Bab 5 – "Kita sama-sama pemula"
Jika saat ini ada penghargaan untuk orang yang paling tolol di muka bumi ini, mungkin orang yang tepat mendapatkan penghargaan itu adalah aku. Awalnya, aku mengira bahwa Devano akan menciumku.
Baiklah. Mungkin itu karena ucapan dia sebelumnya, atau mungkin memang karena aku yang menginginkan hal itu. Aku tak tahu mana yang pasti. Yang jelas, dia tidak melakukannya.
Cukup lama aku terpejam, tapi aku tidak merasakan sesuatu yang basah menyentuh bibirku. Kuberanikan diri membuka mata sedikit demi sedikit, dan ternyata, Devano tampak bersedekap sembari menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Kamu sedang apa?" tanyanya dengan nada yang begitu menjengkelkan.
"Aku? Aku ...." Aku tidak bisa menjawab, karena saat ini aku adalah orang yang paling tolol di muka bumi ini.
"Jangan berpikir macam-macam. Saya tidak akan mencium kamu saat ini."
"Aku juga enggak berharap bisa kamu cium."
"Lalu kenapa kamu menutup mata?"
Ya Tuhan, aku harus menjawab apa?
"Sudahlah lupakan." Karena kesal dan malu, aku memilih pergi dari hadapannya.
Tapi baru beberapa langkah melewatinya, Devano meraih pergelangan tanganku, menarikku hingga membuatku berhenti dan menatap ke arahnya. Pada saat bersamaan, Devano menundukkan kepalanya dan ....
Cup
Dia mengecup singkat bibirku. Hanya sebuah kecupan, dan amat sangat singkat. Tapi jantungku seakan meledak saat itu juga.
"Anggap saja ini sebagai tanda jadi kesepakatan kita semalam," ucapnya yang kemudian dengan begitu menyebalkan melangkah keluar meninggalkanku yang masih ternganga seperti orang tolol yang baru saja kehilangan jiwanya.
***
Kecupan sialan itu membuatku semakin sulit mengendalikan diri saat berada di dekat Devano. Seperti saat ini, ketika kami sudah pulang.
Mama Sarah menyambutku bahagia, tapi aku sama sekali tidak memperhatikannya. Karena perhatianku tertarik hanya pada Devano—pada wajah tampannya, ekspresi datarnya, dan juga bibir sialannya yang tadi baru saja mengecupku.
Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi denganku? Kenapa dia harus mengecupku tadi?
Devano mengajakku menaiki tangga menuju ke kamar kami. Dan mengingat kata kamar saja sudah membuatku deg-degan.
Sialan. Aku tidak bisa seperti ini terus.
Devano masuk dan mempersilakanku masuk. Setelahnya, dia menutup pintu kamar dan membalikan tubuhnya mengahadapku. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Apa? Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi. Dan aku tidak mengerti apa maksud dari pertanyaannya tersebut.
"Aku enggak ngerti apa maksudmu," kataku.
"Kamu. Kenapa kamu tidak berhenti menatap saya seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Kamu salah tingkah?" tanyanya.
Sial, aku ketangkap basah. Pipiku memanas karena rasa malu.
"Saya tidak suka diperhatikan. Jadi berhenti mengamati saya seperti saya adalah orang aneh yang menarik perhatian kamu."
"Kamu memang aneh." Aku menjawab cepat karena kesal. "Kamu bahkan enggak membahas tentang apa yang kamu lakukan sama aku di kamar hotel tadi," sambungku.
Ya, dia tidak membahasnya sama sekali. Maksudku, aku butuh penjelasan. Kenapa dia melakukan hal itu? Well, dia memang sudah mengatakan, bahwa itu sebagai tanda jadi. Tapi ayolah, aku ingin lebih spesifik lagi alasannya. Seperti mungkin dia tidak sabar menciumku atau apa. Aku muak dengan sikap datar dan formalnya.
"Saya sudah bilang, itu sebagai tanda jadi, bahwa kesepakatan kita baru saja dimulai."
"Alasan itu terlalu formal. Aku enggak suka," ucapku bersungut.
"Kamu butuh alasan seperti apa?"
Ya Tuhan, apa dia memang tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan sebelumnya? Jangan-jangan dia beneran gay.
"Dev, aku jadi sangsi. Jangan-jangan kamu enggak suka dengan lawan jenis, ya?"
"Maksud kamu?"
"Gay. Jangan-jangan kamu gay," jawabku. "Astaga! Kamu bahkan enggak mengerti apa yang diinginkan perempuan," sambungku.
"Saya tidak gay. Saya akan membuktikan hal itu nanti malam," jawabnya penuh penekanan.
Mataku membulat seketika dengan jantung berpacu lebih cepat. Tak percaya, jika Devano akan menjawab kalimatku dengan ucapannya yang penuh penekanan tersebut. Dan ... nanti malam? Maksudnya?
"Maksud kamu ... kamu ... kita ...."
"Ya, nanti malam kita akan memulainya."
"Hei, tapi aku belum bersiap-siap."
"Apa yang perlu disiapkan?"
Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus disiapkan. Mungkin aku perlu ke salon untuk luluran seharian. Memotong kuku-kukuku agar tidak mencakarnya. Atau mungkin aku harus melakukan brazilian wax sekalian.
Devano mendekat, sementara aku mundur dengan spontan sembari menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku.
"Kamu tidak perlu takut. Saya bukan seorang maniak. Ini juga akan menjadi yang pertama kalinya untuk saya."
Mataku kembali membulat menatapnya. "Pertama kalinya? Maksudnya ... kita sama-sama masih pemula?"
Devano tampak mengerutkan keningnya. "Pemula? Saya tidak tahu apa maksud kamu. Tapi meski begitu, saya tidak sepolos yang kamu kira. Saya tahu apa yang harus saya lakukan dan mana yang harus saya sentuh."
"Hei, berhenti mengatakan hal itu."
"Kenapa? Perkataan saya tidak vulgar."
"Memang enggak, tapi membuat bulu kudukku meremang. Kamu cukup mengatakan, jika kamu bisa membuat bayi tanpa harus memperjelas apa yang harus kamu sentuh," gerutuku.
Tanpa kuduga, Devano semakin melangkah mendekat, dan dengan spontan aku mundur menjauhinya. Wajahnya memucat seketika. Dia memang pernah mengatakan, jika benci penolakan, tapi aku tidak sedang menolaknya. Maksudku ... aku hanya mengantisipasi apa yang akan dia lakukan terhadapku.
Ya Tuhan, dia sangat misterius.
Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah dia menatapku dengan tatapan marahnya, lalu mundur menjauhiku. "Saya akan kerja. Sepulangnya nanti, saya tidak mau melihat penolakan lagi."
Setelah itu dia berlalu meninggalkanku yang hanya ternganga di tengah-tengah kamar kami.
-TBC-
KAMU SEDANG MEMBACA
Tessa
Roman d'amourTessa tidak menyangka dirinya mendapatkan lamaran secara tiba-tiba dari teman mamanya, tapi dia lebih tidak menyangka bahwa pria yang dijodohkan dengannya akan memberinya kontrak untuk pernikahan mereka. Namun, walaupun harus menghadapi sikap membin...
Wattpad Original
Ada 1 bab gratis lagi
