05. Rahasia Fanny

24 4 0
                                    

Gue berjalan ke arah toilet wanita setelah bel istirahat kedua berbunyi. Sekarang jam satu siang, dan awan mulai menggumpal, menggelap. Kayaknya bakal turun hujan deras, deh. Mengingat ini musim hujan, gue harus jaga kesehatan agar tetap fit. Gue memang gampang sakit, makanya Mama atau Papa nggak pernah biarin gue hujan-hujanan.

Koridor toilet sepi? Tumben. Biasanya jam-jam segini banyak siswi lalu-lalang buat buang air atau sekedar touch up make up mereka.

Gue nggak terlalu peduliin itu. Nerusin langkah gue dan memasuki salah satu bilik yang kosong. Buang air kecil disana, dan menatap pantulan diri sendiri di cermin.

Lo cantik, Bella. Beneran dah. Kalo lagi ngaca sendirian gini mendadak gue jadi percaya diri banget nyebut diri gue cantik. Gue nggak perlu make up, karena pernah sekali pas SMP, gue asal makai bedak punya Mbak Mei. Dan berakhir wajah gue yang bruntusan serta gatal-gatal. Bedak itu dibuang sama Papa, dia bilang bedak itu udah kadaluwarsa. Padahal cuma nggak cocok aja sama kulit wajah gue. Mbak Mei pulang dari kampus langsung ngomel ke Papa karena nggak sengaja nemuin bedak itu di tempat sampah. Ya Papa jadi ganti rugi beliin bedak baru buat Mbak Mei.

Kreett....krett...

Gue mendengar suara decitan pintu, sepertinya itu di kamar mandi sebelah. Ada siswi yang masuk pasti. Well, bilik satu dengan yang lain itu hanya dibatasi tembok sempit, juga ventilasi yang menghubungkan ke bilik lainnya.

Gue mencium bau yang nggak biasa.

Tunggu, bau anyir? Bau darah?? DARAH??!!

Gue nggak mau berburuk sangka, cepat-cepat benerin rok gue yang agak berantakan, lalu keluar dari toilet. Gue mungkin cuma halusinasi. Mungkin itu bau besi yang udah berkarat. Ya, cuma bau besi.

Tapi, ada satu hal yang menghentikan langkah gue saat itu juga.

Bilik itu terbuka sedikit. Menampakkan sosok siswi yang berseragam sama kayak gue. Lagi ngapain dia?

Gue itu orangnya penakut, tapi kepo akut. Rasa penasaran gue lebih besar kayaknya dari rasa takut gue. Entah bisikan dari mana, gue mencoba ngintip sedikit aktifitas apa yang dilakukan siswi tersebut. Dari gerakannya, kayaknya dia lagi ngelakuin hal yang bukan sama sekali kelihatan buang air atau basuh muka.



Gue memekik kaget dengan apa yang netra gue tangkap. Jantung gue seakan berhenti berdetak, sengatan listrik seolah menjalar ke tubuh gue.

Itu Fanny. Dia nyadar pekikan gue, langsung noleh buat gue kaget setengah mati. Demi apapun, gue mau pingsan aja. Perut gue mual, wajah gue memucat. Bersamaan dengan tangan Fanny yang ngeraih lengan gue untuk ikut dibawa masuk ke dalam toilet. Gue semakin memekik, mau menjerit tapi seolah semua kata-kata gue tertahan di ujung lidah.

Gue refleks menutup mata. Yang gue dengar cuma suara air dari keran yang mengalir, embusan napas terengah-engah dari gue maupun Fanny sendiri. Itu beneran Fanny? Tuhan, tolong gue. Gue nggak mau mati, gue masih pengen sekolah, masih pengen jahilin Dino, masih pengen jajan susu vanilla kotak di koperasi. Jangan ambil dulu nyawa gue.

"Buka mata lo."

Gue menggeleng, masih syok dengan apa yang gue lihat. Gue berharap ini mimpi, atau nggak gue enyah dari tempat ini.

"Buka mata lo, gue nggak bakal ngapa-ngapain." titahnya sekali lagi sama gue. Dengan secerca keberanian, gue membuka mata gue perlahan. Rasanya masih nggak percaya, dan gue pengen banget ini semua cuma mimpi. Gue mencubit kecil pipi gue, dan itu sakit. Berarti, gue nggak lagi mimpi. Ini semua nyata.

ASTAGHFIRULLAHALADZIM!!! GENANGAN DARAH ITU MASIH BANYAK BANGET, GILA!!

Gue natap Fanny yang datar, berpegangan pada engsel pintu. Tangan gue gemetaran. Jantung gue seolah mencelos dari tempatnya. Tenggorokan gue tercekat, dengan Fanny yang hanya diam berdiri tak melanjutkan aksi mengerikannya lagi.

Bella's World Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang