Happy reading
Alis memperhatikan keadaan kafe yang sangat ramai. Bahkan Alis tak segan untuk membantu mengantar pesanan. Kafe ini adalah salah satu kafe milik Alis, yang kepemilikannya sengaja dirahasiakan. Hanya tangan kanannya dan bawahannya saja yang mengetahuinya.
"Ini pesanan untuk meja nomor berapa Nis?" Alis meraih nampan yang ada dihadapannya.
Anis menoleh dan tersenyum sopan kearah Alis. "Nomor 17 Mba." Anis menyahut.
"Biar aku yang antar." Alis pun membawa nampan tersebut dan menghampiri meja nomor 17. Ia meletakkan satu-persatu pesanan mereka.
"Selamat menikmati. Kalau ada yang kurang bisa panggil saya." Alis mengarahkan tangannya ke arah ruang dapur. Ia berbasa-basi dengan sopan disertai senyuman yang teramat kaku.
Hanya sebagai formalitas dalam melayani pelanggan
Bisikan hati Alis menggema.
"Mba boleh minta nomor handphonenya tidak?" Irfan tersenyum manis kearah Alis sambil sesekali melirik pada teman-temannya yang melotot padanya.
Alis melirik pada Irfan kemudian mengangguk. Ia memberikan nomor handphone pada Irfan.
"Makasih Mba." Irfan tersenyum sumringah.
Alis menganggukan kepalanya kemudian Alis berlalu untuk membantu mengantarkan pesanan untuk yang lainnya.
🖤🖤🖤🖤🖤
Sementara itu, Al tampak memperhatikan Alis sejak pertama kali datang ke meja mereka hingga Alis menghilang di balik tembok dapur. Al tampak terkejut dengan senyuman dan sapaan yang terbilang cukup sopan walaupun sangat kaku.
"Panjang umur dia, baru dibicarakan juga malah muncul kesini." Aldo meraih gelas jusnya dan menyedotnya.
"Gila! Ini nomor telpon kafe ini bukan nomor handphonenya." Irfan mendesah kecewa.
Seluruh sahabatnya tertawa. "Makanya jangan sok manis." Andra mencibir kearah Irfan.
Al tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Irfan.
"Ternyata dia bisa bicara juga dan tersenyum. Walaupun senyumnya sangat kaku. Tapi cukuplah buat beramah- tamah dengan pelanggan." Andra tampak menilai sikap Alis.
"Ada-ada saja kamu Andra, memangnya dia robot sampai senyum pun tak bisa." Irfan mencibir.
"Sayangnya dia pelit dan irit bicara." Irfan menerawang pada percakapannya dengan Alis tadi, yang sayangnya hanya ditanggapi Alis dengan anggukan saja."
"Bukannya ia di panggil dengan julukan 'Malaikat penjaga neraka. Itu kan artinya memang tidak pernah tersenyum, Fan." Andra semakin ngotot.
"Tapi tadi dia tersenyum kok." Andra tersenyum miring sambil menaik-turunkan alisnya.
Al hanya diam dan memperhatikan Andra dan Irfan. Ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Aldo tampak tidak perduli dan semakin asyik dengan makanannya sendiri.
"Cantik sih, cantik banget malah menurutku tapi sayangnya, tidak pernah tersenyum dan sangat jarang bicara lagi, cuma mengucapkan kata 'iya' saja ia tak mampu, hanya mengangguk." Irfan kembali membuka suara sambil menerawang mengingat ekspresi wajah Alis yang kaku dan sulit tersenyum.
"Mungkin dia lagi sakit gigi kali ya atau mungkin juga sariawan." Andra tampak tertawa dengan argumennya.
"Kok kalian dari tadi terus membicarakannya, sepertinya kalian sangat mengenalnya." Al menyindir mereka berdua, ia merasa jengah dengan topik pembicaraan mereka berdua, persis seperti ibu-ibu rumpi yang sedang membeli sayur kepada salah seorang paman sayur keliling.
"Kenapa malah bahas dia sih, itu urusannya sendiri. Tau !!!" Al tampak kesal.
Andra dan Irfan hanya menampakkan cengirannya.
"Karena hanya dia Al yang tidak terpesona dengan ketampanan kita ini." Irfan menjawab dengan santai.
Sementara Aldo hanya melongo ke arah mereka.
Mereka mengalihkanpembicaraan mereka dan meneruskan obrolan-obrolan ringan lainnya hingga terdengar tawa dari arah meja mereka.
🖤🖤🖤🖤🖤
Di meja lain tampak sepasang mata yang terus mengamati Alis dengan senyum miringnya. Bahkan ia juga sempat mendengar obrolan Al dan sahabatnya, karena meja yang di tempatinya tidak jauh dari meja Al dan sahabat-sahabatnya.
"Lis, andaikan aku bisa menolongmu waktu itu. Kejadiannya tidak akan seperti ini." Pemuda itu bergumam sambil menerawang ke masa lalu yang telah di alami Alis. Masa- masa sulit dan ketidakberdayaannya.
Penyesalan hanyalah tinggal penyesalan. Kejadian itu begitu membekas di hati Alis.
Alis pun seolah sudah menutup kejadian kelam waktu itu. Hingga beberapa orang dimasa lalunya bahkan sudah mulai di lupakannya.
Pemuda itu mendesah untuk meredakan gejolak sakit didadanya. Selama ini, ia terus mengawasi keberadaan Alis, dengan dirinya terjun langsung ataupun melalui orang-orang suruhannya. Ia tidak ingin muncul di hadapan Alis. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Keberadaannya yang tidak diketahui oleh Alis cukup membuatnya merasa bebas untuk mengikuti Alis kemanapun ia pergi. Anggap saja ia penguntit tapi itu memang kenyataannya.
Riyan Fawwaz Mumtazy nama pemuda tersebut dan biasa di panggil Riyan. Dia adalah saudara tiri dari Alis dan merupakan seorang ceo di perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan.
Mereka tumbuh bersama mulai dari Alis berusia 5 tahun. Bahkan mereka saling menyayangi layaknya saudara kandung.
Tiba-tiba dering ponsel Riyan menginterupsi. Riyan tampak mendesah dan menghentikan lamunannya. Ia melihat nama pemanggilnya kemudian menggeser tombol hijau pada layar handphonenya. Rupanya sang asisten yang memberitahukan tentang jadwal pertemuan dengan kliennya yang tidak jauh dari tempatnya berada sekarang.
Pria itu meminum kopinya dan memanggil waiters untuk membayar bilnya. Ia berlalu dari kafe tersebut.
Tepat saat ia ingin keluar kafe, tanpa sengaja ia menabrak seorang perempuan. Setelah meminta ma'af kepada perempuan tersebut ia bergegas menuju mobilnya.
Perempuan yang tidak sengaja ditabraknya tadi memperhatikannya dengan tersenyum manis bahkan ia memandang hingga mobil Riyan menghilang ditikungan jalan. Perempuan itu masuk kedalam kafe untuk mencari keberadaan sahabatnya.
🖤🖤🖤🖤🖤
Hai-hai...segitu aja dulu ya.
Gimana cerita aku, menarik ga. Ada yang penasaran nich sama kelanjutannya?
Oke, jangan lupa vote dan commentnya ya.
Lanjut part selanjutnya👌

KAMU SEDANG MEMBACA
Layangan Kertas ( Cinta Tak Biasa)
Ficção AdolescenteGadis dengan julukan 'Malaikat penjaga neraka' yang selalu menghindari keramaian juga senyuman. Dengan sisi keanehan. Jangan lupa vote and commentnya ya...