Character meminjam dari novel Ma Dao Zhu Shi atau Grand Master Of Demonic Cultivation milik Mo Xiang Tong Xu sementara isi cerita milik Author asli.
Lapak ini mengandung unsur BxB alias Homo Area. Bagi yang HomoPhobic silahkan diminta dengan hormat untuk hengkang.
Jika terjadi kesamaan kisah dan tempat, itu murni hanya karena dari potongan imajinasi author.
Mohon maaf jika terjafi kesalahan menulis gelar dan nama tokoh kesayangan serta tulisan yang tidak sesuai EYD dan diksi serta Typo tidak bermartabat yang bertebaran.
Menerima kritik dan saran yang membangun. Tapi tolong pergunakan bahasa yang baik dan sopan. Ucapan dan ketikan kata anda mencerminkan karakter anda.
Happy reading minna san. Take your time and See You 😉😉
♤♡♤♡♤♡♤♡♤♡♤♡♤♡♤♡♤♡♤
Semilir angin sore itu berembus pelan, menerbangkan daun-daun maple kemerahan yang mulai meranggas di musim ini. Aroma tanah basah setelah siang tadi di guyur gerimis musim gugur, menyapa indra penciuman Lan WangJi begitu dia menjejakkan kaki turun dari mobil di halaman depan rumah bergaya Eropa milik sang kesayangan.
Dengan langkah anggun penuh wibawa Lan WangJi memasuki rumah, dari beberapa pelayan yang sudah sangat mengenalnya, dia tahu sang pujaan hati saat ini berada di teras belakang.
Tanpa buang waktu, Lan WangJi segera melangkahkan kaki ke tempat sang terkasih berada. Ketika dia tiba dia di ruang tengah yang luas dan bernuansa kayu, Lan WangJi menghentikan langkah.
Dia melihat keluar, menembus pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan teras belakang. Di lihatnya sang kekasih tengah duduk melipat kedua kaki di ayunan rotan berwarna hitam dengan sebuah buku tebal di pangkuan, sementara Wei WuXian menunduk tampak focus dengan apa yang ia baca.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelan celana panjang dan kaos lengan panjang abu-abu menjadi outfit yang tampak menghangatkan tubuh sang kekasih. Tanpa sadar, Lan WangJi mengembangkan senyum tipis melihat sang kekasih tampak menggemaskan dengan caranya. Namun, senyum samar yang sempat berkembang menjadi kerutan heran ketika dilihatnya ekspresi Wei WuXian yang tiba-tiba merengut kesal kemudian melempar buku yang semula di pangkuan ke lantai begitu saja.
Dilihatnya sang kekasih segera berdiri, tampak mengomel tidak jelas dengan menunjuk-nunjuk sang korban yaitu buku yang tak berdaya dan menyumpah serapah entah apa.
Khawatir, Lan WangJi segera menghampiri sang kekasih, “Wei Ying” Suara datar menyapa pendengaran Wei WuXian.
“Lan Zhan!” Tanpa buang waktu lagi, Wei WuXian segera melemparkan diri dalam pelukan erat Lan WangJi, “Hiks”
“Ada apa?” Walau datar, suara yang sarat akan kecemasan itu mengalun begitu saja saat tiba-tiba Wei WuXian tanpa ada badai yang datang terisak di bahunya.