Sad story but happy ending
Bae Suzy, putri tunggal dari pasangan trillionaire dunia. Semua yang ia mau akan didapatkannya hanya dengan satu jentikan jari. Sifatnya yang manja dan begitu tertarik pada modeling membuat dunia pun menyukainya, bahkan me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kim Elementary School. Seoul, South Korea | 08:40 AM.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"I hate music lessons." Suzy mendengus pelan, membenarkan letak cardigannya yang sedikit jatuh. Kedua tangannya ia lipat didada, memandangi malas penjelasan dari Nona Berta, guru musik yang didatangkan langsung dari luar negri oleh sekolah, lulusan stanford. Wanita muda itu sedang menjelaskan tentang praktek musik yang akan mereka lakukan. Ada tiga alat musik pilihan. Piano, biola, dan cello. "I can pay for my grades."
Jongin terkekeh pelan. Suzy memang sebenci itu pada musik, tapi dari tiga alat musik yang akan dijadikan bahan praktek itu, tidak ada satupun yang tidak bisa ia mainkan. "Nona Berta adalah guru yang keras, Zy-ya. Dia tidak akan menerima uangmu."
"Gosh, how arrogant." Suzy berdecih kesal. Sementara itu praktek berjalan, satu-persatu murid sesuai urutannya mulai memainkan pilihan alat musik. Yang paling banyak dipilih, tentu saja piano. Yah, faktanya untuk sekelas anak-anak chaebol, setidaknya mereka harus bisa memainkan piano. "By the way, where is Taehyungie?"
Jongin mengangkat bahunya acuh, sahabatnya yang satu itu memang belum terlihat dari bel masuk dibunyikan. "Mungkin sakit perut."
"But, chefs always pay attention to Taehyungie's food. How can he have a stomachache?" Suzy mengernyit bingung sekaligus cemas. Gadis itu bangkit dari kursinya, mencoba mencari-cari Taehyung diantara puluhan anak yang lain. Mendecak sebal saat ia tidak dapat menemukannya, membuat beberapa murid berbalik, menatap Suzy yang duduk dikursi paling belakang itu dengan pandangan aneh.
"Semua orang melihat." Jongin menarik paksa Suzy untuk duduk, lantas melemparkan tatapan tajam pada anak-anak lain yang masih saja menatap aneh pada mereka untuk kembali tidak peduli. "Dia akan datang sebentar lagi. Nomornya masih lama. Dan, ini sudah penampilan ke-9, Zyzy."
Suzy melirik tajam kearah Jongin. Mendadak mendiamkan tubuhnya, hanya fokus untuk menatap galak wajah tak berdosa dihadapannya. "Don't call me Zyzy, Kai. How disgusting." Protes Suzy, sedikit menjerit, memukul kesal Jongin yang masih menggenggam tangannya.