💜Happy reading💜
***
Bi Ade berdiri di depan rumah, Zayn di gendongannya tengah menangis. Wanita paruh baya itu tak sabar menunggu kedatangan Arya, langkahnya yang tak lagi gesit dipaksa untuk berjalan kesana-kemari demi menenangkan Zayn.
Penantian itu terbayarkan ketika mobil sedan memasuki kawasan rumah. Arya mengerem cepat, tergesa meraup tubuh anaknya. Kania juga menghampiri, memegang dadanya karena iba.
"Tenang, sayang. Papa udah pulang, Papa di sini, Zayn jangan nangis lagi, ya?"
Zayn mengerling pada Kania, tangannya terulur pada cewek itu. Kania jelas tahu apa maksud si bayi, yang tak lain adalah ingin digendong. Masalahnya di sini, Kania sedang jual mahal. Dia mengalihkan pandangannya, seolah-olah tidak tahu apa-apa.
"Kenapa masih nangis, sayang?" Suara Arya bergetar. "Papa udah gendong Zayn."
Selain Kania, Bi Ade juga dapat membaca situasi. Sebagai orang yang sangat berpengalaman tentang anak-anak, dia tak asing lagi dengan kode yang diberikan Zayn. Bi Ade menyenggol siku Kania. Wajahnya mengiba, memelas.
"Apa, Bi?" Kania masih mempertahankan kepuraannya.
Bi Ade menunjuk Zayn dengan dagunya.
Arya masuk ke dalam rumah, tangisan Zayn terdengar menggema. Pemandangan seperti itu sudah jadi kebiasaan bagi para maid. Mereka juga merasakan hal yang sama, kasihan. Tapi diantara mereka semua tak mumpuni menaklukkan si Tuan Muda.
"Bi, Zayn udah minum susu?" Arya melupakan kehadiran Kania, terlalu sibuk mengurus anaknya.
"Udah, Pak," jawab Bi Ade mengangguk kecil. Lirikannya jatuh pada Kania lagi, sedikit mendorong punggungnya.
"Saya harus apa, Bi?" Kania berucap pelan. "Saya bukan pengasuhnya, nanti Bapaknya sensi kalau anaknya digendong. Katanya saya itu pembawa sial."
"Tolonglah, Kania. Zayn mungkin bisa diam sama kamu, dulunya gitu, kan? Coba kamu gendong dia, kasihan dia nangis terus. Kalau Zayn sakit gimana? Kamu nggak merasa bersalah?"
Kania terusik. Seakan dia yang bersalah jika bayi mungil itu mendapat musibah.
"Ayo, Kania. Gendong." Bi Ade mendorong lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Zayn mengulurkan tangannya lagi, matanya fokus pada Kania. Arya pun melirik sebentar, teringat fakta bahwa cewek itu cukup handal.
"Pak, boleh saya gendong Zayn? Siapa tahu dia bisa tenang." Agak sungkan Kania menawarkan dirinya.
Arya langsung menyodorkan Zayn tanpa kalimat apa-apa lagi. Egonya tidak lagi mendominan, hancur lebur akibat tangis anaknya.
Butuh waktu beberapa detik sampai tangis menggelegar itu reda. Zayn bahkan dapat mengukir senyum. Jemarinya menyentuh pipi Kania, mulutnya bergerak-gerak seakan ingin berbicara. Arya takjub sekali, belum pernah dia menemukan seorang pengasuh yang sangat berarti untuk Zayn.
Arya meneliti saksama. Kania jauh berbeda dengan almarhum istrinya. Meski keduanya sama-sama cantik, namun dalam kepribadian bagaikan langit dan bumi. Mila tidak banyak tingkah, dia kalem, ramah. Sedangkan Kania? Dia bisa menghancurkan bangunan dengan suaranya, ia juga sangat rusuh.
Lalu apa yang jadi penyebabnya? Kenapa Zayn bisa luluh pada seorang Kania?
"Kamu hebat, Kania." Bi Ade memberikan dua jempol, senyumnya mengembang.
"Makasih, Bi. Tapi ... saya nggak bisa lama-lama di sini. Saya harus cari PEKERJAAN." Kania sengaja menekankan kata di akhir kalimat.
Arya diam, tepekur.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Papa Hunter [Completed]
RomancePeringkat 1 Romance (22-04-2021) Arya Hermawan adalah seorang duda beranak satu. Meskipun begitu, ketampanannya banyak memikat wanita. Dari semua kalangan, baik wanita yang setara dengannya dan wanita yang masih sangat muda. Tetapi ... Arya tidak pe...
![The Papa Hunter [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/201792505-64-k540584.jpg)