.
.
.
.
Aku yakin ini keputusan terbaik, menyerah pada jiwa yang aku tak kenali lagi, kamu. Ya, Sejuta arti kamu untukku lenyap sekejap dalam emosi yang tak terarah. Terimakasih bajingan telah hancurkan raga beserta rasanya!!
..
.
.
Tes. Air keringat jatuh di sisi kening dengan kaki yang masih berlari, hampa rasanya. Seluruh sudut sekolah sekarang hanya dipenuhi nostalgia bersama. Kali ini tidak ada air mata, hanya rasa amarah dan kecewa yang dirasa gadis berseragam SMA yang sekarang menghentikan langkahnya di depan pintu kelas bertuliskan 11 IPS 2 dan duduk di kursi yang ada di luar kelasnya.
Sakit hati hal yang lazim dirasakan setiap manusia yang saling menjatuhkan hati, tapi beda halnya dengan Sesil. Bukan hanya hatinya yang terpukul melainkan fisiknya juga ikut menjadi korban. Miris, Tidak ada rasa bersalah dari Zaki, bahkan ia terus menghina Sesil yang jelas-jelas bukan penyebab dari pertengkaran mereka. Yang tidak habis pikir lagi kata 'murahan' terlontar dengan tegas dari mulut pahitnya itu. Tajam dan begitu tertanam di otak kecil Sesil.
Detik ini tubuh Sesil tidak dapat lagi menampung berat kepalanya yang dipenuhi penat, ia menunduk dengan kedua tangan menutupi wajah untuk menopang kepalanya. Kata 'murahan' terus bersaut-sautan membuat ia kesal dan keningnya berkerut.
"Arrrggghh!" jerit Sesil.
"Sil!" Fera dan Elmaya menghampiri Sesil lalu duduk di sampingnya merangkul Sesil, "gue gak nyangka ya si Bella barbar juga." ucap Elmaya.
"El, Bahasa gamers lo gak usah keluar!" Fera melirik Elmaya dahinya ikut berkerut.
Sesil menatap kedua temannya, "Tapi gue masih ga percaya aja kenapa harus temen gue sendiri? kenapa gak orang lain?" gerutu Sesil seraya memegang keningnya lalu mengusap rambutnya ke belakang, tidak habis pikir dengan kelakuan Nabella--sahabatnya sejak SMP itu.
Sesil melirik ke arah kanannya dan melihat Dariel yang berjalan ke hadapannya, "Nih!" Dariel menyodorkan minuman dingin yang ia beli di kantin, "minum dulu! Biar otak lo gak beku nanti pas belajar gara-gara putus cinta," Sesil meraih botol minuman itu kemudian membuka dan meneguknya.
"Nah. iya bener, Sil! Gak usah mikirin si Bella." pekik Elmaya.
"Lo itu harusnya bersyukur, udah dibukain kebusukan temen lo sendiri. Daripada gak sama sekali dia terus nusuk lo dari belakang, ya 'kan?" ujar Dariel. Sesil menatap Dariel, masih dengan diamnya.
"Gue setuju!" teriak Fera.
"Kita sayang sama lo, Sil. Kita bakal dukung lo apapun itu kok," ujar Elmaya seraya mendekat lalu memeluk Sesil dan Fera.
"Uhh, makasih ya gue juga sayang kalian kok."
"Kalo gitu gue duluan ke kelas ya. Sil, jangan lupa pulang sekolah gue tunggu, ya!" ucap Dariel seraya beranjak pergi.
Tak lama bel tanda masuk kelas berbunyi disusul oleh suara speaker panggilan terhadap Fera dan Elmaya untuk datang ke ruang BP Menemui ibu Kepala Sekolah SMA Galesha.
"Mampus. El, gara-gara lo, nih. Ya udah Sil, gue sama El ke ruang BP dulu lo masuk duluan gak apa-apa, 'kan?"
"Gak apa-apa, sorry ya gara-gara gue kalian jadi ikut kena masalah."

KAMU SEDANG MEMBACA
DARK FUTURE
Novela Juvenil|"Murahan lo!" | "bejad banget sih?"| Kata-kata komentar netizen itu selalu terngiang di kepala Sesilia Kirana gadis yang masih duduk di kelas 11 SMA yang membuat ia ingin mengakhiri hidupnya berkali-kali. Sampai akhirnya ia dinikahkan dengan laki-l...