13. Pengakuan

44K 3.3K 94
                                        

💜Happy reading💜

***

Ruang keluarga jadi sedikit berisik.

Kania duduk di karpet bersama Zayn, mereka sedang bermain-main. Bayi mungil itu lebih banyak berceloteh sekarang, ia benar-benar menganggap Kania sebagai ibunya.

Bi Tuti datang membawa makanan, dia meletakkan nampan di atas meja bundar. Terlihat sangat menggiurkan. Kania menghirup bau makanan sembari memejamkan mata, perutnya tak sabar untuk diisi.

“Makan yang banyak, Nak. Kamu pasti lapar udah seharian ini jagain Zayn.” Bi Tuti lekas pergi karena tuntunan pekerjaan, di dapur ada banyak cucian yang menumpuk.

Kania langsung menyerbu cepat, dia bergumam panjang, lidahnya terasa dimanjakan.

"Surga duniawi...."

Zayn mengamati, gusinya yang belum berpenghuni menyapa lagi. Dia tersenyum hanya karena melihat Kania makan.

“Apa, sayang? Mau makan juga?” tanya Kania. Diraihnya botol susu di ata meja lalu memberikannya pada Zayn. Sesuai dugaan, si mungil menyedot semangat.

“Kania….” Bi Ade membawa album foto. Ukurannya cukup besar dan tebal. Warnanya polos, ditengahnya terdapat ukiran bunga.

“Ini punyanya siapa, Bi?”

Album diletakkan di karpet, Bi Ade membuka halaman pertama. Di sana tercetak jelas sepasang kekasih berbalut busana pengantin. Kania menelan makanannya berat, selera makannya hilang. Kania lebih asyik memperhatikan foto tersebut.

“Ini ibunya Zayn, namanya Mila. Cantik, kan?” Bi Ade mengelus permukaan foto, wajahnya berubah sedih.

“Iya, Bi. Cantik banget. Mukanya tenang banget, adem lihatnya.” Kania berdecak kagum. Dibanding dirinya, Mila jauh lebih cantik. Kania mengakui keindahannya, wanita yang telah melahirkan Zayn itu memiliki pesona yang luar biasa.

“Ini alasannya kenapa Pak Arya nggak mau nikah dulu, dia belum bisa lupain Mila. Entah sampai kapan kayak gitu.”

Kania mengaku kalah pada egonya, pada pendirian hatinya. Ia tak sanggup melawan keajaiban dunia, dia selalu terpenjara dalam bayangan Arya Hermawan.

Jadi….

Kania kembali pada peradaban. Dimana dia sangat mengagumi sosok itu. Terlena hanya karena tatapan sederhana. Terbuai dengan paras yang melebihi takaran. Intinya, Kania menginginkan Arya kembali!

Ya, cinta memang begitu, aneh!

“Bi, Mila itu orangnya kayak gimana?” Kania duduk bersila, otaknya siap mencatat.

“Bu Mila itu baik banget, Kania. Dia sering ajak saya belanja bareng, beliin orang-orang di sini baju. Dia juga orangnya nggak pelit, penyayang, perhatian sama semua orang, dia nggak pandang derajat. Di matanya, semua orang sama.”

“Hm … Mila ini kebiasaannya apa aja, Bi?”

Bi Ade melirik ke atas, mengingat. “Bu Mila itu sering bangun pagi, pukul lima. Dia kadang bantu-bantu beresin rumah. Dia juga yang siapin sarapan. Pak Arya suka banget sama masakannya. Enak!”

Kania melirik Zayn sebentar, tak menduga bahwa bayi itu tertidur pulas. Waktunya semakin banyak untuk mengulik kisah hidup Mila. “Emang dia masak apa, Bi? Sampai Pak Arya suka?”

“Masakan sederhana, kok. Cuma tempe sama tahu.”

“Nggak ada yang spesial, Bi? Masa cuma itu doang?”

“Sama sayur asem, Pak Arya suka banget makan itu. Dia pasti nambah berkali-kali, apalagi kalau yang masak itu istri tercinta. Lima piring pun bisa disikat habis!”

The Papa Hunter [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang