Seorang wanita berparas cantik sedang bersenandung tenang di taman belakang dan menyirami tanaman. Wendy. Gadis itu yang mencuri perhatian Chanyeol sejak pertama kali mereka bertemu oleh karena kebaikan hati wanita tersebut.
Chanyeol mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Matanya terfokus akan kegiatan Wendy.
"Sejak kapan kau disini?"
Chanyeol menatap Wendy.
"Baru saja."
Wendy duduk di kursi sebelah Chanyeol. Mereka duduk dalam diam. Tidak ada yang berbicara lagi. Hanya semilir angin yang menemani mereka.Canggung? Tidak. Mereka tidak merasa canggung. Hal-hal sederhana inilah yang disukai keduanya.
"Aku tidak tau mengapa tapi maukah kau bercerita tentang dirimu kepadaku?"
Wendy menoleh. "Namaku Wendy. Aku berumur 25 tahun."
"Hanya itu?"
Wendy mengangguk. "Tidak ada yang spesial didalam diriku."
Chanyeol menggeleng. "Tidak, bagiku kau spesial dan kau menawan."
Wendy tergelak. Apa ini? Mengapa Chanyeol berubah menjadi romantis?
Wendy tertawa renyah. "Apakah kau sehabis membaca novel romantis?"
"Maksudmu?"
"Aku tidak pernah melihatmu berkata romantis seperti ini."
"Kau benar. Aku habis membaca novel. Kalimatnya terngiang dan akhirnya aku ucapkan saja."
"Aku benar, kan. Dasar Park dramatic Chanyeol."
Chanyeol hanya bisa tesenyum pahit.
Ia mulai tertarik pada Wendy. Berbanding terbalik dengan Wendy yang hanya menganggap Chanyeol sebagai teman.***
Dilain tempat, terdapat dua sejoli yang sedang berseteru panas. Siapa lagi jika bukan Irene dan Suho. Kedua manusia egois dan keras kepala yang tak akan bisa disatukan.
"Tidak, aku tidak salah."
"Apa kau bilang? Tidak salah katamu? Jelas-jelas kau menumpahkan minumanku tadi." ucap Irene tak terima.
"Kau menyenggolku dan akhirnya minum ku tumpah!"
"Aku tidak sengaja menyenggolmu dan bukankah kau memiliki mata? Kenapa kau tidak bergeser saja saat melihatku berjalan?" bela Suho.
"Untuk apa aku bergeser? Bukankah kau yang seharusnya bergeser? Dasar menyebalkan."
"Menyebalkan katamu? Ingin sekali kubunuh kau saat ini juga."
"Bunuh saja. Bunuh aku. Cepat!" ancam Irene. Ia tidak takut. Lelah sekali karena harus berdebat dengan lelaki aneh didepannya.
Setelah berucap demikian, Irene duduk di pantry sambil menelungkupkan kepalanya diatas meja membelakangi Suho. Ia sudah muak sekali melihat Suho.
Irene tidak lagi mendengar suara Suho. Ah, sudahlah. Ia tidak peduli.
Sebentar, lengannya terasa dingin. Apakah Suho benar-benar ingin membunuhnya dan sekarang ia sedang menodong pistol pada lengan Irene?Irene mendongak secara perlahan. Didepannya terdapat Suho yang memegang sebuah
gelas?
Irene mengerutkan dahinya.
"Apa lagi?""Ck, ini minumanmu." ucap Suho. Ia tidak menatap Irene.
Irene menahan senyum. Bos mafia kejam nan aneh ini sedang memberikan minum untuknya sebagai ganti karena telah menumpahkan minum miliknya.
"Ada apa?" tanya Irene.
"Apanya yang ada apa?" tanya Suho balik.
"Kau ingin apa dariku? Pasti kau ingin imbalan atas minuman ini kan? Mengaku!"
Suho melebarkan matanya tak percaya. "Aku bahkan tidak mengharapkan imbalan apapun darimu."
Irene hanya mengangkat bahunya. Ia pun menyambar minuman di tangan Suho.
"Wow, ada apa ini? Kenapa kalian menjadi akrab sekali? Apa aku ketinggalan berita penting?" ucap Yeri yang datang tiba-tiba.
"Berita penting apa maksudmu?" tanya Suho. Ia bahkan sudah duduk tepat disamping Irene.
Yeri pun berjalan mendekat lalu telunjuknya menunjuk Suho kemudian Irene. Setelahnya, ia membentuk sebuah hati dengan telunjuk dan jempolnya.
"hearteu."
"Aish, pergi kau." ucap Suho kesal.
Yeri pun pergi melenggang begitu saja. Hanya ada Suho dan Irene yang duduk dengan canggung.
Suho menyambar minuman yang ia buatkan untuk Irene lalu meminumnya.
"Ini punyaku."
"Siapa yang membuat minuman ini?" tanya Suho remeh.
"Menyebalkan sekali." Irene pun pergi meninggalkan Suho sendirian.
Suho hanya menatap kepergian Irene dalam dia. Ah, ia jadi rindu dengan wanita yang begitu ia sayangi.
"Aku selalu teringat akan Soo setiap melihatnya. Apa aku juga sama denganmu, Oppa?" Yeri menghampiri Suho setelah tadi ia sempat bersembunyi.
Suho mengernyit heran melihat kehadiran Yeri. "Apa maksudmu? Sudahlah. Aku ingin ke ruanganku."
Yeri menggeleng, "Tidak, ini sudah saatnya kau memaafkan Wendy dan membuka hatimu lagi. Semua kejadian itu bukan sepenuhnya salah Wendy."
Suho hanya diam ia tidak ingin membalas pernyataan Yeri, adiknya.
"Jawab aku."
"Ya, memang benar. Bukan sepenuhnya salah Wendy tapi ini salahku. Karena kelalaian dari diriku sehingga aku harus merasakan kehilangan wanita yang sangat ku cintai."
"Bukan, bukan begitu maksudku--"
"Dan kau Yeri, kau belum merasakan sakitnya kehilangan seseorang
yang sangat kau cintai dan aku berharap tidak akan melihatmu menangis karena seorang pria bajingan.""Atau.."
"Atau apa, Oppa?"
"Aku akan membunuhnya." ucap Suho lembut dan mengusap pucuk kepala adiknya.
Yeri hanya dapat mengulum bibirnya agar ia tidak melontarkan umpatan terhadap kakak yang sangat ia hormati.
"Aku ingin ke kamar. Mengantuk." Yeri pun menguap pelan.
Suho mengangguk pelan.
"Tidak ingin ke ruanganmu?" tanya Yeri melihat Suho yang hanya diam saja.Suho hanya diam tidak menjawab pertanyaan Yeri yang menurutnya tak berguna.
"Oke, akan kuanggap bahwa kau belum ingin ke kamar. Oh iya, aku ingin mengatakan sesuatu."
Yeri pun berjalan mendekat ke arah Suho dan mendekatkan mulutnya ke telinga Suho, "Aku setuju jika Irene Unnie menjadi kakak ipar ku."
Setelahnya, Yeri berlari meninggalkan dapur dan Suho sendirian.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bona Fide
Fanfiction"Entah disini siapa yang jahat, aku atau kamu tapi untuk sementara ini biarkan aku merasakan cintamu walau sesaat." starring; ☆ irene × suho ☆ seulgi × jimin ☆ wendy × chanyeol ☆ joy × jin ☆ sehun × yeri × jungkook