Part 8

4.4K 116 14
                                        

Zara POV

Ku duduk termangu di bawah pohon rindang di tepi danau tak jauh dari rumah. Aku sering ke sini karena suasana nya yang hijau dan sejuk. Aku amat senang saat pertama kali Mama membawa ku ke danau ini. Mama bercerita bahwa ini adalah tempat favorit Kak Karim dengan almarhum adiknya untuk melukis.

Ku tatap layar ponsel ku. Lagi-lagi aku dibuat kesal. Ku tarik nafas dalam-dalam kemudian ku putuskan mengirimi pesan sekali lagi sebelum kembali ke rumah karena hari sudah semakin siang.

To : Kak Karim

Kak, kita harus bicara.
Tolong telpon aku jika kakak sudah tidak sibuk.

Send

Ini sudah kesekian kalinya aku mengirimi Kak Karim pesan melalui WhatsApp. Pesan ku sudah dibaca.  Namun, tidak satu pun ada balasan darinya. Dan sudah ribuan kali aku menelponnya, tapi selalu di reject. Aku sampai lelah diacuhkan seperti ini.

Sudah 2 bulan Kak Karim ke Surabaya untuk project konstruksi barunya. Dia memang seorang yang pekerja keras. Sama seperti Papa. Like father like son.

Aku tidak masalah jika dia pergi untuk waktu yang lama pun. Meski aku amat merindukannya, aku tidak akan menggangunya dengan mengirimi seribu pesan yang tidak pernah mendapat balasan. Jika saja dia tidak menyetujui permintaan Mama.

Ya. Mama bercerita bahwa Kak Karim akhirnya setuju dengan permintaan Mama untuk menikah dengan ku. Hal ini disampaikan Kak Karim sebelum pergi ke Surabaya. Kalian tahu bagaimana reaksi ku mendengar berita ini? Terkejut sangat. Entah aku harus gembira atau sedih mendengarnya. Bukankah seharusnya aku gembira? Hati kecil ku mungkin bersorak gembira karena impian masa kecil ku bisa terwujud. Tapi, aku ingin menikah dengan orang yang mencintai ku.

Aku tahu kalau Kak Karim tidak mencintai ku. Dia membenci ku tepatnya. Lalu mengapa Kak Karim menyetujui permintaan Mama? Inilah yang ingin ku tanyakan padanya. Aaahhg. Memikirkan hal ini sungguh membuat ku pusing.

Bagaimana tidak dibuat pusing dengan Mama yang menjadi sibuk mengurusi persiapan pernikahan kami. Ya Mama sibuk mendiskusikan rancangan pernikahan kami dengan wedding organizer pilihannya sejak Kak Karim menyetujui rencana pernikahaan kami. Papa dan Mama sudah memilihkan tanggal pernikahan kami.

Sesampainya di rumah..

Lihat saja sekarang. Apa yang dilakukan Papa dan Mama? Papa duduk disofa ruang keluarga sibuk mengetik daftar nama tamu undangan yang akan mendapatkan surat undangan pernikahan kami. Dan Mama ikut mendikte nama-nama tamu yang tertulis di buku catatan.

"Pah, Mah, ini sudah waktunya makan siang. Apa kalian akan duduk di situ seharian? Ayo makan dulu." Aku membujuk agar mereka tidak keletihan.

"Hey, ini sudah jam makan siang? Wah ternyata kami lupa waktu." ucap Papa.

"Kenapa Mama dan Papa harus repot-repot seperti ini?"

"Ah, sayang. Kami ini sangat bahagia melakukan persiapan pernikahan kalian. Iya kan Pah?" Jelas Mama.

"Benar sekali, Princess. Papa dan Mama pastikan pernikahan kalian akan menjadi moment yang sangat indah."

"Lalu bagaimana kalau Kak Karim tidak setuju dengan semua konsep yang sudah dirancang?" tanya ku.

"Tenang saja sayang. Mama punya cara untuk membujuknya."

"Hmmm.." Aku benar-benar ragu akan hal itu.

Krruuk krrruuuk tiba-tiba perut ku bersuara.

"Ayo kita makan sekarang. Cacing diperut Zara sudah berdemo minta diberi makan tuh. Hahaha." Ajak Papa sambil tertawa yang kemudian diikuti tawa Mama. Aku jadi malu karenanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 01, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Devil BrotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang