Kulangkahkan kaki ku keluar dari desa yang amburadul itu. Masih banyak para pengikut lotus yang mengaca, Namun sepertinya mereka kembali lagi ditangkap oleh sipir-sipir yang berdatangan.
Yang tidak kalah penting, sekarang ada sebuah revolver dan juga beberapa kotak amunisi. Ini benar-benar tidak kuduga. Ku pikir, hidupku akan membusuk di besi jeruji itu selama bertahun-tahun.
"Beta sialan..."
Ia benar-benar biang dari masalahku, mulai dari awal hingga akhir. Untung saja ia bisa memperbaikinya, benar-benar tidak terduga. Apa sebenarnya yang ia inginkan?
Yang kupikirkan itu Lotus. Bagaimana nasibnya sekarang? Apa dia selamat? Mungkin aku harus mengeceknya? Bukankah ini akhir yang buruk tanpa dia? Cukup.
Kubulatkan tekat ku untuk kembali lagi mencari Lotus. Mungkin pengorbanan mereka sia-sia apabila aku tertangkap lagi, setidaknya aku ingin membalas budi kepadanya. Alu bukan orang yang membiarkan seseorang menderita hanya demi diriku.
"Betul-betul..."
Kebingunganku muncul setelah aku sampai kembali ke sekitar penjara. Sudah tidak ada orang yang berseteru dihalamannya. Sisa sisa bentrokan yang terjadi masih tersisa sedikit. Terlihat seperti bekas lapangan sepak bola yang rumputnya gundul. Padahal seingatku, rerumputan disitu masih ada beberapa.
Aku berpikir, mungkin sebaiknya aku melanjutkan perjalanku saja. Buat apa susah susah mencari Lotus. Lagipula ia juga sudah berkorban untuk membiarkanku lolos. Kalau sampai sisipir melihatku, mungkin kami akan bermain kucing-kucingan lagi.
Aku singgah disebuah lorong kecil. Akupun memutuskan untuk beristirahat disitu. Terdapat koran yang bisa ku tempati duduk. Sambil meminum koktail lemon, aku menatap ke atas langit.
"Bisakah aku meraih mimpiku? Ini mungkin belum seberapa. Perjalanku masih panjang. Oh laut, dimana kau?"
Mataku rasanya berat, sial kenapa harus sekarang. Aku mulai ngantuk, tidur disini juga bukan hal yang buruk. Akupun tertidur.
***
Matahari sudah senja. Rasa orang yang meraba sakuku membuatku terbangun. Kubuka mataku, namun orang itu sudah terlanjur lari. Ternyata ia baru saja mencuri sesuatu dariku.
"Sial, Revolverku!!!"
Secara refleks tubuhku kembali segar. Aku bangkit lalu mengejar pencuri itu.
"Baru saja aku dikejar, sekarang aku yang mengejar?"
Pencuri itu juga mencuri amunisiku, kelihatannya misinya hampir berhasil.
"Hey, berhenti kau!"
Kalimat yang kusebutkan itu mungkin hanyalah angin lewat baginya. Pencuri mana yang mau mengembalikan barang yang ia curi lalu mengatakan "Ini barangmu."
Pencuri itu mengenakan jubah hitam, dan agak pendek dariku. Mungkin agak sulit menemukannya dikeramaian.
Namun dia benar-benar gila. Sambil berlari, ia mengisi peluru revolvernya. Lebih jelasnya, dua revolver.
"Dua? Kau punya dua revolver? Hebat."
Satu hal lagi yang membuatku kagum. Ia mengisi revolvernya dua sekaligus, layaknya Hitman, dua revolver itu sudah terisi.
"Aku tidak suka ini."
Pencuri itu berbalik kebelakang lalu menembakku. Hampir saja kepalaku kena andaikan aku bergerak sedikit ke kiri atau ke kanan. Tembakannya mungkin melewati samping kiri dan kanan kepalaku, aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Namun yang pasti dia benar-benar penembak jitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
To be Continued Dream
MaceraAlpha adalah seorang pemuda yang memiliki cita-cita untuk berlayar dilautan. Tetapi ditempat ia tinggali sangatlah jauh dari laut, bahkan mungkin sampai ia tua pun belum sampai. Orang-orang selalu menertawakan mimpinya yang ia ingin raih. Alpha kemu...
