Gerakan pelan itu mengganggu sosok yang sedari tadi tertidur, ia perlahan membuka kedua kelopak matanya, hal pertama yang ia dapati adalah sosok Krist. Pria itu duduk di samping tempat tidur, ia memeras handuk kecil pada baskom yang terletak di atas meja, sebelum sesuatu yang hangat menyapa permukaan tubuh Singto.
Singto memegangi kepalanya yang terasa berat dan berdenyut, tangannya langsung menampik apa yang Krist lakukan.
"Kau demam, tubuhmu sangat panas."
"Itu bukan urusanmu. Lebih baik kau pergi, aku tidak apa-apa."
"Aku tidak akan pergi."
"Jangan menggangguku."
"Aku hanya ingin merawatmu, ini bukan sebuah gangguan. Phi Sing, apa menyentuhmu saja aku tidak punya hak untuk itu? Biarkan aku di sisimu."
"Kau tidak mengerti, kau justru memperumit keadaan."
"Apa yang aku tidak mengerti? Kau yang marah? Menjauhiku? Tak memperbolehkan aku bersama anak-anak? Mengusirku dari sisimu? Kurang mengerti apa aku?"
"Aku memperingatkanmu, pergilah!"
Krist menggelengkan kepalanya, ia tetap duduk di samping Singto dan memegang tangan pria itu, meskipun pria tadi sempat menepisnya berkali-kali. Krist merasa ingin di sini, tidak peduli apapun yang terjadi nanti. Sementara Singto hanya menatap sosok itu dalam diam. Ia menghembuskan napas beratnya.
"Pergilah, menjauh dariku."
"Tidak. Aku tidak ingin menjauh ataupun pergi. Aku ingin di sini, bersamamu."
"Tapi tempatmu bukan di sini."
"Apa maksudmu, Phi Sing?"
Singto hanya menggelengkan kepalanya, ia menarik Krist untuk mendekat kearahnya dan mendekapnya dengan erat.
"Aku tidak mau kehilanganmu lagi."
Ia sudah mencoba mendorong pria itu pergi, ia sudah berusaha untuk melepaskan sosok seseorang yang dirinya rengkuh kali ini, jadi apa ia bisa egois sekali saja, tetap menahannya di sisinya. Meskipun Singto tahu ini salah. Dirinya tak punya hak untuk menahan, ia cukup tahu diri akan tetapi rasanya segalanya sudah berubah menjadi aneh.
Sudah lama, ia meyakini jika dirinya baik-baik saja. Menyakinkan diri kalau sudah bisa melupakan dan menghapus luka. Namun, nyatanya ketika sosok itu datang segala pertahanannya runtuh.
Jika ia bisa memutar waktu, Singto akan memilih segalanya berhenti di masa itu ketika semuanya baik-baik saja dan Krist tak pernah meninggalkannya. Krist tidak memilih untuk pergi. Mungkin bukan akhir ini yang ia miliki kini.
Tetapi Singto masih pria itu. Sosok yang hanya bisa terdiam, membiarkan tangan seseorang yang menggenggamnya terlepas tanpa bisa ia raih lagi. Membawanya pada titik ini, labirin kelabu aneh yang menjebaknya serta pikirannya. Singto tidak bisa keluar meskipun ia ingin, akhirnya ia hanya bisa menarik seseorang untuk bersamanya.
"Jika kau tidak mau aku meninggalkanmu. Harusnya kau tidak bersikap seperti ini, terus mengusirku, terus bersikap dingin dan bersikap aku tidak berarti apapun untukmu."
"Aku tidak memiliki pilihan apapun."
"Aku akan membuat pilihan mudah untukmu. Apapun yang terjadi jangan lepaskan aku."
"Bagaimana jika kau yang justru suatu saat nanti memilih untuk meninggalkan aku?"
"Aku punya 1000 alasan agar tetap di sisimu."
Singto tak menjawabnya, ia hanya semakin merengkuh sosok di sampingnya erat, seolah tak ingin melepaskannya. Bersikap jika ia tak bisa jika Krist tidak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Shades Of Gray [ Peraya ]
Fanfic[ Completed ] Percayakah kau pada takdir? Percayakah pada sebuah janji dan keajaiban? Bagi Singto kepergian Krist yang mendadak itu, menimbulkan luka yang sulit untuk di sembuhkan pada dadanya, akan tetapi bagaimana jika sosok yang ia yakini pergi...
![The Shades Of Gray [ Peraya ]](https://img.wattpad.com/cover/209486702-64-k208062.jpg)