|4| Saka

42 6 0
                                    

#Backsound : Punch - Yesterday | Piano Cover|

#Tekan bintang terlebih dahulu sebelum membaca ya - cuma ngingetin kok :)

Selamat membaca💚





Selamat membaca💚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

✓✓✓

Ratna perlahan melepaskan tangannya yang sejak tadi melingkar di perut Saka. Wajahnya yang basah oleh air mata tak bisa dia sembunyikan. Apalagi matanya sudah sembab dan memerah.

Saka terlihat begitu khawatir, tampak jelas di wajah yang dahinya terus mengerut itu jika dia tidak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya.

Kala itu kami berada di dalam mini market yang hanya ada kami saja disana. Saka menyuruhku duduk terlebih dahulu agar aku bisa bercerita dengan tenang. Dia juga memberiku sebotol air mineral yang sudah ku teguk tiga kali.

Tapi aku tetap tidak bisa menceritakan semuanya kepada Saka. Napasku masih tersenggal-senggal hingga terasa sakit sekali di dada.

Perlahan, Saka mencoba mengerti posisiku. Dia tidak memaksa agar aku bercerita, katanya sekarang yang terpenting adalah aku tenang.

"Lo udah makan?" Tanya Saka kepadaku yang masih loading ter- hah- heh.

Beberapa detik kemudian aku menggeleng pelan.

"Gue pernah baca artikel cara mengembalikan mood seseorang, salah satunya dengan makan." Terangnya.

"Lo mau makan apa, Sosis bakar? Mie rebus? Cireng? Cilok? Atau Colek?" Sekarang dia sedang menggodaku. Aku memang mudah luluh dengan makanan karena aku terbiasa tidak makan secara rutin.

Tanpa disadari sudut bibirku terangkat hingga Saka yang mengetahuinya semakin menggodaku karena aku sudah mau tersenyum.

"Gue pengen jalan sama lo," pintaku spontan.

Tanpa berpikir lama Saka mengiyakan ajakanku, "Oke, gue tutup toko dulu tapi."

Saka beranjak dari duduknya, dia merapikan beberapa barang kemudian menyimpan uang yang ada di dalam mesin kasir.

Lelaki itu mengunci pintu mini market. Aku pikir aku terlalu manja kepada Saka. Kami hanya berteman tapi sikapku memanfaatkannya seolah dia adalah seorang pacar.

Kedua mata lelaki itu berkeliling, "Gimana kalo naik sepeda? Kebetulan ada sepeda di gudang toko." Tawarnya.

Aku menatapnya tajam, "Emang lo bisa bawa sepeda?"

Dia menyeringai, "Ya bisa lah, kalo nggak bisa ngapain gue tawarin."

"Oke, gue mau. Lagipula angin sore kalo dinikmati dengan sepedaan juga jadi lebih berkesan."

Saka mengacak-acak puncak rambutku, "Iya tuan putri." Dia pergi sedikit berlari ke gudang.

Kring.. kring..

Beberapa saat kemudian Saka datang menghampiriku dengan membunyikan bel sepeda yang dia naiki.

Aku duduk di kursi boncengan, tepat di belakang punggung lebar Saka yang kata cewek-cewek sekolah beraura menggiurkan.

"Pegangan." Pintanya kepadaku.

Aku berpegangan pada kaos Saka tanpa mengenai tubuhnya.

"Yakin pegangan di kaos? Nanti kalo kaos gue molor gimana?"

Tanpa berkata, aku memindahkan tanganku yang semula menjimpit di kedua sisi kaos menjadi memeluk lingkar perut Saka.

"Oke kita berangkat sekarang," Saka mulai mengayuh pedal sepeda itu hingga akhirnya kami berboncengan bersama di sore hari ini.

Jalanan terasa ramai lalu lalang kendaraan roda empat, karena jam sudah menunjukkan waktu dimana para pekerja pulang ke rumahnya. Walau begitu berboncengan begini rasanya menenangkan. Seperti hanya aku dan Saka saja yang berada di dunia ini.

Tempat tinggal kami berbatasan langsung dengan Sungai Lotus. Sungai yang dipenuhi bunga teratai pada musim-musim tertentu. Di sepanjang jalan jika kita melihat ke arah barat maka akan terpampang pemandangan sungai yang begitu luas dan berkilau. Apalagi jika datang di waktu menjelang matahari terbenam seperti sekarang. Rasanya seperti melihat matahari itu turun ke bawah laut secara perlahan.

"SAKA!" Teriakku yang spontan membuat Saka menghentikan sepedanya hingga kita sedikit oleng.

Saka menoleh ke arahku dengan wajah kagetnya, "Ada apa? Ada yang salah sama lo?"

Aku menggeleng dan tak terasa mulutku ikut terbuka lebar hingga area mataku berkerut, "Enggak kok, makasih ya lo udah jadi temen gue selama ini."

Dia tersenyum, "Apa sih yang enggak buat majikan gue ini," candanya.

"Oke, pengawal mari kita lanjutkan perjalanan!" Candaku.

"Baik tuan putri," Saka membuat suara desisan seolah-olah kami sedang meluncur bersama.

Kami berhenti sejenak di tepi jalan karena aku kasihan pada Saka yang telah mengayuh sepeda lumayan jauh dengan aku yang tidak ringan ini membonceng di belakang. Sungai Lotus masih menyajikan pemandangan senja nya.

Aku berjalan ke tepi sungai untuk melihat lebih jelas panorama yang mengajakku bergabung sejak tadi. Di atas rerumputan hijau aku duduk sembari menutup mataku. Merasakan betapa baiknya Tuhan memberikan udara yang membuatku bisa bernapas sampai sekarang. Suara burung yang bersenandung di atas sungai yang tenang. Hingga suara beberapa mobil yang melintas.

Meskipun aku hidup dalam keadaan keluarga yang tidak bahagia, tapi di saat seperti ini aku merasa jika hidupku berarti lebih banyak. Aku merasa lebih tenang dengan semua yang menemaniku disini. Suara air, burung, semilir udara malam yang akan menyambut, dan juga lelaki yang terus menemaniku tak peduli jika dia harus bersusah payah untukku.

"Gimana? Udah baikan?" Saka ikut duduk di sebelahku, dia juga ikut memejamkan matanya.

"Sekarang gue nggak tau kata apa yang pas gue ucapkan untuk mengungkapkan kebahagiaan gue saat ini."

"Padahal gue cuma ngajak lo sepedaan," Saka membuka matanya dan melirik ke arahku.

"Hal sederhana yang selalu lo kasih buat gue, lebih mahal artinya dari apapun di dunia ini." Balasku.

Dia tersenyum lagi, senyumnya seperti candu. Aku tak berniat untuk memiliki perasaan kepada Saka, tapi Saka selalu menjadi tujuan pertamaku saat aku sedang tidak baik-baik saja. Apa aku menyukainya?

Mungkin aku akan diam sampai aku benar-benar mengetahui bagaimana perasaanku pada dia.

••

Lekuk wajah Saka jika dilihat dari samping seperti sebuah pahatan karya seni. Tidak heran jika di sekolah dia mendapat perhatian banyak gadis.

Kebaikannya kepadaku juga tidak terhitung banyaknya. Aku sangat bahagia karena Saka lah orang yang berada di dekatku. Dia begitu baik hingga aku banyak berhutang budi kepadanya.

Dan tanpa kusadari aku memberikan ciuman kecil di pipi kirinya. Aku anggap ini sebagai ungkapan terima kasih karena dia selalu ada di sampingku.

Dia menoleh ke arahku dengan reaksi yang kaget setengah mati. Matanya menjadi lebih lebar dari sebelumnya.

Aku yang tidak sadar atas apa yang aku lakukan barusan hanya bisa berucap, "Maaf."







Ratna Ayudia
Arsaka Hanggana

To Be Continued-

#Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan nama, tempat, dan kejadian mohon dimaafkan :)



Senyummu yang BerkabutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang