Part 8

54 4 0
                                        

Entah apa yang merasuki pikiran Radafa kemarin malam, dengan mudahnya Radafa mengiyakan permintaan Rain untuk mengantarnya pulang lagi. Padahal sewaktu pulang sekolah kemarin ia hanya merasa kasihan karena Rain masih berdiri di depan gerbang sekolah, tidak ada niat lebih.

"Bodoh banget gue." Rutuk Radafa pada dirinya sendiri.

Sampai di kelas Radafa sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya pening. Yap, apalagi kalau bukan kegaduhan. Banyak orang  beripikir bahwa kelas IPA 1 adalah kumpulan dari murid cerdas dan selalu serius, di sini Radafa tidak bisa membuktikan itu semua, kenyataannya murid di kelasnya jauh dari kata itu. Menurut Radafa, dia seperti berada di kelas XI IPS 3 yang dikenal seantero sekolah sebagai kelas keributan.

"Selamat pagi Radafa." Ucap Rain saat Radafa melewati tempat duduknya. Namun, Radafa masih tetap acuh terhadap Rain.

"Radafa, ini bekal buatan Rain tolong dimakan ya. Hari ini dan seterusnya Rain ga nerima penolakan dalam bentuk apapun dari Radafa." Tegas Rain seraya memberikan kotak bekal  pada Radafa.

Prok prok prok

Suara tepuk tangan membuat Radafa dan Rain menoleh ke arah tersebut." Cieee.... udah jadian nih ceritanya?" Tanya Varo dengan nada menggoda.

Rain menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung. "Jadian itu apa?"  Tanya Rain dengan polos.

Pertanyaan Rain sontak saja membuat Varo tertawa. "Hahahahahaha... Rain lo beneran gatau?" Varo mengintrogasi. Sementara Rain menggeleng pelan sambil menatap Varo bingung.

"Varo kenapa ketawa? Emang Rain lagi ngelawak ya?"

Varo mengusap air matanya karena ketawanya tadi terlalu berlebihan. "Gini ya Rain gue kasih tau. Jadian itu..." Baru saja Varo akan menjelaskannya Radafa tiba tiba menarik tangan Varo secara kasar. "Var, ikut gue ke luar." Kata Radafa, mau tak mau Varo menurutinya.

"Lho, Varo belum selesai ngejelasinnya. Radafa emang nyebelin." Ucap Rain kesal.

"Daf Daf, apaansi lo gajelas banget." Ujar Varo saat mereka sudah berada di luar kelas.

*Lo yang gajelas, gak usah aneh aneh ngajarin Rain yang ngga ngga." Balas Radafa dingin.

" Varo tersenyum miring. Lo suka sama Rain ya? "

" Ngga." Radafa pun berlalu meninggalkan Varo.

Varo menyusul Radafa, kini mereka berjalan beriringan." Tenang deh bos, gue gabakalan ngomong yang aneh aneh sama calon pacar lo. "

Jam pelajaran pertama di mulai, semua murid mengikutinya dengan khusuyk karena mereka tahu ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia, haram hukumnya jika ada satu murid yang tertidur atau tidak memperhatikan Pak Mansyur, satu kelas akan mendapatkan hukumannya.

"Nah, jadi itu penjelasan mengenai teks eksplanasi. Sekarang tugas kalian mencari contoh teks eksplanasi dari sumber manapun setelah itu tentukan mana pernyataan umum, sebab akibat dan interpretasinya. Jika ada yang sudah selesai, kumpulkan secepatnya di meja. Kerapihan dan kecepatan kalian menjadi nilai tambahan." Jelas Pak Mansyur." Kalian mengerti?"

" Mengerti Pak." Jawab murid.

Tok tok tok

" Perimisi Pak, maaf menganggu saya mau memanggil Radafa Alfaried Rayhan dan Rain Bowie." Ucap bu Menik, selaku guru Fisika.

" Silakan Bu." Sahut Pak Mansyur ramah.

Radafa dan Rain pun keluar kelas dan mengikuti arahan Bu Menik. Sesampainya di ruangan berukuran 9m x 8m yang selalu digunakan untuk kelas tambahan bagi yang mengikuti lomba akademik ini Radafa dan Rain melihat sudah ada 2 siswi dan 1 siswa yang duduk di sana.

Rain BowieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang