Aku sudah mencapai Pucuk untuk memahami rencana pelarianku dengan tahanan lainnya termasuk Lotus. Sudah hampir 1 bulan di dalam penjara dan kami semua sudah hampir akrab semua. Ini benar-benar hal yang baik.
Sisipir yang menjaga kemudian pergi keluar entah kemana. Kami segera melanjutkan perundingannya.
"Jadi bagaimana rencananya?" Tanya Tahanan depan selku.
"Betul, kita butuh rencana." Jawab teman selnya
"Rencana ini titik penentuan kita semua, tahanan-tahanan yang mencoba melarikan diri katanya akan diasingkan ke penjara lain. Ini benar-benar punya resiko yang tinggi. Yang ingin mundur dari rencana ini silahkan mundur dari sekarang" Kata Lotus sebagai leader.
Aku memahami apa yang Lotus rencanakan. Setelah keluar, ia pasti ingin membalas orang yang memasukkannya ke sini. Ya, atau orang yang menipunya.
Lotus pernah bercerita tentang bagaimana ia bisa berakhir disini.
"Waktu itu, aku sedang perjalanan pulang kerja. Saat itu aku bekerja diladangku, Baru saja selesai menanam umbi kentang. Dijalan, terlihat seorang yang berlari-lari membawa sebuah kotak, Mempunyai motif batik yang timbul, berwarna coklat, dan terdapat gambar malaikat kecil ditengah penutupnya. Dibelakangnya tidak ada yang mengikuti. Ia pasti perlu bantuan. langsung saja aku menghampirinya dan menanyakan apa yang ia bawa. Sebuah kotak hadiah katanya. Kupikir itu pasti untuk anaknya. Lalu aku bertanya lagi mengapa ia berlari-lari. Ia menjawab bahwa ia buru-buru. Aku bertanya alasannya, seketika ia langsung memberiku kotak itu. Dan mengatakan waktunya tidak lama lagi. Kalimat terakhir yang ia ucapkan sangatlah ganjil. waktu apa yang ia maksud? waktu hidupnya? atau waktu yang lain. Intinya ini mungkin sesuatu berharga baginya. Aku lalu menjaganya dan bermaksud membawanya pulang ke rumah."
Aku pikir penyebab utamanya pasti karena kotak itu.
"Setelah beberapa menit berjalan. Ada 2 orang petugas keamanan yang memandangiku dari jauh. Aku tidak takut padanya, kesalahanku tidak ada. Jadi langsung saja kuacuhkan tanpa menghiraukan mereka. Tetapi kedua petugas keamanan itu kemudian lari mengejarku. Secara refleks aku pun ikut lari, mereka mengarah kepadaku. Banyak pertanyaan yang tertimbun dikepalaku, Ada apa sebenarnya yang terjadi? Siapa mereka? Apakah mereka berhubungan dengan orang yang memberikanku kotak? Yang jelas, pasti mereka ingin menangkapku. Aku berlari melalui pasar, terdapat banyak orang sehingga aku bisa menyelinap bersembunyi. Namun, mata petugas itu lihai. Ia langsung melihatku setelah aku mengintip dari balik tembok. Ini benar-benar merepotkan. Dikejar seseorang atau berdua pastilah melelahkan, tapi bila dikeramaian, itu menguntungkan bagiku. Aku berlari lagi, memasuki rumah orang, lalu menaiki tangganya sampai naik diatap rumah. Petugas itu juga lincah. Tak lama setelah aku sampai, mereka juga ikut dibelakang. Berjalan hati-hati melewati atap adalah tujuanku sekarang. Tingginya mungkin 4 lantai. Sangat tidak mungkin bisa meloncat dari tempat ini ke bawah. Aku berjalan cepat agar bisa memperjauh jarak. Kupikir mereka akan menyerah bila aku melompat ke rumah sebelah, Namun ternyata tidak. Badan petugas itu ternyata atletik juga. Sudah pasti, seleksi petugas seperti itu pasti dibutuhkan stamina dan kekuatan yang besar. Aku melompat ke atap sebelah. Untungnya jaraknya tidak terlalu jauh. Kaki kananku mendarat duluan lalu dilanjutkan satunya. Aku masih berlari tanpa arah. Aku kemudian mencoba melompat ke atap rumah yang jaraknya panjang. Aku melompat dan hampir saja aku terjatuh. Tangan kananku masih menopang tubuhku dan kotaknya ditangan satuku dengan telapak tanganku mengahadap keatas gemetaran. Aku langsung menaikkan kotak lalu badanku ke atas lalu melanjutkan. Aku berpikir sebaiknya aku kembali ke bawah, lebih mudah menghilang dibandingkan atap. Aku membuka pintu atap lalu masuk lagi ke rumah orang. Banyak orang kulewati ada yang sedang menonton, menyapu, makan sekeluarga, dan sebagainya. Aku hanya mengatakan permisi dan maaf melewati mereka. Aku berhasil keluar dari rumah itu dan sampai dibawah lagi. Aku lalu pergi mencari tempat persembunyian. Kulihat ada peternakan disana. Aku memilih masuk ke kandang ayam. Baunya bukan main bila kau tidak terbiasa. Kandangnya tidak terlalu besar, tidak berpintu, dan berwarna coklat sesuai kayunya. Aku bersembunyi di ujung kanan dekat tempat mengeram ayam. Aku penasaran isi dari kotak itu jadi aku membukanya. ternyata isinya senjata api model klasik serta pelurunya. Aku terkejut mengapa barang ini bisa sampai di orang tadi, dan dimana ia mendapatkan ini. Aku lalu berpikir untuk menyimpan kotak ini untuk sementara. Kotaknya kusimpan dibawah kandang tersebut. Ku buka dengan perlahan lantainya yang terbuat dari kayu. lalu memasukkannya kemudian kututup kembali dengan kayu tadi. Aku kemudian keluar dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Hanya saja keringatku tidak bisa ku sembunyikan. Tak lama setelah berjalan, terdapat petugas yang tadi mengejar. Mereka menghampiriku, yang satu langsung memegang tanganku kebelakang dan yang satu menginterogasi. Ia bertanya dimana kotak yang aku pegang tadi. Aku tidak menjawabnya dan mengeluarkan tawa kecil. petugas yang memegangiku langsung memukul perutku. Rasanya benar-benar sakit. Sampai-sampai aku harus berlutut. Petugas itu lalu mengangkatku dan bertanya sekali lagi dimana kotak itu. Aku punya pendapat kalau orang yang memberiku kotak pasti sudah bersusah payah mendapatkannya. Aku tidak mungkin membuatnya sia-sia setelah kerja kerasnya. Aku lagi-lagi diam dan tertawa besar. petugas yang memukulku tadi lalu menendang perutku lagi. Rasanya masih sama seperti tadi. Aku masih bisa mengingat rasanya. Mungkin petugas itu menyukai bagian perut orang. Petugas didepanku lalu mengatakan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat, katakan saja dimana kotak itu. Aku meludahi sepatu petugas itu lalu melanjutkan ke petugas dibelakangku. Setelah kejadian itu, aku tidak merasakan apa-apa. Mungkin aku pingsan karena terdapat hantaman yang kurasa dibelakangku. Setelah bangun, aku sudah berada di depan pintu masuk penjara sambil diborgol. Aku mungkin tidak akan keluar dalam waktu yang lama. Dan akhirnya kita bertemu. Aku terkejut ketika melihatmu. Kau benar-benar mirip dengan orang itu. Aku pikir kau alias orang itu juga ditangkap dan sama seperti kasusku. Ternyata itu beda. Aku tidak meresponmu diawal pertemuan kita karena kau sangatlah mirip, bahkan bisa dibilang kembar. Yang membuatku menyapamu itu karena kau cukup berani ingin meninju seseorang yang baru kau kenal, beda dengan orang satunya itu. Kau juga mungkin sudah bertemu dengannya, ataupun ialah alasan kau disini."
Mendengar cerita yang pernah ia katakan. Aku pikir mungkin orang yang menjebaknya itu Beta. Tapi, tak semudah itu menuduh seseorang. Aku tambah yakin saat ia melihat ciri-ciriku sama dengannya.
Semua tahanan sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Aku pun juga termasuk. Intinya kita haruslah berjuang sekuat tenaga. Tanpa itu, hanyalah mimpi untuk berhasil.
Lotus melihatku. Ia kemudian mendekat.
"Kau sudah siap nak?"
"Tentu saja, aku sudah tak sabar membalasnya." Kataku sambil menatap tajam keluar jendela besi.
"Baiklah, itu baru semangat."Jawab lotus sambil merangkul bahuku.
Rencananya pun dijalankan. Ini penentuan yang paling kritis. Hal kecil juga bisa sama dengan hal besar bila larut.
Aku mengambil kawat yang sudah kukumpulkan sejak masuk. Itu kugunakan untuk menembus jeruji besi itu.
"A-ha." Kataku sambil memegang kawat.
Kawat itu lalu ku pakai untuk menembus gembok sel. Sisipir sudah pergi jadi aku bebas beraksi sekarang.
Sudah 15 menit ku mencoba memutar kawat tetapi masih belum ada hasil. Sisipir tiba-tiba masuk bersamaan aku yang menghadap sejajar dengannya jadi aku tak menyadarinya. Sisipir langsung bergegas menangkap tanganku lalu memutarnya. Sakitnya mungkin seperti patah tulang tersirat.
"Bagus-bagus. Sudah punya kemajuan ya, Beta." Sindirnya dengan ekspresi sedikit tersenyum.
"Aa-h. Ini belum apa-apa, babu penjara."
Sisipir memutar lagi tanganku namun lebih terasa dari yang lalunya. Ekspresinya bukannya marah malah tambah tersenyum.
Ia lalu melepas tanganku lalu membuka sel dan menarikku.
"Cuma begitu kemampuanmu, aku ragu dengan kelelakianmu." Sindirku
Ia tidak lagi tersenyum namun ekspresi diam. Kurasa ia sudah mulai tersinggung.
"Haha, inikah impianmu? Menjadi penjaga? Masih mending kurasa menjadi pengangguran daripada itu. Kejar impian itu harus total. Jangan mau terima jadi seperti ini. Orang bilang bila ada kemauan, disitu ada jalan. Namun kulihat prinsipmu terbalik, menjadi Bila ada jalan, disitu ada kemauan. Aku ragu kau bangga dengan dirimu sekarang. Bahkan mungkin dirimu di masa lalu pasti akan menertawakan pekerjaanmu sekarang. Hahahahaha... Bukan main babu ini." Sindirku dengan nada yang meningkat sambil melotot mata sisipir.
"Daripada bekerja seperti ini, mendi-"
Sisipir sudah menunju masuk mulutku sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Kurasa ada gigiku yang patah. Pukulannya tidak terlalu sakit dibandingkan putaran tangannya yang tadi. Namun sekarang ia benar-benar dikuasai amarah.
Ia tidak berkata apa-apa dan seketika ia memukulku berulang-ulang kali. muka, kepala, perut, dada, Bagian itulah yang ia incar. Ia layaknya orang hidup yang ditakdirkan untuk menyiksa seseorang. Aku hanya menahannya dan mencoba mengiringnya keluar. Sakit memang rasanya menjadi umpan dan menahan beban. Tapi aktor utama memang harus menanggung beban.
Sambil menahan pukulan bertubi-tubinya, Sakitnya juga yang bukan ampun. Akhirnya aku berhasil. Ia pun sudah berada didepan pintu masuk penjara.
"Sepertinya aku yang berhasil." Kataku.
KAMU SEDANG MEMBACA
To be Continued Dream
AventuraAlpha adalah seorang pemuda yang memiliki cita-cita untuk berlayar dilautan. Tetapi ditempat ia tinggali sangatlah jauh dari laut, bahkan mungkin sampai ia tua pun belum sampai. Orang-orang selalu menertawakan mimpinya yang ia ingin raih. Alpha kemu...
