08. Labrak

15 4 1
                                    

Gue melangkahkan kaki di koridor kelas IPS buat ke perpustakaan. Iya, kelas sebelas tentunya. Gue neguk ludah, merasa menyesal udah lewat sini tadi. Kenapa nggak muter aja ya? Walau jauh tapi sampai. Daripada lewat sini malah kena tatapan sinis para kakak kelas. Duh, Bella goblok!

Enggak biasanya sih gue lewat sini, tapi karena keadaan yang mendesak, gue lewat jalur ini karena yang terdekat dengan perpustakaan. Gue mau ambil buku di sana buat praktek pelajaran nanti.

"Ngapain lo kelas sepuluh berani-beraninya lewat sini?"

Tuh kan, apa gue bilang.

Ya Allah lindungi Bella.

"A-anu, Kak. M-mau ke perpus ambil b-buku." jawab gue gemetaran. Perut gue mulas sekarang, ketakutan.

"Kenapa nggak muter aja?" tanya salah satu dari mereka sambil bersedekap dada.

"D-disuruh Pak Dwi." jawab gue jujur.

Dia cuma buang muka, tapi temannya yang satu lagi memperhatikan gue dengan seksama, dari atas sampai bawah.

HE KALO BUKAN KAKAK KELAS GUE COLOK MATA LO YA.

"Tau kan ini kawasan kita? Permisi bisa kali, nggak sopan banget." tuturnya makin sinis.

YA TERUS GUE DARI TADI NGAPAIN KALO NGGAK PERMISI??? BACA PEMBUKAAN UNDANG-UNDANG??!

"M-maaf, Kak." gue cuma bisa ngeluarin kata-kata itu.

"Lo degemnya Alfa kan?" tanya dia sekali lagi.

Lah?? Degem?? Enak aja kalau ngomong!

Gue udah mau jawab saat dia motong duluan, "jauhin Alfa. Lo cuma dijadiin mainan. Lo pikir elo doang yang diperlakukan manis kayak gini?? Banyak!"

Deg!

Apa-apaan ini? Gue dilabrak? Kenapa bawa-bawa Kak Alfa??

"Ng-nggak Kak. Aku bukan degemnya Kak Alfa. Cuma temen." sahut gue. Agak nggak rela hati ini pas bilang 'cuma temen'.

Salah satu cewek berambut bob ngedecak, "pergi lo, sebelum diabisin disini." katanya. Gue tersenyum lega, segera berjalan lagi agak cepat buat sampai di perpustakaan. Akhirnya dia ngelepasin gue.

Gue tersenyum miris kemudian. Apa bener yang dikatakan dia tadi? Gue cuma dijadiin mainan? Bukan gue doang yang diperlakukan kayak gini?

Kak Alfa bukan orang seperti itu!

Di depan pintu perpustakaan, gue melihat Mbak Ayu---penjaga perpus tersenyum manis ke arah gue. Dengan cepat gue membalas senyuman dia, tapi nggak sinkron dengan kondisi hati gue yang sekarang.

"Kamu kesini juga. Udah beberapa hari loh nggak kesini," tutur Mbak Ayu sambil memegangi pundak gue. Rambutnya yang selalu dikuncir kuda, kini berbeda. Dia sekarang menyanggul rambutnya keatas. Jadi lebih dewasa dan berwibawa dari biasanya. Dan tentunya...tambah manis.

"Iya, Mbak. Mau ambil buku sekalian ketemu sama Mbak Ayu hehe," jawab gue seadanya. Mbak Ayu malah terkekeh, menampilkan gigi-giginya yang rapi dan putih. "Yaudah masuk dulu. Buku apa? Biar mbak cariin." ujarnya ngarahin gue ke rak buku yang gue maksud.

"Biologi, Mbak. Tapi yang gede itu loh, soalnya yang buku paket biasa kurang lengkap,"

Gue akrab dengan Mbak Ayu karena katanya, gue anak yang paling rajin mampir ke perpustakaan buat baca novel, bukan belajar kayak siswa-siswa yang biasanya. Dan kebetulan juga, hobi Mbak Ayu sama kayak gue, baca novel tentang percintaan. Kita makin klop ini.

"Kamu ada novel teen fiction lagi nggak? Mbak mau pinjem lagi," katanya sambil memilah buku-buku di rak. Gue hanya mengekori di sampingnya.

Bella's World Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang