The Beginning (1)

23 4 0
                                        

Pegunungan adalah tempat asalku. Namanya perkampungan Rinder, Kampung ini bisa dibilang sebagai tempat pensiunan yang bagus karena bebas dari keributan, suasananya yang seperti menyatu dengan alam, angin sepoi-sepoinya yang sejuk apalagi dipagi hari, serta banyaknya serigala gunung yang jinak, Ini uniknya kampung halamanku, serigalanya. Membuat kampungku seperti tempat peristirahatan didunia.

Aku dari kecil sudah tinggal disini bersama Ibuku. Ia memiliki aroma khas lavender, pendek, Murah senyum, dan agak gendut bisa dibilang. Hanya Ibu dan juga nenek, yang tinggal tidak jauh dari rumahku, keluarga yang kumiliki sekarang.

Ayah melakukan perjalanan jauh dan aku pun masih belum mengerti kemana ia pergi. Ketika aku bertanya ke Ibu mengenai Ayah. Ia selalu berkata bahwa aku belum cukup umur mendengarkannya. Aku cukup kecewa mendengar apa yang ia katakan. padahal umurku sudah 16 tahun.

Sewaktu kecil, aku hobi membaca buku dirumah. terdapat perpustakaan mini dalam rumahku sehingga membuatku menjadi kutu buku diumur muda. Aku sering membaca buku mengenai Laut dan Kapal Laut. hampir seluruh isi rak buku terisi hal tersebut.

"Bu, Lautan itu dimana?" Tanyaku.

"Lautan itu sangat jauh dari sini Alpha sayang."

"Oh, kalau Kapal Laut? apakah tempatnya beda dengan laut?"

"Kapal Laut selalu berpasangan dengan laut. Tanpa Kapal Laut, orang tidak bisa menjelajahi laut."

"Begitu. Bagaimana dengan kakek? Ibu pernah bilang kalau kakek kita adalah mantan kapten kapal laut."

"Ya betul nak, kakek adalah kapten kapal perang. Dulu terjadi perang besar-besaran dilaut. Namanya perang naval. Kakek ikut dalam peristiwa itu."
Aku terkagum mendengarnya

"Aku ingin jadi kakek buyut kalau besar. Doakan aku ya bu."
Ibu seketika ketawa

"kenapa ibu ketawa? apa cita-cita itu lucu?" tanyaku dengan agak kesal.

Sambil mengatur nafas ia berkata
"Tidak nak, Cuma belum ada orang yang pernah ke laut di tempat kita tinggal. Orang-orang bilang melihat laut sama mustahilnya orang yang mati kembali hidup. Sama sekali tidak mungkin."

Mendengar hal tersebut, aku makin kesal sambil berpikir, Ibu apa yang berani menertawakan mimpi anaknya. Aku cukup memakluminya karena memang sifatnya yang jahil dan biasa berlebihan kalau bercanda, Aku langsung meninggalkan ibu.

Keesokan harinya, aku pergi mandi lalu bersiap ke sekolah. Roti campur selai serta susu hangat sudah cukup untuk sarapan pagiku. Aku sudah biasa membuat sarapan sendiri, Ibu selalu pulang larut malam karena pekerjaannya, walaupun saat ini sampai sekarang aku tidak mengetahui juga apa pekerjaannya.

Bangun pagi juga sendiri. Aku berpikir bahwa sudah hidup seperti di kos-kosan. Cukup menyedihkan, banyak orang yang menginginkan masakan orang tuanya dipagi hari. Aku cukup bersyukur, aku lebih menyukai mandiri daripada diurus. Aku tidak menyukai memberatkan orang lain demiku. Jika saja aku sudah tua dan berpenyakitan. Aku memilih tinggal ditempat terpencil jauh dari keluargaku.

Sesudah pulang sekolah, aku berencana menuju ke rumah nenek. Rasa penasaranku akan laut sudah diambang batas. Aku berjalan kaki kurang lebih 15 menit dan akhirnya sampai.

"Nenek. Cucumu datang menjengukmu" kataku sambil mengetuk.

"Tunggu sebentar"

Pintu rumah pun terbuka. Dengan senyum lebar akupun memeluk nenek lalu masuk ke dalam.

"Al tunggu disitu ya, nenek baru mau buat kue."

"Iya nek, Sekalian juga susu ya nek."

Sambil menunggu, aku menonton tv. Aku tahu nenek pasti selalu membuat kue setiap tamunya datang. Jadi aku datang. Perutku agak keroncongan sekarang, waktu yang pas menurutku.
Lama kelamaan, aku mulai ngantuk, dan akhirnya aku pun tertidur di sofa depan tv.

Aku memimpikan kakek yang berperang di perang naval. kakek berbadan kekar, hitam, punya tahi lalat di samping atas bibirnya, dan yang paling mencolok topi kaptennya yang lumayan besar, sampai-sampai hampir menutup semua kepala kakek. Ia kemudian memberi semangat kepada semua orang.

"Saat ini, detik ini. kita akan melawan mereka. Lupakan semua masalah yang kalian hadapi sekarang. Yang harus kalian ingat hanyalah bagaimana agar musuh kita bisa takluk. Aku tak mau mendengarkan ada yang berlari ketakutan atau bersembunyi. Kita adalah pasukan yang kuat. camkan kata-kata itu dalam hati terdalam kalian semua. Jadi tolong, kerahkan semua tenaga dan kekuatan kalian, bantulah kapten tua ini."

teriakan para kru kapal langsung menggema. mereka semua kelihatan tambah bersemangat dan tidak ada lagi yang memikirkan masalah sekitarnya. mereka berteriak bukan karena ingin menang, tetapi karena ingin dikenang bahwa mereka semua pernah berjuang dikapal ini. Kakek kemudian naik ke bagian depan kapal. Dengan gagah berani dan sigap, ia memerintahkan para anak buahnya. semua mengurus bagian meriam, kapal musuh sudah mendekat.

"Tunggu aba-aba dariku. bersiap!"

Para anak buahnya tinggal menunggu aba-aba dari kaptennya. mereka semua kelihatan berkeringat dan tegang.

Tiba-tiba Kakek mengambil alih lalu membanting penuh kemudi kapal. Seketika meriam sudah menghadap kapal musuh.

"Tembak!!"

Bunyi peluru serentak terdengar. sorakan kru kapal juga menggema, membuat rasa euphoria mereka muncul.

Mereka semua tidak takut mati, kalaupun mereka mati, mereka juga akan bangga karena mati berjuang bersama teman-temannya. Satu yang bisa dicontohi dari kru kapal kakek. Semangat tanpa putus asa yang terlihat di wajah mereka.

Aku terbangun. Nenek sudah membuat kue dan susu yang ku minta. ia berada disamping meja makan. mungkin ia tidak merasa nyaman apabila membangunkan aku. Itulah nenek, Walaupun sudah tua, hanya sedikit kerut diwajahnya, tingginya mirip seperti ibu, hanya saja ia lebih kurus. Mungkin ibu mengambil gen gendutnya dari kakek.

Kakek sudah lama meninggalkan nenek. Akupun menanyakan ke nenek tentang bagaimana kakek dulu. Ia menceritakan sampai akhir kisah hidup kakek. Waktu muda, kakek selalu olahraga untuk membentuk otot-otot ditubuhnya. ia bercita-cita menjadi kapten kapal. Dulu kakek tinggal didaerah pinggir pantai bernama Jallos.

Tempat kakek adalah pelabuhan kapal terbesar. Seiring waktu, ia pun mendaftar menjadi kru kapal dan berhasil lolos. Hanya 3 bulan bekerja, ia langsung diangkat menjadi kapten. Mungkin karena usahanya pikirku. Di akhir hidup kakek, Ia ditangkap oleh musuh diperang naval dan diasingkan ke suatu tempat yang sangat jauh. Aku cukup sedih karena kakek kalah berperang, padahal dimimpiku ia sangatlah jago melawan musuhnya.

Beberapa waktu kemudian, ia berhasil melarikan diri dari penjara bersama teman sepenjara lainnya. Nenek  menemukan kakek didepan teras rumah ini. Nenek sangatlah kaget melihat orang asing yang pingsan depan rumahnya. ia pun membawanya masuk dan merawatnya karena ia pastinya merasa bersalah bila membiarkan begitu saja orang yang sedang terluka.

Sehari kemudian kakek bangun dan berterima kasih kepada nenek, ia hanya bisa mengangguk melihat kakek yang masih lemas.

2 bulan berlalu dan kakek pun pulih. Namun, nenek sudah jatuh cinta pada kakek. Saat kakek sudah berterima kasih dan mau pergi, Nenek mengungkapkan perasaannya. Tidak biasanya perempuan yang mengungkapkan perasaan begitu pasti pikir kakek atau pasti ia terkaget mendengar nenek. Ia kemudian bertanya mengapa ia menyukai kakek?

"Karena mencintai itu tidak butuh alasan. Alasan hanya digunakan untuk mengulur perasaan. Aku tak mau mengulur-ulur perasaanku. Kau tak akan lagi mendapatkan seorang wanita yang rela mengatakan cinta padamu. Kumohon tinggallah bersamaku."

Kakek tak dapat mengucapkan apa-apa. Ia langsung memeluk nenek.

"Sepanjang hidupku, aku tak pernah bertemu orang sepertimu. Kita baru saja kenalan dipertemukan takdir, Takdir mungkin kurang adil. Mengapa kita tidak dipertemukan sebelumnya?"

Nenek kemudian meneteskan air matanya. Mungkin ia terharu dengan ungkapan kakek. Kakek pun akhirnya tinggal.

Tetapi Keesokan harinya, sudah tidak ada tanda tentang dia . . .

To be Continued DreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang