eight

1.6K 292 30
                                        

"seungmin mau pergi ke aussie besok,"

adalah ucapan hwang hyunjin sebagai kalimat pembuka begitu ia mendudukkan diri di salah satu kursi kafetaria, di mana dirinya dan bianca berjanji untuk saling bertemu. dua cangkir americano dan sepiring macaron menghiasi meja mereka.

beberapa menit yang lalu, hyunjin mengirimi pesan kepada bianca untuk bertemu dan membahas suatu hal yang penting. namun sedari tadi, mereka tak membicarakan apapun. seperti ada sebuah kecanggungan kental yang menyelimuti keduanya. bianca menjadi tak banyak bicara, seakan tahu ke mana hyunjin hendak membawa arah pembicaraan mereka.

dan benar saja. bianca harus menahan dirinya sendiri untuk tidak memaki pria di depannya ini. bianca marah. bianca kecewa, tapi ia tak punya alasan untuk marah dan kecewa kepada hyunjin. sejak awal, hubungan mereka memang telah dirancang menjadi seperti ini. menjadi topeng, menjadi tipuan untuk badutkan banyak orang. segalanya hanya untuk buat hwang hyunjin percaya bahwa kim seungmin hanya mencintainya seorang.

"dan besok juga, gue mau ngaku yang sebenernya ke dia. ngaku kalo beneran gak ada apapun di antara kita," ucap hyunjin lagi.

"oke, kan emang akhirnya bakal gitu. gue ikut, gue juga mau klarifikasi kalo gue bukan selingkuhan lo," sahut bianca coba untuk ulaskan senyum. benar, saat ini bukan waktunya untuk libatkan perasaan lama yang hendak ia perjuangkan. karena nyatanya, hyunjin tidak akan pernah menjilat ludahnya sendiri.

pria itu, mempunyai prinsip untuk tidak lagi menaruh perasaan kepada mantan kekasihnya.

"sorry bi, gue manfaatin kebaikan lo kayak gini," si pria mendesah frustrasi.

jujur, hyunjin melakukan ini hanya sebagai bentuk kecemburuan. ia telah menjadi kekasih seungmin selama setahun, tetapi pria itu bahkan tampak lebih memprioritaskan orang lain dibanding dirinya. minho dan changbin, dua orang yang selalu saja berhasil buat senyum seorang kim seungmin melebar otomatis hanya karena sebuah candaan garing, dan selalu berhasil naikkan kecemasan hanya bila keduanya sedang dalam masalah.

hyunjin tahu caranya salah. ia selalu dapati airmata seungmin mengalir saat dirinya sedang bersandiwara dan luapkan emosi saat prianya justru mengeluh kepada pria lain. hyunjin terlalu mencintai seungmin sampai ia tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkannya tanpa menyakiti.

"it's okay. gue boleh jadi cinta pertama lo, tapi seungmin orang terakhir yang ada di hati lo. jaga dia jin, gue nyesel bikin orang kayak dia sakit hati," bianca kembali tersenyum, sebelum habiskan sisa americano-nya dalam sekali teguk. "and goodbye, hyunjin. makasih buat semuanya."

hyunjin baru bisa menghela napas lega setelahnya. ia bisa melihat punggung sempit milik bianca menjauh dari kafetaria dan ia merasa sangat bersalah. gadis itu terlalu baik, bahkan sampai mau mengorbankan perasaannya hanya untuk sandiwara tak masuk akal yang ia ciptakan.

hyunjin baru beranjak untuk pergi setelah ia membayar semua pesanannya. kaki-kakinya baru saja hendak melangkah ke pintu keluar ketika ada seseorang yang familiar masuk saat itu juga. hyunjin tentu mengenalnya dengan baik. seo changbin, orang yang ia cemburui selama ini.

"bajingan lo!"

dan tahu-tahu, tubuh hyunjin sudah terhuyung akibat pukulan telak changbin di mukanya. menarik perhatian seluruh pengunjung dan berbuah pekikan kaget. hyunjin ingin marah sebab changbin memukulnya tanpa sebab, tapi ia segera mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan saat pria seo itu kembali bersuara.

"seungmin bela-belain malem-malem nyari lo, dan taunya lo malah pacaran sama selingkuhan? bajingan!"

\\

𝗹𝗶𝗲. #𝟭 ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang