...
Wattpad Original
Ini bab cerita gratis terakhir
