Wattpad Original
Ada 4 bab gratis lagi

Bab 2 - Saya tidak suka Penolakan

57.2K 4.7K 129
                                        

Bab 2 – "Saya tidak suka penolakan"


Aku tidak tahu, kenapa bisa menjadi semelankolis ini. Aku tak berhenti menangis karena kesal.

Tentu saja. Aku dicampakkan begitu saja di jalan yang tidak aku kenal. Beruntung aku membawa ponsel. Aku menghubungi Rayya dan meyakinkannya hingga dia mau menjemputku. Dan kini, aku berakhir di kamar tamu rumahnya. Sudah dua hari aku tinggal di rumah temanku itu. Dan tidak ada yang mencariku.

Aku tidak tahu kenapa, jika bukan Mama yang menghubungiku kemarin dan aku mengatakan jika sedang liburan di Bali dengan teman-temanku, mungkin aku masih tetap bingung dengan orang rumah yang tidak ada yang mencariku.

Rupanya Devano sudah mengatasinya. Mungkin dia mengatakan pada Mama Sarah kalau aku sedang bersenang-senang dengan temanku. Dasar lelaki licik.

Aku keluar dari kamar dengan wajah lesu. Dan Rayya menyambutku di meja makan. Mengajakku untuk sarapan bersama.

"Ciee, yang pisah sama suaminya dua hari! Kayak mayat hidup saja kamu, Non," ledek Rayya.

Aku menuju ke lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral. Sembari memutar bola mataku ke Rayya. "Aku lagi enggak ingin bercanda."

Rayya malah terbahak karena ucapanku. Dasar gila.

"Tapi aku enggak habis pikir, deh, Tess. Suamimu itu benar-benar menyebalkan dan enggak punya hati, ya. Masak kamu kabur selama dua hari tapi dia enggak nyari kamu?" Rayya masih tertawa lebar. Membuatku semakin kesal.

Aku menuju meja makan, dan tanpa sungkan meraih selembar roti dan mengolesnya dengan selai cokelat. "Dia itu gila. Bahkan dia bilang sama orang rumah kalau aku sedang liburan ke Bali."

"Apa?!"

"Ya. Mama telepon dan bilang, kalau aku harus jaga diri di Bali. Siapa lagi yang memberi alasan aku ke Bali, kalau bukan Devano?"

"Woww, suamimu kayaknya cocok tuh jadi aktor!"

Aku mendengkus sebal.

"Sayang, coba cerita, dong, gimana keseharian Devano di kantor?" tanya Rayya dengan manja pada suaminya.

Faktanya, bahwa suami Rayya merupakan salah satu karyawan DS Group. Tentu saja dia mengenal Devano yang secara teknis adalah atasannya.

"Pak Devano itu misterius. Enggak semua karyawan kantor mengenal dia, bahkan pernah bertemu sama dia."

"Masa sampai segitunya, sih?" tanya Rayya.

"Iya. Semua urusannya diurus sama sekretaris pribadinya. Enggak semua orang bisa dengan suka hati bertemu, apa lagi keluar masuk ruangannya."

"Membosankan. Itulah kata yang cocok untuk dia," gerutuku menyantap roti selaiku.

"Aku punya ide." Rayya mendekat ke arahku. "Tess, kenapa kamu enggak mencoba membuat dia tertarik sama kamu? Menggodanya mungkin. Aku yakin, jika dia enggak akan mampu menampik godaanmu. Kayaknya seru membayangkannya," usulnya.

Mataku memutar ke arahnya. "Ra, bukannya kamu sendiri, ya, yang bilang, kalau dia itu gay? Jadi untuk apa aku membuang waktu menggoda laki-laki gay?"

Baiklah. Rayya memang pernah berkata, jika kemungkinan Devano adalah penyuka sesama jenis. Tapi aku tak percaya. Laki-laki gay tak akan seperti itu.

"Tapi kalau dilihat-lihat, kayaknya dia enggak gay deh, Tess."

"Pokoknya aku enggak mau menggoda dia. Yang benar saja. Mau ditaruh di mana harga diriku?"

TessaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang