Something called Mine

109 7 0
                                        

Seulgi menatap Jimin yang sedang mengemudi mobil dengan gagahnya.
Sejenak, Ia terpesona.

"Kau kagum padaku?" tanya Jimin percaya diri.

Seulgi memelototkan matanya. Tidak percaya akan pertanyaan Jimin. "Tidak." jawab Seulgi singkat.

Bohong. Karena memang Ia terpana dengan Jimin saat ini.

"Tapi pipi mu merah seperti tomat."
Seulgi hanya memutar matanya.

Seulgi menatap jalanan yang mereka lewati. Asing sekali untuknya.
"Apakah kalian selalu melakukan transaksi seperti ini di tempat yang sama?"

Jimin mengangguk.
"Jika hanya barang kecil. Tetapi, jika menyangkut tentang barang yang lebih penting maka dicari tempat yang lebih aman."

Seulgi mengangguk mengerti. "Apakah selalu kau yang melakukan transaksi barang kecil?"

Jimin tertawa. "Yak, aku tidak selemah itu. Aku hanya bosan saja di rumah makanya kali ini aku yang melakukan transaksi."

"Lalu, dimana tempat kalian jika melakukan transaksi yang lebih penting?"

Jimin mengernyit. "Mengapa kau selalu bertanya?"

Seulgi menoleh. "Memangnya tidak boleh, ya?" tanyanya lugu.

Jimin gemas melihatnya.
"Bukan begitu." Jimin mengelus pucuk kepala Seulgi dengan lembut.

"Rambutku berantakan." ucap Seulgi mengeluh. "Hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi."

"Kau akan mengetahui tempatnya setelah bertugas nanti. Memangnya ada apa?"

Seulgi menggeleng.
"Rasa keingintahuan ku begitu besar sepertinya."

Tanpa disadari, mobil mereka berhenti di sebuah bangunan kosong.
Tepat seperti yang Seulgi pikirkan.
Bangunan kosong yang telah lama tidak dihuni.

"Ayo turun." ajak Jimin. Jimin telah berada di samping pintu mobil Seulgi dan mengulurkan tangannya.

Seulgi menerima uluran tangan Jimin. "Jim, bagaimana jika nanti kita tertangkap?"

Jimin tertawa. "Tidak mungkin kita tertangkap. Jika iya, bunuh saja."

Seulgi terkejut. "Bagaimana dengan lari saja?"

"Artinya kau yang terbunuh."

"Tempat ini sunggu menyeramkan. Jangan tinggalkan aku."

"Tidak akan."
Seulgi menggenggam tangan Jimin lebih erat.

Mereka terus berjalan memasuki bangunan itu lebih dalam. Suasananya mencekam juga gelap. Hingga akhirnya, mereka melihat dua lelaki yang sepertinya telah menunggu kehadiran mereka.

"Berikan barangnya." ucap Jimin tanpa basa-basi.

Salah satu lelaki tersebut hendak memberikan barang yang dibutuhkan tersebut kepada Jimin.

"Apakah kau ingin menukarnya dengan wanita disebelahmu?" tanya salah satu lelaki tersebut. Ia mendekat kearah Seulgi dan menarik lengan Seulgi pelan.

Seulgi sedikit memberontak.
"Lepas." rintihnya. Ia menatap Jimin meminta pertolongan.

Jimin menaikkan alisnya. Ia terkekeh kecil. "Aku sedang tidak ingin terkena darah kotor darimu."

DORR!!

"Tapi terpaksa karena kau menyentuh milikku."

Jimin menembak pria yang menyentuh lengan Seulgi tepat di dadanya.

"KAU!!" bentak teman nya.

"Apakah kau ingin sepertinya juga?"

DORR!!

Tanpa basa-basi, Jimin juga menembak temannya. Tanpa disadari, Seulgi tengah bergetar ketakutan melihat aksi Jimin.

"Membuang waktu saja."

Jimin menoleh dan melihat Seulgi.
Jimin khawatir melihatnya.  Disebelahnya, terdapat Seulgi yang ketakutan dengan tangan yang dikepal sangat erat disebelah telinganya. Juga tubuh yang terciprat darah.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Jimin khawatir. Ia menenangkan tubuh Seulgi yang masih bergetar.
Seulgi mendongak menatap manik Jimin. Jimin terlihat khawatir dengannya.

"Jimin." lirih Seulgi. Dengan cepat Ia langsung menghambur ke pelukan Jimin.

"Maaf, aku membuatmu takut." Jimin menyesal melakukannya tadi. Sekarang, gadis yang selalu mencuri perhatiannya tengah bergetar ketakutan atas perilakunya.

Namun, Seulgi merasa tubuhnya sangat lemas sehingga ia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Hingga akhirnya pandangannya berubah gelap.

Jimin merasa bahwa Seulgi menyenderkan tubuhnya pada Jimin. Namun, Ia merasa bahwa Seulgi benar-benar lemas dan berpaku pada tubuh Jimin.

"Seulgi." panggil Jimin pelan.

Tidak ada jawaban. Jimin sedikit menjauhkan tubuhnya namun tangannya masih memeluk pinggang Seulgi dan melihat Seulgi dalam keadaan pingsan. Dengan bergegas, Ia segera berlari menuju mobil sambil menggendong Seulgi.

Jangan ditanya keadaan Jimin sekarang. Ia sedang kalang kabut mengendarai mobil yang dibawanya tidak peduli dengan segala macam umpatan yang dilontarkan oleh para pengguna jalan karena telah melanggar aturan.

***

Seulgi POV

Disinilah aku berada sekarang, hanya menatap langit kamar ku karena tubuhku terlalu lemas.

Setelah aku membuka kelopak mataku, kulihat Jimin langsung memanggil pelayan untuk membuatkan makanan. Setelahnya, aku makan ditemani dengan Jimin yang duduk disamping kasurku.

"Kau beristirahat saja dulu."
Aku mengangguk menaati ucapan Jimin. Lalu, Ia keluar dan meninggalkanku di kamar.

Tidak, aku tidak merasa sedih karena ditinggalkan Jimin seorang diri. Namun, aku bingung. Apa yang terjadi denganku? Mengapa aku begitu lemah sampai pingsan?

Mendengar suara tembakan berkali-kali pun, aku sungguh biasa saja. Namun, kali ini aku benar-benar ketakutan. Aku tidak berpura-pura lemah hingga pingsan di hadapan Jimin hanya untuk mencari perhatian nya.

Bodoh memang Kang Seulgi.

"Hei, jangan melamun terus." Wendy datang ke kamarku.

Ah, malaikat ini benar-benar. Aku tersenyum menatapnya.

"Kau sudah baikan?" tanyanya.
Aku mengangguk.

"Sepertinya Jimin Oppa menyukaimu."

Aku mengernyit bingung. "Aku tidak mengerti maksudmu."

Wendy tersenyum. "Ah, sudahlah. Istirahat, ya. Aku kesini untuk melihat keadaanmu dan sepertinya kau sudah baik-baik saja." Wendy beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar.












Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.















Bona FideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang